Menghargai Perbedaan Aliran Islam Dalam Msyarakat

Perbedaan Aliran Islam Dalam Masyarakat

Menghargai Perbedaan Aliran Islam Dalam Msyarakat

Perbedaan Aliran Islam Dalam Masyarakat
Perbedaan Aliran Islam Dalam Masyarakat

Keberagaman

Allah swt menciptakan manusia secara bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dia menjadikan manusia penuh perdedaan pasti memiliki rencana terhadap manusia. Sebab allah tidak mungkin menciptakan sesuatu secara sia-sia.
Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات :
Artinya :

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S Al Hujurat:13)

Penjelasan Ayat Tersebut

Ayat tersebut telah menggambarkan dengan jelas bahwa perbedaan merupakan rahmat di mana kita harus menyikapinya dengan saling bertoleransi. Apabi;a allah menginginkan manusia menjadi satu tipe saja, maka hal tersebut amatlah mudah baginya. Oleh karena itu kita tidak sepatutnya mempertengkarkan perbedaan-perbedaan di antara sesama umat muslim.
Hal ini juga berlaku bagi penyikapan terhadap perbedaan-perbedaan pemahaman aliran dalam islam di masyarakat. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menyikapi perbedaan yang ada dengan sikap toleransi dan terbuka.

Untuk menghindari pertentangan dan menanamkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari, dapat di lakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
Membuka ruang dialog kepada sesama umat muslim yang memiliki perbedaan pandangan untuk mencapai titik temu permasalahan tersebut.
Tidak menyebarkan paham truth of claim (klaim kebenaran) atas pandangan pribadi, yang kemudian menyalahkan aliran-aliran lainnya.
Tidak menggunakan jalan kekerasan dalam menyikapi perbedaan pandanganajaran islam.

Selalu mengingat bahwa umat muslim adalah bersaudara, sehingga menciptakan suasana perdamaian, ketenangan dan toleransi.
Menyadari bahwa kebenaran tertinggi adalah milik allah, manusia hanya berusaha mendekati kebenaran yang ditetapkan oleh allah dalam ayat-ayatnya.

Baca Juga:

Macam Jihad dan Hukumnya

Macam Jihad dan Hukumnya

Macam Jihad dan Hukumnya

Macam Jihad dan Hukumnya
Macam Jihad dan Hukumnya

Hukum Jihad Adalah Wajib

Jihad merupakan kewajiban setiap orang beriman. Perintah jihad merupakan salah satu ujian Allah SWT untuk menguji sejauh mana keimanan seseorang. Firman Allah SWT,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja) sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman?” (QS 9:16)

Dalam al-Quran, kata jihad hampir selalu diikuti dengan kalimat fi sabilillah (di jalan Allah), menjadi jihad fi sabilillah, yaitu berjuang melalui segala jalan dengan niat untuk menuju keridhaan Allah SWT (mardhatillah) dalam rangka mengesakan Allah SWT (menegakkan tauhidullah), dan bahwa jihad harus dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah serta norma-norma yang telah ditentukan Allah SWT.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Macam-Macam Jihad

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS 9:20)

Berdasarkan ayat tersebut, jihad terbagi dua, yaitu
1. Jihadul Maali (jihad dengan harta)
2. Jihadun Nafsi (jihad dengan diri atau jiwa raga).

Jihad dengan harta yaitu berjuang membela kepentingan agama dan umat Islam dengan menggunaan materi (harta kekayaan) yang dimiliki.

Jihadunnafsi yaitu berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri berupa tenaga, pikiran, ilmu, kerampilan, bahkan nyawa sekalipun.

Ibnu Qayyim membagi jihad ke dalam tiga kategori dilihat dari pelaksanaannya, yaitu
1. Jihad mutlak,
2. Jihad hujjah,
3. Jihad ‘amm.

Jihad mutlak adalah perang melawan musuh di medan pertempuran (berjuang secara fisik). Jihad hujjah adalah jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat tentang kebenaran Islam (berdiskusi, debat, atau dialog).

Ibnu Taimiyah menanamakan jihad macam ini sebagai “jihad dengan lisan” (jihad bil lisan) atau “jihad dengan ilmu dan penjelasan” (jihad bil ‘ilmi wal bayan). Dalam hal ini, kemampuan ilmiah dan berijtihad termasuk di dalamnya.

