Persepsi Dan Kognisi

Table of Contents

Persepsi Dan Kognisi

Persepsi Dan Kognisi

Secara singkat persepsi dapat di definisikan sebagai cara manusia menangkap rangsangan. Kognisi adalah cara menusia memberi arti pada rangsangan. Istilah kognisi berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan untuk memperoleh pengetahuan.Istilah ini digunakan oleh filsuf untuk mencari pemahaman terhadap cara manusia berpikir. Karya Plato dan Aristotle telah memuat topik tentang kognisi karena salah satu tujuan tujuan filsafat adalah memahami segala gejala alam melalui pemahaman dari manusia itu sendiri.

Kognisi dipahami sebagai proses mental karena kognisi mencermikan pemikiran dan tidak dapat diamati secara langsung. Oleh karena itu kognisi tidak dapat diukur secara langsung, namun melalui perilaku yang ditampilkan dan dapat diamati. Misalnya kemampuan anak untuk mengingat angka dari 1-20, atau kemampuan untuk menyelesaikan teka-teki, kemampuan menilai perilaku yang patut dan tidak untuk diimitasi.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kognisi maka berkembanglah psikologi kognitif yang menyelidiki tentang proses berpikir manusia. Proses berpikir tentunya melibatkan otak dan saraf-sarafnya sebagai alat berpikir manusia oleh karena itu untuk menyelidiki fungsi otak dalam berpikir maka berkembanglah neurosains kognitif. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh kedua bidang ilmu tersebut banyak dimanfaatkan oleh ilmu robot dalam mengembangkan kecerdasan buatan.

Proses kognitif menggabungkan antara informasi yang diterima melalui indera tubuh manusia dengan informasi yang telah disimpan di ingatan jangka panjang. Kedua informasi tersebut diolah di ingatan kerja yang berfungsi sebagai tempat pemrosesan informasi. Kapabilitas pengolahan ini dibatasi oleh kapasitas ingatan kerja dan faktor waktu. Proses selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan yang telah dipilih. Tindakan dilakukan mencakup proses kognitif dan proses fisik dengan anggota tubuh manusia (jari, tangan, kaki, dan suara). Tindakan dapat juga berupa tindakan pasif, yaitu melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya.

Faktor yang memengaruhi kesulitan dan kecepatan pemilihan dan pelaksanaan respon adalah kompleksitas keputusan, perkiraan terhadap respon, trade-off kecepatan dan akurasi, dan feedback yang diperoleh (Groover, 2007). Kompleksitas keputusan dipengaruhi oleh jumlah tindakan yang mungkin dipilih, yang juga berpengaruh terhadap lamanya waktu pengambilan keputusan. Perkiraan terhadap respon dipengaruhi oleh informasi yang diterima. Jika informasi yang diterima telah diperkirakan sebelumnya, pemrosesan informasi akan lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak diperkirakan. Trade-off antara kecepatan dan akurasi merupakan korelasi negative antara keduanya pada pemilihan dan pelaksanaan respon. Dalam beberapa situasi, semakin cepat seseorang memilih respon, kemungkinan kesalahan terjadi meningkat. Feedback merupakan efek yang diketahui oleh seseorang sebagai verifikasi atas tindakan yang dilakukannya. Rentang waktu antara tindakan dengan feedback harus diminimasi.

Dalam hubungan antara persepsi dan kognisi, teori medan Lewin menyatakan bahwa proses persepsi dan kognisi berarti proses perombakan medan kognisi yang tidak berstruktur menjadi medan yang berstruktur (Wurjo dan Saefullah, 1983:73).

Persepsi dan kognisi tentang lingkungan merupakan komponen dari orientasi dan pencitraan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat. Persepsi dan kognisi tentang lingkungan sejajar dengan Istilah “kesadaran akan lingkungan” sehingga berinteraksi dengan proses evaluasi yang memuat komponen-komponen kognitip, emosi, dan psikomotor.

Teori psikologi kognitip menurut pandangan psikologi Gestalt di Jerman beberapa saat seselum perang dunia II, berpendapat bahwa persepsi manusia terhadap lingkungannya tidak mengandalkan pada apa yang diterima dari penginderaannya, tetapi penginderaan itu di atur, saling dihubungkan, dan diorganisasikan untuk diberi makna, selanjutnya di jadikan awal dari suatu prilaku.

  1.  Ilusi

Ilusi adalah suatu kejadian dimana terjadi karena kesalahan penangkapan mata manusia dalam melihat sebuah objek atau benda. Ilusi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu ilusi fisiologis dan ilusi kognitif.

  1. Ilusi fisiologis

Ilusi fisiologis, seperti yang terjadi pada afterimages atau kesan gambar yang terjadi setelah melihat cahaya yang sangat terang atau melihat pola gambar tertentu dalam waktu lama. Ini diduga merupakan efek yang terjadi pada mata atau otak setelah mendapat rangsangan tertentu secara berlebihan.

  1. Ilusi kognitif

Ilusi kognitif adalah terjadi karena anggapan pikiran terhadap sesuatu di luar. Pada umumnya ilusi kognitif dibagi menjadi ilusi ambigu, ilusi distorsi, ilusi paradoks dan ilusi fiksional.

  1. Pada ilusi ambigu, gambar atau objek bisa ditafsirkan secara berlainan. Contohnya

     adalah: kubus Necker dan vas Rubin.

  1. Pada ilusi distorsi, terdapat distorsi ukuran, panjang atau sifat kurva (lurus lengkung).

     Contohnya adalah: ilusi dinding kafe dan ilusi Mueller -Lyer.

  1. Ilusi paradoks disebabkan karena objek yang paradoksikal atau tidak mungkin,

     misalnya pada segitiga Penrose atau ‘tangga yang mustahil’, seperti misalnya terlihat

      pada karya seni grafis M C Escher, berjudul “Naik dan Turun” serta “Air Terjun”.

  1. Ilusi fiksional didefinisikan sebagai persepsi terhadap objek yang sama sekali berbeda

     bagi seseorang tapi bukan bagi orang lain, seperti disebabkan karena schizoprenia

     atau halusinogen. Ini lebih tepatnya disebut dengan halusinasi.

 

baca juga :