Faktor Intern Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia

Faktor Intern Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia

Faktor Intern Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia
Faktor Intern Munculnya Pergerakan Nasional Indonesia

a. Sejarah Masa Lampau yang Gemilang

Indonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahitdan Sriwijaya. Kedua kerajaan tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai negara nasional yang daerahnya mencakup hampir seluruh Nusantara.

Kebesaran ini membawa pikiran dan angan-angan bangsa Indonesia untuk senantiasa sanggup menikmati kebesaran itu. Hal ini sanggup menggugah perasaan nasionalisme golongan berakal pada dekade awal.

b . Penderitaan Rakyat Akibat Penjajahan

Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan semenjak masa Portugis. Politik devide et impera, monopoli perdagangan, sistem tanam paksa, dan kerja rodi merupakan tragedi bagi rakyat Indonesia.

Penderitaan itu menjadikan rakyat Indonesia muncul kesadaran nasionalnya dan mulai memahami perlunya menggalang persatuan.

Atas prakarsa para kaum intelektual, persatuan itu sanggup diwujudkan dalam bentuk usaha yang bersifat modern. Perjuangan tidak lagi memakai kekuatan senjata tetapi dengan memakai organisasi-organisasi pemuda.

c . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia

Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak sanggup dipisahkan dari politik etis. Ini berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang terjadi di negeri Belanda. Tekanan tiba dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada van Deventer.

d . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia

Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam. Ada tiga macam jenis pendidikan Islam di Indonesia yaitu pendidikan di surau atau
langgar, pesantren, dan madrasah.

Walaupun dasar pendidikan dan pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama Islam, mata pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh. (https://blog.fe-saburai.ac.id/jenis-dan-contoh-jaringan-tumbuhan/)

Usaha pemerintah kolonial Belanda untuk memecah belah dan Kristenisasi tidak bisa meruntuhkan susila dan doktrin para santri.

Tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pejuang muslim pun bermunculan dari lingkungan ini. Banyak dari mereka menjadi pelopor dan tulang punggung usaha kemerdekaan.

Rakyat Indonesia yang lebih banyak didominasi ialah kaum muslim ternyata merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat nasionalisme Indonesia.

Para pemimpin nasional yang bercorak Islam akan sangat gampang untuk memobilisasi kekuatan Islam dalam membangun kekuatan bangsa.

e. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia

Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam pendidikan kolonial dan tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan, mendorong kaum berakal untuk mendirikan sekolah untuk kaum pribumi.

Sekolah ini juga dikenal sebagai sekolah kebangsaan alasannya ialah bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat dan mencetak generasi penerus yang berakal dan sadar akan nasib bangsanya.

Selain itu sekolah tersebut terbuka bagi semua masyarakat pribumi dan tidak membedakan dari kalangan mana pun.

Tokoh-tokoh pribumi yang mendirikan sekolah kebangsaan antara lain Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, Douwes Dekker mendirikan Ksatrian School, dan Moh. Syafei mendirikan sekolah tinggi Indonesische Nederlandsche School Kayu Tanam (INS Kayu Tanam).

f. Dominasi Ekonomi Kaum Cina di Indonesia

Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum pedagang Cina semakin menciptakan kesal para pedagang pribumi. Puncak kekesalan kaum pedagang pribumi terjadi saat keturunan Cina mendirikan sekolah tinggi sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada tahun 1901.

Kekesalan tersebut diciptakan oleh Belanda untuk menimbulkan rasa iri hati rakyat Indonesia kepada keturunan Cina. Cina diberi kesempatan untuk menguasai bisnis eceran, pertokoan, dan menjadi kolektor pajak dari pemerintah Belanda.

Akibatnya kaum Cina menjadi lebih agresif. Peristiwa itu membangkitkan persatuan yang kokoh di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi secara bersama efek dari pedagang Cina.

g. Peranan Bahasa Melayu

Di samping lebih banyak didominasi beragama Islam, bangsa Indonesia juga mempunyai bahasa pergaulan umum (Lingua Franca) yakni bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu menjelma bahasa persatuan nasional Indonesia.

Dengan posisi sebagai bahasa pergaulan, bahasa Melayu menjadi sarana penting untuk menyosialisasikan semangat kebangsaan dan nasionalisme ke seluruh pelosok Indonesia.

h. Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional

Istilah ‘Indonesia‘ berasal dari kata India (bahasa Latin untuk Hindia) dan kata nesos (bahasa Yunani untuk kepulauan), sehingga kata Indonesia berarti Kepulauan Hindia.

Istilah Indonesia, Indonesisch dan Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya sesudah banyak digunakan oleh kalangan ilmuwan menyerupai G.R. Logan, Adolf Bastian, van Vollen Hoven, Snouck Hurgronje, dan lain-lain.