Aliran Pemikiran Filsafat

Aliran Pemikiran Filsafat

ALIRAN UTAMA PEMIKIRAN FILSAFAT

Aliran Pemikiran Filsafat

 

Rasionalisme

Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan oleh kelemahan indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan. Fungsi pancaindera adalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akal menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.

Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide. Kebenaran mengandung makna ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan,

Descartes seorang pelopor rasionalisme, tidak ragu bahwa ia ragu. Kebenaran adalah cahaya terang dari akal budi sebagai hal-hal yang tidak dapat diragukan. Ide adalah bukanlah ciptaan manusia, fungsi pikiran manusia hanyalah untuk mengenali prinsip-prinsip tersebut lalu menjadikannya pengethuan.

Kelemahan rasionalisme adalah criteria untuk mengetahui kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang jelas tetapi menurut orang lain tidak. Jadi masalah utamanya adalah evaluasi kebenaran dari premis-premis yang digunakan.

Empirisme

Empirisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Empeirikos artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Namun hasil tangkapan inderawi masing-masing individu dapat berbeda karena terbatas pada sensiblitas organ-organ tertentu.

Aliran empirisme memandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.

Contoh : Bagaimana orang mengetahui bahwa e situ dingin. Seorang empiris  akan mengatakan bahwa “karena saya merasakan hal itu. Dalam pernyataan tersebut terdapat tiga unsur yaitu : Mengetahui (subjek), yang diketahui (objek), dan cara dia mengetahui (metode).

John Locke (1632-1704), bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan kosong). Maksudnya manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalaman mengisi jiwanya, maka ia kemudian memiliki pengetahuan.

David Hume menyatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Berdasarkan teori ini, akan hanya mengelola konsep gagasan inderawi, menyusun atau membagi-baginya. Jadi dalam empirisme, sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari pancaindera.

 

Kelemahan aliran empirisme antara lain :

  1. Indera terbatas, benda yg jauh kelihatan kecil ternyata tidak.
  2. Indera menipu, pada org yang sakit demam, udara akan terasa dingin.
  3. Objek menipu misalnya pada fatamorgana atau ilusi
  4. Berasal dari indera dan objek sekaligus. Misalnya mata tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan.

 

 

Idealisme

Ajaran idealism menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses-proses mental atau psikologis yang bersifat subjektif. Oleh karena itu pengetahuan menurut teori ini tidak menggambarkan hakikat kebenaran, yang diberikan oleh pengetahuan hanyalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang (subjek).

Idealism subjektif akan menimbulkan kebenaran yang relative karena setiap individu berhak menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya, sehingga kebenaran universal tidak diakui. Oleh karena itu kebenaran agama dan aturan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok lain.

 

Sumber : https://seputarilmu.com/