Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah
Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Pemalsuan hadits

Pada abad kedua hijriyah kegiatan pemalsuan Hadits semakin berkembang. Motif pemalsuan Hadits pada masa ini tidak lagi hanya untuk menarik keuntungan bagi golongannya dan mencela lawan politiknya, tetapi sudah semakin beragam seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang cerita dalam rangka menarik minat orang banyak, kaum zindik yang bertujuan untuk meruntuhkan Islam, dan lain-lain. Uraian secara lebih rinci dan lebih jelas tentang keberadaan Hadis-Hadis palsu ini, akan terlihat pada uraian tentang Hadis palsu dan permasalahannya berikut.

Periode ini berlangsung sejak masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun sampai pada awal pemerintahan Khalifah Al-Muqtadir dari kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Pada periode ini para Ulama Hadis memusatkan perhatian mereka pada pemeliharaan keberadaan dan terutama kemurnian Hadits Hadits Nabi SAW, sebagai antisipasi mereka terhadap kegiatan pemalsuan Hadis yang semakin marak.

Abad Kedua Hijriah

Pada abad kedua Hijriah perkembangan ilmu pengetahuan Islam pesat sekali dan telah melahirkan para imam mujtahid di berbagai bidang, di antaranya di bidang Fiqh dan Ilmu Kalam. Pada dasarnya para imam mujtahid tersebut, meskipun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat, mereka saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. Akan tetapi, para pengikut masing-masing imam, terutama setelah memasuki abad ke-3 Hijriah, berkeyakinan bahwa pendapat gurunya (imamnya)-lah yang benar, dan bahkan hal tersebut sampai menimbulkan bentrokan pendapat yang semakin meruncing. Di antara pengikut mazhab yang sangat fanatik, akhirnya menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka mendukung mazhabnya dan menjatuhkan mazhab lawannya.

Di antara mazhab Ilmu Kalam, khususnya Mu’tazilah, sangat memusuhi Ulama Hadis sehingga terdorong untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka memaksakan pendapat mereka. Hal ini terutama setelah Khalifah Al-Ma’mun berkuasa dan mendukung golongan Mu’tazilah. Perbedaan pendapat mengenai kemakhlukan Al-Qur’an menyebabkan Imam Ahmad ibn Hanbal, seorang tokoh Ulama Hadis, terpaksa dipenjarakan dan disiksa. Keadaan ini berlanjut terus pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim (w. 227 H) dan AkWatsiq (w. 232 H); dan barulah setelah pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil, yang mulai memerintah pada tahun 232 H” keadaan berubah dan menjadi positif bagi Ulama Hadis.

Penciptaan Hadis-Hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang fanatik mazhab, tetapi momentum pertentangan mazhab tersebut juga dimanfaatkan oleh kaum zindik yang sangat memusuhi Islam, untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka merusak ajaran Islam dan menyesatkan kaum Muslimin. Kegiatan pemalsuan Hadis ini semakin disemarakkan oleh para pembuat kisah, yang dalam rangka menarik para pendengarnya juga melakukan pemalsuan Hadis.

Selain berkembangnya Hadis palsu, pada abad kedua hijriyah ini muncul pula sekelompok orang yang menolak Hadis. Di antara mereka ada yang menolak Hadis secara keseluruhan, baik Hadits Ahad maupun juga Hadis Mutawatir, dan ada yang menolak Hadis Ahad saja. Imam Al-Syafi’i bangkit dan melakukan serangan balik terhadap kelompok yang menolak Hadis ini, yaitu dengan cara mengemukakan bantahan terhadap satu per satu argumen yang di kemukakan oleh para penolak Hadis di atas dengan mengemukakan dalil-dalil yang lebih kuat. Oleh karenanya, Imam Al-Syafi’i diberi gelar “Nashir al-Hadits” (“penolong Hadis”) atau “Multazim al-Sunnah”.

Salah satu usaha menjaga pemurnian hadits adalah dengan melakukan pengkodifikasian hadits .

Kitab Hasil Modifikasi

Di antara kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi pada abad kedua hijriyah yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak dirujuk oleh para Ulama adalah:

Kitab Al-Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
Musnad Al-Syafi’i, karya Imam Al-Syafi’i, yaitu berupa kumpulan Hadis yang terdapat dalam kitab Al-Umm.
Mukhtaliful Hadits, karya Imam Al-Syafi’i yang isinya mengandung pembahasan tentang cara-cara menerima Hadis sebagai hujjahdan cara-cara mengkompromikan Hadis yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
Al-Sirat al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi SAW dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi (Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis. 104-105)

Ciri-Ciri Kitab Hadits Abad ke Dia Hijriyah

Di antara sistem pembukuan dan ciri kitab kitab Hadits pada abad kedua hijriyah ini adalah:
Pada umumnya kitab-kitab Hadis pada abad ini menghimpun Hadits Hadits Rasul SAW serta fatwa-fatwa Sahabat dan Tabi’in. Yang hanya menghimpun Hadis- Hadis Nabi SAW adalah kitab yang disusun oleh Ibn Hazm. Hal ini sejalan dengan instruksi Khalifah ‘Umar ibn Abd al-Aziz yang berbunyi:

Janganlah kamu terima selain dari Hadis Nabi SAW.
Himpunan Hadits pada masa ini masih bercampurbaur antara berbagai topik yang ada, seperti yang menyangkut bidang Tafsir, Sirah, Hukum, dan sebagainya, dan belum dihimpun berdasarkan topik-topik tertentu.
Di dalam kitab-kitab Hadis pada periode ini belum dijumpai pemisahan antara Hadis-Hadis yang berkualitas Shahih, Hasan, dan Dha’if.

Demikian uraian tentang usaha pemalsuan hadits dan usaha menjaga pemurnian hadits pada abad kedua hijriyah ini, mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: