TK Albiruni Menggelar Pelepasan dan Pentas Seni

TK Albiruni Menggelar Pelepasan dan Pentas Seni

TK Albiruni Menggelar Pelepasan dan Pentas Seni
TK Albiruni Menggelar Pelepasan dan Pentas Seni

Dalam menutup kegiatan pembelajaran tahun 2018/2019, TK Albiruni menggelar Pelepasan dan Pentas Seni yang telah digelar ke 14 sejak tahun 2005. Tahun ini mengusung tema Harmoni Alam.

Kepala Sekolah TK Albiruni, Rosmayanti menyatakan, tahun ini siswa yang diwisuda

sebanyak 30 orang anak TK B sekaligus menggelar pentas seni sebagai evaluasi pembelajaran. Kelebihan TK Albiruni tidak hanya menerapkan kurikulum nasional melainkan kurikulum yayasan dalam muatan lokal pendidikan keagamaan.

“Pentas seni ini kami adakan setiap tahun sebagai penutup pembelajaran dengan menyuguhkan tampilan anak-anak dari mulai play group, TK A dan TK B. Ini merupakan aktualisasi anak menilai dalam tolak ukur sejauh mana anak-anak mampu berekspresi di depan panggung,” katanya di Shakti Hotel Bandung Jalan. Soekarno Hatta No 735 Bandung baru-baru ini.

Rosma menjelaskan, sesuai dengan tema yang diusung penampilan yang ditunjukan

mengenai alam dengan tujuan sebagai edukasi mengenai fenomena.

Setiap anak diberikan piala dan penghargaan sesuai dengan karakteristik anak yang menonjol. “Setiap anak memiliki prestasi yang menonjol di bidangnya masing-masing. Kami tidak memberikan pada yang paling baik karena menurut kami mereka semua terbaik,” terangnya.

Dalam pembelajaran, TK Albiruni tidak membedakan anak berkebutuhan khusus (inklusif) seperti autis, terlambat bicara (speech delay), down syndrom.

“Dalam penanganannya siswa ABK kami memfasilitasi guru khusus pendamping, sehingga setelah pembelajaran di kelas ada shadow teacher,” tuturnya.

Dalam mendidik siswa ABK, output yang dituju bukan pada akademik melainkan skill

seperti perkembangan dalam berani tampil di depan umum. Tidak ada diskriminasi, baik siswa normal dan siswa ABK berada dalam lingkup satu kelas yang sama.

“Siswa ABK dan siswa normal kami satu kelaskan agar anak keterbatasan bisa terangsang emosinya, sosialnya, begitupun anak yang normal lainnya kami terapkan pada mereka bahwa semua siswa sama,” tandasnya. (mg1/drx)

 

Sumber :

http://journals.sbmu.ac.ir/en-iranjem/comment/view/18002/0/64679