Pelaksanaan PPDB Hari Ketiga Lebih Kondusif

Pelaksanaan PPDB Hari Ketiga Lebih Kondusif

Pelaksanaan PPDB Hari Ketiga Lebih Kondusif
Pelaksanaan PPDB Hari Ketiga Lebih Kondusif

Agar pelaksanaan pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 berjalan kondusif,

Sekolah Menengah Negeri (SMAN) 12 Kota Bandung siapkan sistem estimasi waktu dalam melayani pendaftar.

Ketua PPDB yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMAN 12, Agus Nuryana mengaku, sebelum pelaksanaan PPDB dimulai pihaknya sudah beberapa kali melakukan simulasi dalam pengaturan waktu.

”Ada perhitungan waktu yang kami lakukan dan dari hasil seimulasi itu disepakati dalam satu hari dibatasi hanya 200 orang pendaftar dengan estimasi waktu dua hingga tiga menit per pendaftar,” ucap Agus, di SMAN 12, Jalan Sekejati IV No 36 Sukapura, Kota Bandung, Rabu (19/6).

Menurutnya, berbeda dengan hari pertama, dihari kedua dan ketiga pelaksanaan pendaftaran jauh lebih tertib dan lancar.

”Hari pertana kita membludak, jam enam pagi sudah ada 400 orang yang mengantre namun

berbeda dengan rabu juga hari selasa, masyarakat sudah kondusif, hanya 200 orang yang datang mendaftar setiap harinya. Itu pun yang sudah punya nomor antrean,” ujarnya.

Tidak hanya itu, lancarnya proses pendaftaran juga karena pihak sekolah memberlakukan sistem nomor antrean, dimana pendaftar yang dilayani adalah yang mempunyai nomor antre yang diambil pada hari sebelumnya.

”Setiap hari warna kertas nomor antre berbeda. Kita buat 200 nomor antrean setiap harinya.

Maksudnya agar mudah mengkoordinir pendaftar,” terangnya.

Sementara itu, Dini Hairiyah, salah seorang dari orangtua siswa yang sedang mendaftarkan anaknya mengaku sengaja tidak terburu-buru mendaftar karena menentukan sekolah terbaik memerlukan pertimbangan.

”Hari pertama saya pergunakan untuk mencari informasi dari sekolah-sekolah yang jaraknya hampir sama. Lokasi rumah saya ke SMAN 12, SMAN 7 dan SMAN 8 hampir sama. Makanya cukup sulit juga untuk menentukan sekolah mana yang dipilih,” ucapnya.

Dia menuturkan, jika ditarik garis lurus, maka jarak antara rumah dengan sekolah sekitar satu hingga dua kilometer.

”Sistem zonasi memang membingungkan. Saya berharap sistem bisa balik lagi pake nilai hasil Ujian Nasional. Itu lebih fair, apalagi rumah saya yang berbatasan dengan tiga sekolah sangat sulit memutuskan sekolah mana yang harus dipilih,” tandasnya.(mg1/ziz)

 

Baca Juga :