Sedangkan jihad ‘amm (jihad umum) yaitu jihad yang mencakup segala aspek kehidupan baik yang bersifat moral maupun material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jihad ini dilakukan dengan mengorbankan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini adalah menghadapi musuh berupa diri sendiri (hawa nafsu), setan, ataupun musuh-musuh Islam (manusia).

Macam-Macam Jihad Menurut Imam Al-Ghazali

1. Jihad Zahir — jihad melawan orang yang tidak menyembah Allah SWT.
2. Jihad menghadapi orang yang menyebarkan ilmu dan hujjah yang batil.
3- Berjihad melawan nafsu yang sentiasa menyeret manusia ke arah kejahatan. (Kitab Penenang Jiwa, Imam Al-Ghazali)

Ayat-Ayat dan Hadits yang menerangkan tentang Jihad

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah , mereka itu mengharapkan rahmat Allah , dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah:218)
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah ), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Al Baqarah:273)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran:142)

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (An Nisaa’:95)

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah:35)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Anfaal:72)

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal:74)

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Anfaal:75)

Apakah kamu akan mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyatan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah , Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah:16)

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah . Mereka tidak sama di sisi Allah ; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (At Taubah:19).

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah ; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (At Taubah:20)

Definisi Jihad Dalam Islam

Definisi Jihad Dalam Islam

Definisi Jihad Dalam Islam

Definisi Jihad Dalam Islam
Definisi Jihad Dalam Islam

Pengertian jihad

yang sebenarnya harus dipahami dengan baik dan disosialisasikan oleh para kaum Muslim kepada publik agar tidak terjadi miskonsepsi, mispersepsi, dan misunderstanding tentang konsep jihad dalam Islam.
Pengertian jihad pada masa ini tampak makin “menyempit”, yaitu hanya dipahami sebagai “perang suci” (holy war) atau “perang bersenjata” (jihad fisik atau dilakukan secara militer). Bahkan, dewasa ini kalangan masyarakat Barat kerap mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme, bahkan terorisme.

Aksi kekerasan yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan dan perjuangan sebuah gerakan Islam oleh bangsa Barat sering disebut dengan aksi “terorisme”.Dan sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini bahwa itu sebagai salah satu manifestasi jihad fi sabilillah.

Bagi para mujahid sebutan bagi orang-orang yang berjihad, mati syahid adalah cita-cita mereka karena para syuhada dijamin akan masuk surga.
Secara Bahasa Jihad Berarti:
Kata jihad berasal dari bahasa arab yaitu dari kata “jahada” atau ”jahdun” (جَهْدٌ) yang memiliki arti “usaha” sedangkan “juhdun” ( جُهْدٌ) berarti kekuatan.

Secara bahasa, asal makna kata jihad adalah “mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan yang diyakini bahwa jalan itulah yang benar”.
Menurut Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi Saw, secara bahasa jihad memiliki arti “mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi”.

Secara Istilah Jihad

Jihad secara istilah memiliki arti yang sangat luas, mulai dari mencari nafkah hingga berperang melawan kaum kuffar atau kafir yang memerangi Islam dan kaum Muslim.

Dalam istilah syariat, jihad berarti mengerahkan seluruh daya kekuatan untuk memerangi orang kafir dan para pemberontak.

Menurut Ibnu Taimiyah, jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai oleh Allah berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Makna jihad lebih luas cakupannya daripada aktivitas perang. Jihad meliputi pengertian perang, membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu, dan menghadapi setan.

Kata “jihad” dalam bentuk fiil maupun isim disebut sebanyak 41 kali dalam Al-Qur’an, sebagian tidak berhubungan dengan perang dan sebagiannya lagi berhubungan dengan perang.

Makna Jihad Secara Umum

Secara umum, sebagian ulama mendefinisikan jihad sebagai “segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan agama Islam dan pemberantasan kedzaliman serta kejahatan, baik terhadap diri sendiri maupun dalam masyarakat.”

Ada juga yang mengartikan jihad sebagai “berjuang dengan segala pengorbanan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Allah (Islam) atau membela kepentingan agama dan umat Islam.”

Kata-kata jihad dalam al-Quran kebanyakan mengandung pengertian umum. Artinya, pengertiannya tidak hanya terbatas pada peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala bentuk kegiatan dan usaha yang maksimal dalam rangka dakwah Islam, amar makruf nahyi munkar (memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran).
Dalam pengertian umum ini, berjihad harus terus berlangsung baik dalam keadaan perang maupun damai, karena tegaknya Islam bergantung pada jihad.

