Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang
Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Hadits pada Pertengahan Abad ke-7 Hijriah Sampai Sekarang (Masa Pensyarahan, Penghimpunan, Pentakhrijan, dan Pembahasannya)

Kegiatan Periwayatan Hadits pada Periode Ini

Periode ini dimulai sejak Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad ditaklukkan oleh tentara Tartar (656 H/ 1258 M), yang kemudian Kekhalifahan Abbasiyah tersebut dihidupkan kembali oleh Dinasti Mamluk dari Mesir setelah mereka berhasil menghancurkan bangsa Mongol tersebut. Pembaiatan khalifah oleh Dinasti Mamluk hanyalah sekadar simbol saja agar daerah-daerah Islam yang lain dapat mengakui Mesir sebagai pusat pemerintahan Islam, dan selanjutnya mengakui Dinasti Mamluk sebagai penguasa Dunia Islam. Akan tetapi, pada permulaan abad ke-8 H, Utsman Kajuk mendirikan kerajaan di Turki di atas puing-puing peninggalan Bani Saljuk di Asia Tengah, sehingga bersama-sama dengan keturunannya Utsman berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitarnya dan selanjutnya membangun Daulah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Dengan berhasilnya mereka menaklukkan Konstantinopel dan Mesir serta meruntuhkan Khilafah Abbasiyah, maka berpindahlah pusat kekuasaan Islam dari Mesir ke Konstantinopel. Pada abad ke-13 H (awal abad ke-19 M), Mesir, dengan dipimpin oleh Muhammad Ali, mulai bangkit untuk mengembalikan kejayaan Mesir masa silam. Namun, Eropa yang dimotori oleh Inggris dan Prancis semakin bertambah kuat dan berkeinginan besar untuk menguasai dunia. Mereka secara bertahap mulai menguasai daerah-daerah Islam, sehingga pada abad ke-19 M sampai awal abad ke-20 M hampir seluruh wilayah Islam dijajah oleh bangsa Eropa. Kebangkitan kembali umat Islam baru dimulai pada pertengahan abad ke-20 M.

Sejalan dengan keadaan dan kondisi daerah-daerah Islam di atas, maka kegiatan periwayatan Hadits pada periode ini lebih banyak dilakukan dengan cara ijazah dan mukatabah. Ijazah adalah pemberian izin dari seorang guru kepada muridnya untuk meriwayatkan Hadits-Hadits yang berasal dari guru tersebut, baik yang tertulis ataupun yang bersifat hafalan. Sedangkan mukatabah adalah pemberian catatan Hadits dari seorang guru kepada orang lain (muridnya), baik catatan tersebut ditulis oleh guru itu sendiri atau yang didiktekannya kepada muridnya. (Lihat M. Syuhudi Ismail. Pengantar Ilmu Hadits, h. 125).

Sedikit sekali dari Ulama Hadits periode ini yang melakukan periwayatan Hadits secara hafalan sebagaimana yang dilakukan oleh Ulama mutaqaddimin. Di antara mereka yang sedikit itu adalah:

Al-Iraqi (w. 806 H /1404 M). Dia berhasil mendiktekan Hadits secara hafalan kepada 400 majelis sejak tahun 796 H /1394 M, dan juga menulis beberapa kitab Hadits. Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1448 M), seorang penghafal Hadits yang tiada tandingannya pada masanya. Dia telah mendiktekan Hadits kepada 1.000 majelis dan menulis sejumlah kitab yang berkaitan dengan Hadits. Al-Sakhawi (w. 902 H/ 1497 M), murid Ibn Hajar, yang telah mendiktekan Hadits kepada 1.000 majelis dan menulis sejumlah kitab.

Pada periode ini, umumnya para Ulama Hadits mempelajari kitab-kitab Hadits yang telah ada, dan selanjutnya mengembangkannya atau meringkasnya sehingga menghasilkan jenis karya sebagai berikut:

Kitab Syarah

Yaitu, jenis kitab yang memuat uraian dan penjelasan kandungan Hadits dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil lain yang bersumber dari Al Qur’an, Hadits, ataupun kaidah-kaidah syara’ lainnya. Di antara contohnya adalah: Fath al-Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, yaitu syarah kitab Shahih Al-Bukhari,
Al-Minhaj, oleh Al-Nawawi, yang mensyarahkan kitab Shahih Muslim,
‘Aun al-Ma’bud, oleh Syams al-Haq al-Azhim al- Abadi, syarah Sunan Abu Dawud.

Kitab Mukhtashar

Yaitu, kitab yang berisi ringkasan dari suatu kitab Hadits, seperti Mukhtashar Shahih Muslim, oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi.

Kitab Zawa’id

Yaitu, kitab yang menghimpun Hadits-Hadits dari kitab-kitab tertentu yang tidak dimuat oleh kitab tertentu lainnya. Di antara contohnya adalah Zawa’id al-Sunan al-Kubra, oleh Al-Bushiri, yang memuat Hadits-Hadits riwayat al-Baihaqi yang tidak termuat dalam Al-Kutub al-Sittah.

Kitab Penunjuk Hadits (kode indeks)

Yaitu, kitab yang berisi petunjuk-petunjuk praktis untuk mempermudah mencari matan Hadits pada kitab-kitab tertentu. Contohnya, Miftah Kunuz al-Sunnah, oleh A.J. Wensinck, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh M. Fu’ad Abd al-Baqi.

Kitab Takhrij

Yaitu, kitab yang menjelaskan tempat- tempat pengambilan Hadits-Hadits yang dimuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan kualitasnya. Contohnya adalah, Takhrij Ahadits al-Ihya’, oleh Al-Iraqi. Kitab ini mentakhrij Hadits-Hadits yang terdapat di dalam kitab Ihya9 ‘Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali.

Kitab Jami’

Yaitu, kitab yang menghimpun Hadits-Hadits dari beberapa kitab Hadits tertentu, seperti Al-Lu’lu’wa al-Marjan, karya Muhammad Fu’ad al-Baqi. Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits Bukhari dan Muslim.

Terakhir kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum. Contohnya, Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam oleh Ibn Hajar al-Asqalani dan Koleksi Hadits- Hadits Hukum oleh T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Perkembangan Hadits, h. 116-122).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/