Menyalahkan orang lain

Menyalahkan orang lain

Menyalahkan orang lain

Bagaimana kalau mendapati nilai ulangan anak jelek? Banyak orang tua – walaupun tidak semua orang tua begitu – yang lantas menyalahkan anaknya, mengapa ia mendapat nilai jelek. Orang tua harus mencoba mencari tahu, mengapa anaknya mendapat nilai jelek. Bukan menghakimi mengapa nilainya jelek, seolah-olah orang tua adalah monster yang siap menerkam sewaktu ada pengumuman nilai.

Orang tua yang tidak mau mencari tahu kenapa nilai anaknya jelek, akan lebih menyalahkan mengapa anak tersebut mendapat nilai jelek. Sekarang lazim ditemui jika ada anak yang salah di sekolah, orang tua yang tidak tahu duduk permasalahannya langsung menyalahkan sekolah, teman anaknya, atau guru anaknya. Hal ini membuat konsep alam bawah sadar si anak akan meniru orang tua yang semacam ini. Jika mendapat nilai jelek, si anak bukan introspkesi diri, justru akan beralasan “karena temannya”, “karena guru itu”, “karena sekolahnya”, dan “karena-karena” yang lain. Jika anaknya memang ada kekurangan, orang tua harus mengakuinya, bukan menyalahkan. Maka kalau itu dibiarkan, jangan salahkan anak jika suatu saat mereka akan menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya menghadapi masalah.

Di dalam buku ini Adhitya juga mencontohkan niat baik orang tua yang salah. Ada orang tua yang memotivasi anaknya dengan membandingkan dengan orang lain. Misalnya dengan kalimat “Si Robin, teman sebangkumu nilainya bagus, dia bisa, mengapa kamu tidak?”, “Kakakmu nilainya bagus? Mengapa kamu tidak?”, atau “Ayo, tunjukkan kepada Bapak bahwa kamu bisa.” Perbandingan dan ekspetasi semacam ini menurut Adhitya menjadi perangkap yang justru membuat anak mengalami penolakan. Menurutnya, anak mendapat nilai jelek itu sudah sebagai monster, apalagi jika sampai di rumah justru harus berhadapan denga monster kedua, yakni orang tua.

Pada dasarnya, melalui buku ini, Adhitya mencoba memberikan solusi yang menurutnya tepat dalam  mendidik anak-anak. Anak-anak harus dimentori, bukan “dimonsteri”. Hanya saja, ulasan Adhitya lebih kepada solusi yang normatif, belum menjangkau bagaimana menangani anak yang memang butuh perlakuan khusus. Namun, secara garis besar, apa yang ditulis Adhitya dalam buku ini saya rasa cukup bisa menggugah kesadaran orang tua dalam mendidik anak. ■

Baca Juga :