Baca Juga: Sifat Allah

Makna Jihad Secara Khusus

Jihad dalam arti khusus bermakna “perang melawan kaum kafir atau musuh-musuh Islam”. Pengertian seperti itu antara lain dikemukakan oleh Imam Syafi’i bahwa jihad adalah “memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam”.
Juga sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Atsir, jihad berarti “memerangi orang Kafir dengan bersungguh-sungguh, menghabiskan daya dan tenaga dalam menghadapi mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan.”
Pengertian jihad secara khusus inilah yang berkaitan dengan peperangan, pertempuran, atau aksi-aksi militer untuk menghadapi musuh-musuh Islam.
Kewajiban jihad dalam arti khusus ini (berperang, red) tiba bagi umat Islam, apabila atau dengan syarat:
Agama Islam dan kaum Muslim mendapat ancaman atau diperangi lebih dulu (QS 22:39, 2:190) Islam dan kaum Muslim mendapat gangguan yang akan mengancam eksistensinya (QS 8:39)
Untuk menegakkan kebebasan beragama (QS 8:39)
Membela orang-orang yang tertindas (QS 4:75).

Banyak sekali ayat al-Quran yang berbicara tentang jihad dalam arti khusus ini (perang), antara lain:  Tentang keharusan siaga perang (QS 3:200, 4:71);
Ketentuan atau etika perang (QS 2:190,193, 4:75, 9:12, 66:9);
Sikap menghadapi orang kafir dalam perang (QS 47:4),
Uzur yang dibenarkan tidak ikut perang (QS 9:91-92).

Ayat yang secara khusus menegaskan hukum perang dalam Islam bisa disimak pada QS 2:216-218 yang mewajibkan umat Islam berperang demi membela Islam. Dan, perang dalam Islam sifatnya “untuk membela atau mempertahankan diri” (defensif).

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Definisi atau Konsep Agama

Definisi atau konsep agama ada bermacam-macam, tergantung sudut pandang yang dipergunakannya. Geertz, seorang antropolog Amerika mengatakan bahwa agama adalah sebuah sistem simbol, sarana yang dipakai untuk membangun suasana hati dan motivasi yang kuat dan tahan lama di dalam diri manusia, rumusan konsepsi tatanan kehidupan, konsepsi suatu aura faktual, dan sarana untuk membuat suasana hati dan motivasi tampak realistik secara unik. Ia selanjutnya mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem kultur.

Pengertian Agama Menurut Beberapa Ahli

Adapun Edward Burnett Tylor mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan pada makhluk-makhluk spiritual. Lebih lanjut dikatakannya bahwa agama adalah budaya primitif. Menurutnya, tahap awal agama adalah kepercayaan animisme, yakni alam memiliki jiwa. Pemujaan terhadap orang mati, pemujaan kepada para leluhur atau nenek moyang.
Sementara itu, Durkheim mengatakan bahwa agama adalah hal yang berkenaan dengan yang sakral dengan yang sosial. Hal yang paling elementer di dalam agama adalah totemisme. Totem adalah objek penyembahan, tetapi bukan dewa. Totem tidak menimbulkan ketakutan atau kehormatan, bahkan secara primitif tidak didiami oleh roh. Namun, totem memiliki sifat sosial. Totem adalah simbol suatu suku bangsa.
Berlainan dengan Freud dan Marx, dikatakannya bahwa agama adalah kepercayaan kepada para dewa. Evan Pritchard dan Geertz mengatakan bahwa agama adalah hubungan yang tepat dengan wilayah mistik yang terletak di balik dan di luar kehidupan biasa. Dikutip dari Antropolog Haviland, agama adalah kepercayaan dan pola perilaku yang diusahakan oleh manusia untuk menangani masalah-masalah penting yang tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan teknologi dan teknik organisasi sehingga akhirnya berpaling kepada manipulasi makhluk dan kekuatan supranatural.

Ciri Agama

Kita telah mampu mendeskripsikan apa pengertian agama. Para ahli memang memiliki definisi sendiri-sendiri tentang agama. Bahkan kita pun bisa memberikan definisi tentang agama. Sebagai panduan, kita bisa mengenali ciri-ciri sebuah agama dari hal-hal sebagai berikut.
  • Pertama, terdiri atas ritual.
  • Kedua, ada doa, nyanyian, tarian, sesaji, dan kurban.
  • Ketiga, ada usaha manusia untuk memanipulasi makhluk dan kekuatan supernatural untuk kepentingannya sendiri; seperti dewa, dewi, arwah leluhur, roh, kekuatan impersonal.
  • Keempat, ada orang tertentu yang memiliki pengetahuan khusus untuk berhubungan dengan makhluk dan kekuatan gaib.

Menurut Daniel Lernercepat atau lambat masyarakat akan menuju pada , kehidupan modern. Penyebab hal tersebut diperkirakan oleh media massa yang dengan mudah mempengaruhi manusia berubah dari masyarakat tradisional menuju modern. Mannhardt mengatakan bahwa bentuk mitologi lebih sederhana adalah ritus-ritus dan kepercayaan para petani seperti hantu-hantu tanaman, rohroh gandum, dan roh-roh pepohonan.

Ada dua jenis agama yang ada di muka bumi ini.

Kedua jenis agama tersebut adalah agama bumi dan agama wahyu. Mari kita deskripsikan bersama.
a. Agama Bumi
Agama bumi tidak mengenal surga dan neraka, yang ada hanyalah hidup dan mati. Nirwana pun hanya ada dalam kehidupan. R.M. Lowie mengatakan bahwa agama primitif dipengaruhi dan ditentukan bentuknya oleh kesadaran tentang adanya hal yang misterius, supernatural, dan sesuatu yang luar biasa. Di dalam agama primitif, terdapat ritual magis yang secara psikologis berkaitan dengan peristiwa kerasukan, memercayai kekuatan supranatural mampu mengubah dunia.
b. Agama Wahyu
E.E. Evans Pritchard mengatakan bahwa awal munculnya agama adalah dari Tuhan bersamaan dengan diciptakannya manusia pertama yang juga bertindak selaku nabi, yaitu Adam. Dikutip dari Pritchard, yang disebut dengan wahyu bukanlah suatu khayalan atau imajinasi, atau bahkan intuisi.
Wahyu adalah firman Tuhan tentang diri-Nya, ciptaan-Nya, relasi antara keduanya, serta jalan menuju keselamatan yang disampaikan Nabi dan Rasul pilihan-Nya direpresentasikan melalui kata-kata dan disampaikan kepada Nabi kepada umat manusia melalui bentuk bahasa yang bersifat baru, mudah dipahami tanpa kerancuan (confusion) dengan subjektivitas dan inagurasi kognitif pemikiran Nabi. Teks Eksposisi Dikutip dari van Baal, wahyu adalah sesuatu yang datang dari Tuhan atau dari dewa-dewa, jadi hal yang tidak dapat dijangkau oleh daya pikir manusia.

Konsep Religi

Konsep Religi

Konsep Religi

 

Konsep Religi

Pengertian Religi

Sementara itu, konsep religi memiliki pengertian yang senada dengan agama. Dikutip dari J. van Baal, religi adalah semua gagasan yang berkaitan dengan kenyataan yang tidak dapat ditentukan secara empiris dan semua gagasan tentang perbuatan yang bersifat dugaan semacam itu, dianggap benar. Dengan demikian, surga atau neraka dianggap benar adanya meski tidak dapat dibuktikan keberadaannya.
Religi itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan nilai susila yang agung. Religi itu memiliki nilai, dan bukannya sistem ilmu pengetahuan. Religi juga sesuatu yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan rasio. Religi menyangkut pula masalah yang dimiliki manusia. Religi sangat mempercayai adanya Tuhan, hukum kesusilaan, dan roh yang abadi.

Spencer mengatakan bahwa awal mula munculnya konsep religi adalah karena manusia sadar dan takut akan maut.

Berikutnya terjadi evolusi menjadi lebih kompleks dan terjadi diferensiasi. Diferensiasi tersebut adalah penyembahan kepada dewa; seperti dewa kejayaan, dewa kebijaksanaan, dewa perang, dewa pemelihara, dewi kecantikan, dewa maut, dan lain sebagainya.
Di dalam religi juga muncul yang disebut dengan Fetiyisme. De Brosess mengatakan bahwa fetiyisme adalah pemujaan kepada binatang atau barang tak bernyawa yang dijadikan dewa. Sementara itu kepercayaan akan kekuatan suatu benda yang diciptakan oleh ahlinya disebut dengan
Feitico atau azimat. Orang-orang yang berlayar banyak yang mengenakan azimat ini agar dapat selamat kembali ke darat.

