Mencari Mata Air, Film Ully Sigar Terbaru

Mencari Mata Air, Film Ully Sigar Terbaru

Mencari Mata Air, Film Ully Sigar Terbaru
Mencari Mata Air, Film Ully Sigar Terbaru

BANDUNG-Keberadaan mata air terus terancam karena pembangunan di daerah resapan air. Keprihatinan itu diungkap artis sekaligus aktivis lingkungan Ully Sigar Rusadi dalam sebuah film bertema alam berjudul My Journey Mencari Mata Air.

“Film akan diluncurkan 1 Januari 2017 mendatang,” katanya di Bandung belum lama ini.

Film ini sekaligus mengangkat keindahan alam taman nasional di Indonesia dan kearifan lokal masyarakat adat dalam upaya penyelamatan mata air.

Proses pembuatan film ini memakan waktu selama 30 hari dengan mengambil lokasi antara lain Desa Adat Ciptagelar Jawa Barat dan Pangandaran.

Film ini bercerita tentang empat orang remaja putri

yang berniat mengisi liburan mereka dengan mengantarkan teman dari New York bernama Lucas yang tertarik pada lingkungan hidup, terutama mata air.

Mereka nekat untuk menjelajah belantara menemukan mata air yang ditengarai sudah semakin langka karena berkembangnya peradaban.

Sengaja melepaskan diri dari pengawalan, kelima remaja itu mencoba mengandalkan naluri mereka untuk menghadapi alam liar. Banyak pelajaran dan pengalaman yang mereka dapatkan, termasuk saat harus berjuang mencegah kebakaran yang diakibatkan oleh kelalaian para pelancong.

Untunglah di tengah situasi yang buruk, sopir sekaligus

penunjuk jalan mereka, seorang laki-laki asal Flores yang bernama Heronimus, muncul memberikan pertolongan. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa tokoh yang kemudian membantu usaha mereka mencari mata air.

Ki Barja, seorang warga desa yang mengabdikan diri untuk menjaga hutan, Maya dan tim nya, aktivis peneliti serangga capung yang menjadi indikator bagi kemurnian air dan pada akhirnya mereka singgah di desa adat, bertemu dengan Neneknya Chinta “Bunda Ully” yang diperankan Ully Sigar Rusadi, bersama relawan yang selama ini berjuang menjaga lingkungan hidup dan masyarakat adat.

Bersama-sama kemudian mereka berusaha menemukan mata air yang masih benar-benar murni dan tak terjamah.

“Perjalanan ini telah memberi para remaja itu pelajaran

yang sangat berharga, atau setidaknya menjadi sebuah awal yang baik untuk mulai mencurahkan keperdulian pada apa yang selama ini begitu penting dan berharga bagi umat manusia, yang alam telah berikan dengan berkelimpahan, yakni mata air,” ujarnya. jo

 

Sumber :

http://forum.detik.com/sejarah-bpupki-t2044981.html