Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga saat awal penulis memulai pekerjaan di SMA tersebut (tahun 1995) menjumpai kondisi para siswa yang tidak peduli terhadap lingkungan. Hal itu terindikasi dengan kenyataan-kenyataan yang ada, antara lain adalah :

Pertama, para siswa tidak peduli terhadap pohon-pohon yang ditanam, baik itu pohon peneduh maupun pohon-pohon untuk taman-taman di depan kelas, bahkan menunjukkan perilaku merusak dan sering mematikan pohon tanpa ada rasa tanggung jawab. Siswa tidak punya kegemaran menanam atau menyemaikan pohon atau bunga di taman depan kelasnya atau di lingkungan terdekatnya apalagi di tempat-tempat yang jauh dari kelasnya di lingkungan sekolah. Gejala ini pasti terbawa dan menjadi kebiasaan di lingkungan keluarga dan masyarakatnya,

Kedua, para siswa tidak peduli lingkungan kelas dan sekolah yang kotor dengan tata kehidupan yang jorok-perilaku membuang sampah sembarangan—kertas, plastik,bungkus makanan, permen, tidak dibuang pada tempatnya, termasuk kejorokan yang dijumpai di WC putri, banyak bekas pembalut dibuang sembarangan. Dinding tembok di dalam maupun di luar kelas sering menjadi sasaran kaki sehingga selalu di jumpai jejak-jejak sepatu di tembok-tembok yang menimbulkan pemandangan kotor.

Ketiga, para siswa bersikap apatis terhadap kerusakan lingkungan di dekat tempat tinggal mereka, misalnya lereng-lereng bukit yang gundul dan mudah longsor di musim penghujan dan biasanya merusak jalan. Merekapun apatis terhadap pemberitaan-tentang kerusakan lingkungan di wilayah lain, di tingkat lokal, regional, maupun nasional dan internasional. Mereka kurang memahami dan tidak mempunyai keprihatinan yang mendalam terhadap penderitaan yang menimpa bumi seperti efek rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon,hujan asam dan sebagainya yang sudah menjadi masalah global.

Adapun inovasi pembelajaran untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan antara lain :

Dasar-dasar teori pembelajaran yang dibahas di awal pembahasan ini diaplikasikan secara maksimal pada pembelajaran Fisika SMA Negeri Rembang di kelas I. Tindakan operasional pembelajaran secara drastis dan atraktif untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dimulai sesudah penulis mengikuti Diklat PKLH (Pelatihan Kependudukan dan Lingkungan Hidup) tahun 1998 serta lebih maksimal dan intensif setelah penulis kuliah lagi di S-2 Prodi IPA bervisi SETS di UNNES tahun 2002. Gambaran pembelajaran Fisika tersebut secara umum : Melakukan proses pembelajaran konstruktivis dengan pendekatan SETS (sains/Science—lingkungan/Environment—teknologi/Technology—masyarakat/Society), dengan menggunakan model pembelajaran Discovery-Inquiry, memakai berbagai metode yang variatif sendiri atau gabungan: seperti lab work, diskusi kelompok, problem solving, studi kepustakaan. Proses pembelajaran dilakukan secara indoor atau outdoor. Kegiatan pembelajaran para siswa selalu dilakukan berkelompok, hal itu untuk lebih mengoptimalkan pembelajaran kooperatif sesuai dengan prinsip-prinsip dasar cooperative learning. Dengan demikian pembelajaran Fisika yang dilakukan mengesampingkan pembelajaran konvensional yang berorientasi pada materi sains dengan penyajian ceramah satu arah dari guru ke siswa. Pendekatan SETS dengan lingkungan sebagai fokusnya secara kontinyu menjadi proses pembelajaran yang menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan sampai mendarah daging.

Sedangkan secara khusus pembelajaran yang dipandang atraktif, aktif dan kreatif adalah : Memberikan indoktrinasi kepada para siswa terutama pada jiwanya, bahwa penopang utama kehidupan manusia di bumi adalah pohon. Kekayaan dan kecukupan yang diterima manusia secara langsung maupun tidak langsung disuplai oleh pepohonan di bumi apapun jenis pohon itu. Oleh karena itu untuk mempercepat pemahaman indoktrinasi tersebut maka kegiatan pembelajaran outdoor selalu di bawah pohon secara berpindah berganti pohon pada hari yang berbeda. Setiap bagian pohon dibuat relevan dengan topik pembelajaran Fisika. Isaac Newton pun tidak akan menemukan hukum Gravitasi yang menggemparkan itu kalau Ia tidak sedang duduk-duduk di bawah pohon.

Gambar 2. Isaac Newton di bawah pohon apel

Pohon ditumbuhkan bumi—bumi menumbuhkan pohon; permasalahan lingkungan, kerusakan dan penderitaan bumi (menipisnya ozon, efek rumah kaca, dan lain-lain) dapat disembuhkan dengan menanam banyak pohon besar. Pernyataan-pernyataan tersebut diusahakan dapat menjadi pengertian yang mendalam di benak tiap-tiap siswa. Kerjasama dengan pengajar ekstra kurikuler untuk melatih kemampuan psikomotorik terhadap kecintaan kepada lingkungan di luar pembelajaran intra kurikuler Fisika selalu diadakan. Konsultasi dan konfirmasi selalu terjalin agar terjadi sinkronisasi pembelajaran ilmu alam yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terpadu.

Sumber : https://andyouandi.net/