Inilah Kerjasama Bondowoso dan UNICEF untuk Pendidikan Inklusif

Inilah Kerjasama Bondowoso dan UNICEF untuk Pendidikan Inklusif

Inilah Kerjasama Bondowoso dan UNICEF untuk Pendidikan Inklusif

Pendidikan adalah hak setiap anak. Hak mendapatkan pendidikan berkualitas adalah bagian integral dari Konvensi Hak Anak (Convention of the Rights of Child) yang tahun ini sudah berusia 30 tahun.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso bertekad memastikan anak-anaknya dapat mengakses pendidikan, tanpa kecuali. Tekad itu diwujudkan bersama dengan United Nations Children’s Fund (UNICEF) lewat pengembangan pendidikan inklusif di kabupaten yang hampir berusia 200 tahun ini.

Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara menuturkan masih ada beberapa anak yang belum memiliki akses ke Pendidikan, salah satunya anak-anak difabel, berkebutuhan khusus, atau anak yang punya kelebihan unik tapi membutuhkan metode belajar yang berbeda.

Arie mengatakan, UNICEF merasa di Bondowoso, sistem layanan pendidikan sudah memfasilitasi agar anak-anak tersebut dapat dilayani di sekolah terdekat. Mereka bahkan belajar di kelas reguler bersama-sama teman seusianya, tanpa dipisahkan dan tanpa diskriminasi.

“Melihat semangat dan komitmen ini, kami kembali lagi ke Bondowoso untuk

terus mendukung inovasi kebijakan yang fokus investasinya adalah anak, semua anak,” ujar Arie ketika ditemui pasca pertemuan dengan Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso di Ijen View, Kamis (11/4/2019).

Ia menerangkan bahwa sebenarnya UNICEF telah bekerjasama dengan Pemkab Bondowoso sejak 2005 lewat pengembangan Program Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS) di tingkat sekolah dasar (SD). Kemudian pada 2015, pihaknya membantu Bondowoso untuk mengembangkan Program Sekolah Satu Atap. Sejak 2017 Sekolah Satu Atap dikembangkan ke Pendidikan Inklusif. Dan kemudian pengembangannya banyak menggunakan dana APBD.

“Kami kembali lagi ke Bondowoso justru karena melihat komitmen yang semakin tinggi,” ujarnya.

Arie menambahkan tim pengembang MBS Inklusif sudah dibentuk Pemkab

sejak 2017. Mereka terdiri dari pengawas SD dan SMP.
“Merekalah yang selama ini menjadi mesin inovasi Pendidikan Inklusif di Bondowoso,” terang Arie.

Dalam rangka menguatkan kapasitas sumber daya manusia di Pendidikan inklusif, berbagai pelatihan, loka karya, dan bentuk asistensi lainnya akan didukung UNICEF dengan menyasar guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.

Pada kesempatan berdiskusi dengan Bupati dan Wakil Bupati, UNICEF

mengharapkan dimaksimalkannya koordinasi dan komunikasi antar organisasi pemerintahan daerah (OPD ) dalam melancarkan implementasi Pendidikan Inklusif melalui pengaktifan kelompok kerja (pokja) Pendidikan Influsif.

 

Sumber :

https://danu-aji-s-school.teachable.com/blog/193127/invitations