Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Al-Qur’an Sebagai Petunjuk

Allah Swt menurunkan pesan-pesanya melalui al-Qur’an kepada manusia, untuk dijadikan pegangan dan pedoman, way of life, agar manusia sukses menjalankan hidup di dunia dan bahagia di akhirat nanti. Allah menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantara malaikan Jibril alaihissalam, menggunakan bahasa Arab, dan di belahan bumi pilihan Allah Swt, yakni Makah al-Muqarramah dan Madinah al-Munawarah, sebagai umat yang juga terpanggil untuk menjalankan pesan-pesan Allah Swt, maka sudah wajib bagi kita menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman dalam hidup dan kehidupan, yakni memasyarakatkan isi, bacaan, dan mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT telah berfirman yang artinya “…Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, , petunjuk bagi mereka yang bertaqwa …”(QS.al-Baqarah : 1-2). Dan juga Allah telah berfirman di pertengahan surat al-Baqarah, (Beberapa hari yang telah dirtentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).”(QS.al-Baqarah:185)

Di awal surat al-Baqarah Allah telah berfirman al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa , sedangkan di tengah al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia , dan ini sifatnya umum baik bagi orang yang bertaqwa maupun yang tidak bertaqwa.adapun petunjuk bagi orang yang bertaqwa, mempunyai arti bahwa mereka mampu mengambil manfaat dan mengambil faedah dari al-Qu’ran itu, serta mereka mampu menjadikan cahaya al-Qur’an sebagai penerang bagi mereka.

Alif Laam Raa…(ini adalah)

 “Alif Laam Raa…(ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang yang di izinkan Tuhan,(yaitu) menuju jalan Tuhan yang maha perkasa lagi maha terpuji…”(QS:Ibrahim:1).

Dari ayat di atas, jelas bahwa fungsi al-Quran adalah untuk membebaskan manusia dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya terang-benderang.Pada ayat ini Allah SWT menyebutkan kegelapan menggunakan jamak mu’annas salim dari isim mufrad artinya kegelapan-kegelapan.Mengandung makna kegelapan di dunia ini banyak macam raga dan bentuk.Hal ini juga ditegaskan dalam beberapa tafsir, baik itu (at-Tabari), (Jalalain), (Ibnu Kasir), dan (al-Kurtubi) disebutkan bahwa makna kegelapan-kegelapan mempunyai makna, kekafiran, kebodohan, dan kesesatan.Sementara dalam ayat ini cahaya menggunakan isim mufrad tidak menggunakan bentuk jamak, itu membuktikan atau menunjukan bahwa cahaya itu satu, yakni cahaya iman, petunjuk dan hidayah Allah SWT.

Pada saat Nabi Muhammad SAW yang begitu semangat-semangatnya mempelajari al-Quran hingga malaikat Jibril alaihissalam belum menuntut, Nabi Muhammad SAW sudah menirukanya. Allah melarang Nabi Muhammad SAW, menurukan bacaan Jibril kalimat demi kalimat,sebelum malaikat Jibril alaihissalam membacakanya sampai selesai. Hal ini dilakukan agar Nabi Muhammad SAW benar-benar faham dan hafal ayat yang diturunkan.Artinya tanamkanlah kegemaean membaca al-Quran, pelajari secara bertahap, dan siapapun yang ingin mempelajarinya haruslah ada pembimbingnya, agar ketika terjadi kesalahan ada yang mengoreksinya.

Allah SWT berfirman dalam surat al-Qiyamah ayat 16-21 yang artinya :”… Janganlah kamu gerakan lidahmu untuk (membaca) al-Quran karna hendak cepat-cepat (menguasai)nya(16) Sesungguhnya atas tanggungan kalimah mengumpulkanya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (17). Apabila kami telah selesai membacakanya maka ikutilah bacaanya itu (18).Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan kalimah penjelasanya (19).Sekali-kali jangan demikian, sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia (20).Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat (21)…” (QS;al-Qiyamah : 16-21)

Pada ayat diatas Allah Swt memerintahkan dengan fi’il amar maka ikutilah bacaan itu artinya, setelah gemar membaca dan mengamalkan al-Qur’an kita tidak hanya tinggal diam. Kita disuruh mengikuti al-Qur’an,mengikuti amalan syariat dan hokum-hukumnya, sesuai dengan kapasitas diri masing-masing. Pelestarian dan pengakulturasian nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupansehari-hari sangatlah penting. Dengan kecintaan membaca ayat-ayat al-Qur’an, merupakan akan lahir suatu motivasi untuk mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan terhadap al-Quran tidak lahir terhadap spontanitas, selain upaya yang sungguh-sungguh dari diri sendiri, keluarga dan para ulama dalam meningkatkan tulis baca al-Qur’an, namun yang tidak kalah pentingnya adalah faktor apresiasi dari pemerintah.Jikalau kita seorang pejabat, tiada salahnya membuat peraturan daerah yang berhubungan dengan al-Qur’an, misalnya setiap anak yang ingin melanjutkan studinya ketingkat SLTP atau SLTA hendaknya memiliki sertifikat tulis baca al-Quran. Dengan demikian, TPA-TPA yang ada disekitar kita tidak akan sepi seperti sekarang ini.

Jadi al-Quran merupakan petunjuk dialah dan irsyad (penjelas dan bimbingan) bagi seluruh manusia, dan petunjuk taufiq bagi orang yang bertaqwa, khususnya mereka yang memenuhi pnggilan al-Quran. Jadi hidayah itu ada dua macam yaitu hidayah taufiq wal ‘amal (respon dan aksi). Ini khusus bagi yang beriman , dan hidayanh dialah wa irsyad (bimbingan dan penjelas )yang bersifat informatif bagin seluruh umat manusia.

Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/