 

Sumber penting di dalam religi adalah adanya empat hal yang muncul yang berkaitan dengan perasaan;

yakni takut, takjub, rasa syukur, dan masuk akal. Di dalam perkembangannya, animisme berubah menjadi politeisme, dan lalu berubah menjadi monoteisme. Banyak istilah yang kemudian muncul berkenaan dengan adanya sistem religi. Istilah yang kerap muncul di dalam religi adalah Tuhan, dewa, dewi, malaikat, roh, jin, iblis, setan, hantu, peri, raksasa, momok, roh, nyawa, orang mati, syamanisme, monoteisme, politeisme, ateisme, kesurupan, kerasukan, wahyu, pendeta, guru, nabi, pengkhotbah, dukun, ahli sihir, intuisi, pertanda, ramalan, animisme, totemisme, meditasi, puasa, mana, tabu, sakral, najis, kudus, duniawi, dan seterusnya. Jika dicermati, istilah-istilah tersebut memiliki hal yang agung, gaib, suci, menakutkan, dan tak kasat mata.

R.R. Marret mengatakan bahwa animisme bukan tahap awal suatu agama, melainkan pra-animisme.

Pra-animisme; yakni animatisme. Dikutip dari Marret, animatisme adalah pengalaman tentang kekuatan yang impersonal; yaitu suatu kekuatan yang supranatural yang tinggal di dalam orang-orang tertentu, binatang tertentu, dan di dalam benda-benda yang tak berjiwa. Kekuatan tersebut dapat berpindah. Kekuatan ini disebut dengan mana.
Orang-orang primitif memiliki perasaan bahwa ada sesuatu kekuatan gaib pada orang-orang dan benda-benda tertentu. Ada dan tidak adanya perasaan tersebut yang kemudian memisahkan antara yang suci (ukhrowi) dengan duniawi; dunia gaib dengan dunia sehari-hari. Dari hal tersebut muncul dengan yang dinamakan takwa. Dikutip dari Pritchard, takwa adalah suatu gabungan dari rasa takut, damba, kagum, tertarik, hormat, bahkan mungkin cinta.

Spencer mengatakan bahwa konsep religi

muncul karena manusia sadar dan merasa takut akan adanya maut, berevolusi kepada yang lebih kompleks menjadi penyembahan terhadap dewa maut, dewa perang, dewi kecantikan, dewa laut, dan sebagainya. E.B. Tylor mengatakan bahwa bentuk religi yang tertua adalah penyembahan kepada roh-roh yang merupakan personifikasi dari jiwa orang-orang yang telah meninggal, terutama nenek moyang.

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir
Penjelasan Sholat Witir

Secara garis besar, islam sangat menganjurkan sekali kepada umatnya untuk memperbanyak ibadah dan amal sholeh dan salah satu amalan tersebut yakni mengerjakan sholat sunnah witir. Sholat witir ialah suatu ibadah yang sanggup mendekatkan diri kepada Allah swt, sebagaimana yang kita ketahui sebenarnya Allah swt sangat menyayangi hambanya saat ia menyempurnakan amalan fardunya dengan amalan sunnahnya. Dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda : sesungguhnya Allah swt itu gabjil, dan menyukai yang ganjil, maka sholat witirlah kalian wahaai para hebat quran,

Hukum yang berkaitan dengan sholat witir

yaitu : Sesunggguhnya Allah swt menyukai bilangan ganjil, sebagaiana yang sanggup kita ambil dari hadist diatas. Hal ini disebabkan bahwa Allah swt itu satu, tidak ada yang kuasa lagi selainnya. Selain itu aneka macam pola penetapan syariah islam yang memakai bilangan ganjil ini, sebut saja sholat lima waktu, jumlah rakaatnya yaitu 17, maka ia termasuk bilangan ganjil. Kemudian Allah set membuat langit dan bumi 7 tingkat. Dan masih banyak lagi.
Adapun terkena waktunya yaitu dari mulai shlat isya hingga terbitnya fajar. Seabgaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah ra berkata : dari setiap malam, Rasulullah saw melaksanakan sholat witir baik itu dilaksanakan pada awal malam, dan selesai waktu witirnya tersebut pada waktu sahur. Adapun lebih baiknya sholat witir itu dilaksanakan pada waktu simpulan malam tepatnya pada sepertiga malam simpulan karena keadaan ini yaitu dimana Allah swt turun ke langit bumi”. Kita sebagai orang mukmin haruslah mempercayainya akan hal itu tetapi juga harus di ingat tanpa harus tahu bagaimanakah hal perihan turunnya tersebut.

Baca Juga: Ayat Kursi

Hukum sholat witir

yaitu : Sunnah Muakkad, sebagaimana yang sudah dikatakan oleh Syeikh Abdullah bin Baz ra salah seorang tokoh ulama populer Arab Saudi didalam salah satu wafatnya dan ulama lainnya. Adapun untuk tata caranya, sanggup dilakukan dengan cara satu rakaat, sanggup juga tiga rakaat yaitu shalat 2 rakaat disertai salam kemudian disempurnakan dengan satu rakaat witir, sanggup juga 5 rakaat yaitu 2 kali salam dan satu rakaat witir, begitupun seterusnya 7, 9, dan 11. Semuanya sanggup dilaksanakan dengan 2 rakaat 2 rakaat kemudian disertai dengan 1 rakaat shalat witir. Rasulullah saw seringnya melaksanakan sholat witir yaitu 11 rakaat.
Untuk tambahan, sehabis melaksanakan sholat witir disunnahkan untuk membaca : diriwayat lain yaitu riwayat Daaru Qutni, ada sedikit penambahan kata dari doa diatas yaitu pada simpulan bacaannya dimenambahkan denagn kata isnadnya shohih.

Kesimpulannya

yaitu sholat witir ialah amalan ibadahyang sanggup mendekatkan diri kta kepada Allah swt, sebagaimana yang sudah kita ketahui sebenarnya Allah swt mencintdiseebabai hambanya saat ia menyempurnakan amalan fardunya dengan amalan sunnahnya. Dan Rasulullah saw pun berwasiat kepada teman erat terdekatnya yaitu Abu Horairoh ra (eriwayat hadist rasulullah saw terbanyak berdasarkan para hebat hadist) dan Abi Darda ra untuk tidak meninggalkan sholat witir disebabkan oleh besarnya Fadilah yang didapat dari amalan tersebut.

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH
MACAM-MACAM KAFALAH

a. Kafalan bin nafs

Merupakan akad memberikan jaminan atas diri (personal guarantee). Sebagai contoh, dalam praktik perbankan bentuk kafalah bin nafs adalah seorang nasabah yang mendapat penbiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang atau pemuka masyarakat. Walaupun bank secara fisik tidak memegang barang apapun, tetapi bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan.

b. Kafalah bin maal

Kafalah bin maal merupakan jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang.

c. Kafalah bit-taslin

Jenis kafalah ini biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa, pada waktu masa sewa berakhir.
Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksakan oleh bank untuk kepentingan nasabahnya dalam bentuk kerja sama dengan perusahaan penyewaan (leasing company). Jaminan bagi bank dapat berupa deposito/tabungan dan bank dapat membebankan uang jasa (fee) kepada nasabah itu.

d. Kafalah al-munjazah

Adalah jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka waktu dan untuk kepentingan/tujuan tertentu.
Salah satu bentuk kafalah al-munjazah adalah pemberian jaminan dalam bentuk perfonce bonds (jaminan prestasi), suatu hal yang lazim dikalangan perbankan dan hal ini sesuai dengan bentuk akad.

e. Kafalah al-muallaqoh

Bentuk jaminan ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al-munjazah, baik oleh industry perbankan maupun asuransi. [4]

PEMBAYARAN KAFIIL

Jika kafiil (penjamin) telah melaksanakan kewajibannya dengan membayar utang orang yang ia jamin (makfuul anhu) maka si kafiil boleh meminta kembali kepada makfuul anhu apabila pembayaran itu dilakuakan berdasarkan izinnya. Alasannya, karena si kafiil telah mengeluarkan harta untuk kepentingan yang bermanfaat bagi si makfuul anhu. Dalam hal ini kempat imam sepakat. Namun mereka berbeda pendapat jika pembayaran dilakukan kafiil tanpa seizin makfuul anhu, sedangkan si kafiil sudah terlanjur membayar.

Menurut Syafii dan Abu Hanifah bahwa membayar utang orang yang dijamin tanpa izin darinya hukum sunah. Dhamin (kafiil) tidak berhak untuk minta ganti rugi kepadaorang yang ia jamin. Tetapi menurut maliki dhamin berhak menagih kembali kepada makfuul anhu.

