SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN

SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN

 

SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN
SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN

1. Sebab-sebab kewarisan

Hal-hal yang menyebabkan seseorang dapat mewarisi terbagi atas tiga macam, yaitu sebagai berikut:

a. Karena hubungan kekerabatan atau hubungan nasab

Seperti kedua orang tua (bapak-ibu), anak, cucu, dan saudara, serta paman dan bibi. Singkatnya adalalah kedua orang tua, anak, dan orang yang bernasab dengan mereka. Allah SWT, berfirman dalam Al-Qur’an Artinya: “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagainya lebih berhak terhadap sesama (dari pada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahua segala sesuatu.” (Q. S. Al-Anfal: 75).
Kekerabatan artinya adanya hubungan nasab antara orang yang mewarisi dengan orang yang diwarisi disebabkan oleh kelahiran. Kekerabatan merupakan sebab adanya hak mempusakai yang paling kuat karena kekerabatan merupan unsur kausalitas adanya seseorang yang tidak dapat dihilangkan begitu saja.

b. Karena hubungan pernikahan

Hubungan pernikahan ini terjadi setelah dilakuakan akad nikah yang sah dan terjadi antara suami-istri yang melakukan pernikahan tidak sah tidak menyebabkan adanya hak waris.
Pernikahan yang sah menurut syari’at islam merupakan ikatan untuk mempertemukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan selama ikatan pernikahan itu masih terjadi. Bijaksan kalau Allah memberikan sebagian tertentu sebagai imbalan pengorbana dari jerih payahnya, bila salah satu dari keduannya meninggal dunia dan meninggalkan harta pusaka. Atas dasar itulah, hak suami maupun istri tidak dapat terhijab sama sekali oleh ahli waris manapun. Mereka hanya dapat terhijab nuqsan (dikurangi bagiannya) oleh anak turun mereka atau ahli waris yang lain.

c. Karena wala’

Wala’ adalah pewarisan karena jasa seseorang yang telah memerdekakan seorang hamba kemudian budak itu menjadi kaya. Jika orang yang dimerdekakan itu meninggalkan dunia, orang yang memerdekakan berhak mendapat warisan. Rasulullah SAW bersabda: “Hak wala’ itu hanya bagi orang yang telah membebaskan hamba sahaya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Rasulullah SAW. Menganggap wala’ sebagai kerabat berdasarkan nasab, sesuai dengan sabdanya: “Wala’ itu adalah suatu kerabat sebagai kerabat nasab yang tidak boleh dijual dan dihibahkan.” (HR. Muslim).

Baca Juga: