Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4
Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Periwayatan Hadits pada Periode ini

Periode ini dimulai pada masa Khalifah Al-Muqtadir sampai Khalifah Al-Mu’tashim. Meskipun pada periode ini kekuasaan Islam mulai melemah dan bahkan mengalami keruntuhan pada pertengahan abad ke-7 Hijriah akibat serangan Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan, kegiatan para Ulama Hadits dalam rangka memelihara dan mengembangkan Hadits tetap berlangsung sebagaimana pada periode-periode sebelumnya. Hanya saja Hadits-Hadits yang dihimpun pada periode ini tidaklah sebanyak yang dihimpun pada periode-periode sebelumnya. Kitab-kitab Hadits yang dihimpun pada periode ini adalah:
1. Al-Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (313 H),
2. Al-Anwar wa al-Taqsim oleh Ibn Hibban (354 H),
3. Al-Musnad oleh Abu Awanah (316 H),
4. Al-Muntaqa oleh Ibn Jarud,
5. Al-Mukhtarah oleh Muhammad ibn Abd al-Wahid al- Maqdisi.

Setelah lahirnya karya-karya di atas, maka kegiatan para Ulama berikutnya pada umumnya adalah merujuk kepada karya-karya yang telah ada dengan bentuk kegiatan seperti mempelajari, menghafal, memeriksa, dan menyelidiki sanad-sanadnya. Juga menyusun kitab-kitab baru dengan tujuan memelihara, menertibkan, dan menghimpun semua sanad dan matan yang saling berhubungan serta yang telah termuat secara terpisah dalam kitab-kitab yang telah ada tersebut.

Bentuk Penyusunan Kitab Hadits pada Periode Ini

Para Ulama Hadits periode ini memperkenalkan sistem baru dalam penyusunan Hadits, yaitu:

a. Kitab Athraf

Di dalam kitab ini penyusunnya hanya menyebutkan sebagian dari matan Hadits tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab Hadits yang dikutip matannya ataupun dari kitab-kitab lainnya. Contoh dari kitab jenis ini adalah:
Athraf al-Shahihaini, oleh Ibrahim al-Dimasyqi (w. 400 H),
Athraf al-Shahihaini, oleh Abu Muhammad Khalaf ibn Muhammad al-Wasithi (w. 401 H),
Athraf al-Sunan al-Arba’ah, oleh Ibn Asakir al- Dimasyqi (w. 571 H),
Athraf al-Kutub al-Sittah, oleh Muhammad ibn Thahir al-Maqdisi (507 H).

b. Kitab Mustakhraj

Kitab ini memuat matan Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya, atau lainnya, dan selanjutnya penyusun kitab ini meriwayatkan matan Hadits tersebut dengan sanad-nya sendiri. Contoh kitab ini adalah:

Mustakhraj Shahih Bukhari, oleh Jurjani.
Mustakhraj Shahih Muslim, oleh Abu Awanah (316 H),
Mustakhraj Bukhari-Muslim, oleh Abu Bakar ibn Abdan al-Sirazi (w. 388 H).

c. Kitab Mustadrak

Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau yang memiliki salah satu syarat dari keduanya. Contohnya adalah:

Al-Mustadrak, oleh Al-Hakim (321-405 H),
Al-Rzamat, oleh Al-Daraquthni (306-385 H).

d. Kitab Jami’

Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, yaitu seperti:
Yang menghimpun Hadits-Hadits Shahih Bukhari dan Muslim:

Al-Jami’ bayn al-Shahihaini, oleh Ibn al-Furat (Ibn Muhammad/w. 414 H),
Al-Jami’ Bayn al-Shahihaini, oleh Muhammad ibn Nashr al-Humaidi (488H),
Al-Jami’Bayn al-Shahihaini, oleh Al-Baghawi (516 H).
Yang menghimpun Hadits-Hadits dari Al-Kutub al-Sittah:

Tajrid al-Shihah, oleh Razim Mu’awiyah, yang disem¬¨purnakan oleh Ibn al-Atsir al-Jazari dalam kitab Al- Jami’ al-Ushul li Ahadits al-Rasul,
Al-Jamioleh Ibn Kharrat (582 H).
Yang menghimpun Hadits-Hadits Nabi dari berbagai kitab Hadits:

Mashabih al-Sunnah, oleh Al-Baghawi (516 H), dan selanjutnya disaring oleh Al-Khathib al-Tabrizi dengan judul Misykat al-Mashabih, Jami’ al-Masanid tua al-Alqab, oleh Abd al-Rahman ibn Ali al-Jauzi (597 H). Kitab ini selanjutnya ditertibkan oleh Al-Thabari (964 H), Bahr al-Asanid, oleh Al-Hasan ibn Ahmad al- Samarqandi (491 H).

Selain kitab-kitab di atas yang termasuk ke dalam Kitab Jami’, dijumpai juga jenis kitab yang menghimpun Hadits-Hadits mengenai masalah-masalah tertentu dari kitab-kitab Hadits yang ada, seperti:
Yang menghimpun Hadits-Hadits Ahkam: Muntaqa al-Akhbar f al-Ahkam, oleh Majd al-Din Abd al-Salam ibn ‘Abd Allah (652 H), Al-Sunnah al-Kubra, oleh Al-Baihaqi (458 H), Al-Ahkam al-Shughra, oleh Ibn Kharrat (582 H).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/