Ibnu Hazm berpendapat bahwa dhamin tidak berhak menagih kembali kepada makfuul anhu atas apa yang telah ia bayarkan baik dengan izin makfuul anhu atau tidak.

Jika makfuul anhu ghaib (tidak ada) kafiil tetap berkewjiban menjamin. Ia tidak dapat mengelak dari kafalah kecuali dengan membayar atau orang yang berpiutang menyatakan bebas untuk kafiil dari utang maakfuul anhu.

Baca Juga:

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya
Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah

Al-kafalah menurut bahasa artinya, menggambungkan, jaminan, beban, dan tanggugan. Kafalah juga disebut dengan al-dhaman.
Menurut istilah syara’ sebagaimana didefinisikan oleh para ulama’:
1. Menurut Hasby ash-shiddiqie: menggambungkan dzimmah (tanggung jawab) kepada dzimmah yang lain dalam penagihan. [1]
2. Menurut mazhab syafii: akad yang menetapkan hak pada tanggungan (beban) yang lain atau menghadirkan zat benda yang dibebankan atau menghadirkan badan oleh orang yang berhak menghadirkannya.
3. Menurut Hanafiyah: proses penggambungan tanggungan kafiil menjadi tanggungan ashiil dalam tuntutan atau permintaan dengan materi atau utang atau barang atau pekerjaan.[2]
Dari beberapa definisi di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa kafalah/dhaman adalah transaksi yang menggabungkan dua tanggungan (beban) untuk memenuhi kewajiban baik berupa utang, uang, barang, pekerjaan, maupun badan.

LANDASAN ATAU DASAR HUKUM

a. Al-Qur’an

(QS. Yusuf : 72) Artinya: Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala Raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”.

Baca Juga: Rukun Iman

b. Al-Hadist

Pinjaman hendaklah dikembalikan dan orang yang menjamin wajib untuk membayar. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

RUKUN DAN SYARAT KAFALAH

Menurut madzhab Hanafi bahwa rukun kafalah ada satu yaitu ijab dan qabul. Sedangkan menurut para ulama lainnya, bahwa rukun dan syarat al-kafalah adalah sebagai berikut:
a) Dhamin, kafil atau Zai’im, yaitu orang yg menjamin, dimana ia disyaratkan sudah baligh, berakal, tidak dicegah membelanjakan harta (mahjur) dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri.
b) Makful lahu atau disebut juga dengan madmun lah, yaitu orang yang berpiutang atau orang yang memberi utang, syaratnya orang yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin.
c) Makful ‘anhu atau disebut juga dengan madmun’anhu adalah orang yang berutang.
d) Makful bih atau madmun bih adalah utang, barang atau orang, disyaratkan pada makful bih dapat diketahui dan tetap keadaanya, baik sudah tetap atau akan tetap.
e) Lafadz, disyaratkan keadaan lafadz itu berarti menjamin, tidak digantungkan kepada sesuatu atau tidak sementara.

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian Wakalah

Secara bahasa kata al-Wakalah atau al-wikalah berarti al-Tafwidh (penyerahan, pendelegasian dan pemberian mandat) seperti perkataan :usanku kepada Allah
و كلت أمرى الى الله أى فو ضته اليه
Artinya: “aku serahkan urusanku kepada Allah”.
Secara terminologi (syara’) sebagaimana dikemukakan oleh fukaha:

1. Imam Taqy al-Din Abu Bakr Ibn Muhammad al-Husaini

تفويض ما له فعله مما يقبل النيا بة الى غيره ليحفظه فى حال حياتهArtinya: “menyerahkan suatu pekerjaan yang dapat digantikan kep[ada orang lain agar dikelola dan dijaga pada masa hidupnya”.

2. Menurut Hasbi Ash-Shiddiqie

“Akad penyerahan kekuasaan dimana pada akad itu seseorang menunjuk orang lain sebagai gantinya untuk bertindak”.

Dari dua definisi diatas dapat ditari kesimpulan bahwa Wakalah adalah sebuah transaksi dimana seseorang menunjuk orang lain untuk menggantikan dalam mengerjakan pekerjaannya/perkaranya ketika masih hidup.
Dalam Wakalah sebenarnya pemilik urusan (muwakkil) itu dapat secara sah untuk mengerjakan pekerjaannya secara sendiri. Namun, karena satu dan lain hal urusan itu ia serahkan kepada orang lain yang dipandang mampu untuk menggantikannya. Oleh karena itu, jika seorang (muwakkil) itu ialah orang yang tidak ahli untuk mengerjakan urusannya itu seperti orang gila atau anak kecil maka tidak sah untuk mewakilkan kepada orang lain. Contoh Wakalah, seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk bertindak sebagai wali nikah dalam pernikahan anak perempuannya. Contoh lain seorang terdakwa mewakilkan urusan kepada pengacaranya.

Baca Juga: Rukun Islam

Aplikasi Wakalah

Akad Wakalah dapat diaplikasikan ke dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang ekonomi, terutama dalam institusi keuangan:

a. Transfer uang

Proses transfer uang ini adalah proses yang menggunakan konsep akad Wakalah, dimana prosesnya diawali dengan adanya permintaan nasabah sebagai Al-Muwakkil terhadap bank sebagai Al-Wakil untuk melakukan perintah/permintaan kepada bank untuk mentransfer sejumlah uang kepada rekening orang lain, kemudian bank mendebet rekening nasabah (Jika transfer dari rekening ke rekening), dan proses yang terakhir yaitu dimana bank mengkreditkan sejumlah dana kepada kepada rekening tujuan. Berikut adalah beberapa contoh proses dalam transfer uang ini

a) Wesel Pos
Pada proses wesel pos, uang tunai diberikan secara langsung dari Al-Muwakkil kepada Al-Wakil, dan Al-Wakil memberikan uangnya secara langsung kepada nasabah yang dituju. Berikut adalah proses pentransferan uang dalam Wesel Pos.
b) Transfer uang melalui cabang suatu bank
Dalam proses ini, Al-Muwakkil memberikan uangnya secara tunai kepada bank yang merupakan Al-Wakil, namun bank tidak memberikannya secara langsung kepada nasabah yang dikirim. Tetapi bank mengirimkannya kepada rekening nasabah yang dituju tersebut. Berikut adalah proses pentrasferan uang melalui cabang sebuah bank.
c) Transfer melalui ATM
Kemudian ada juga proses transfer uang dimana pendelegasian untuk mengirimkan uang, tidak secara langsung uangnya diberikan dari Al-Muwakkil kepada bank sebagai Al-Wakil. Dalam model ini, Nasabah Al-Muwakkil meminta bank untuk mendebet rekening tabungannya, dan kemudian meminta bank untuk menambahkan di rekening nasabah yang dituju sebesar pengurangan pada rekeningnya sendiri. Yang sangat sering terjadi saat ini adalah proses yang ketiga ini, dimana nasabah bisa melakukan transfer sendiri melalui mesin ATM.

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah
Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Pemalsuan hadits

Pada abad kedua hijriyah kegiatan pemalsuan Hadits semakin berkembang. Motif pemalsuan Hadits pada masa ini tidak lagi hanya untuk menarik keuntungan bagi golongannya dan mencela lawan politiknya, tetapi sudah semakin beragam seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang cerita dalam rangka menarik minat orang banyak, kaum zindik yang bertujuan untuk meruntuhkan Islam, dan lain-lain. Uraian secara lebih rinci dan lebih jelas tentang keberadaan Hadis-Hadis palsu ini, akan terlihat pada uraian tentang Hadis palsu dan permasalahannya berikut.

Periode ini berlangsung sejak masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun sampai pada awal pemerintahan Khalifah Al-Muqtadir dari kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Pada periode ini para Ulama Hadis memusatkan perhatian mereka pada pemeliharaan keberadaan dan terutama kemurnian Hadits Hadits Nabi SAW, sebagai antisipasi mereka terhadap kegiatan pemalsuan Hadis yang semakin marak.

Abad Kedua Hijriah

Pada abad kedua Hijriah perkembangan ilmu pengetahuan Islam pesat sekali dan telah melahirkan para imam mujtahid di berbagai bidang, di antaranya di bidang Fiqh dan Ilmu Kalam. Pada dasarnya para imam mujtahid tersebut, meskipun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat, mereka saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. Akan tetapi, para pengikut masing-masing imam, terutama setelah memasuki abad ke-3 Hijriah, berkeyakinan bahwa pendapat gurunya (imamnya)-lah yang benar, dan bahkan hal tersebut sampai menimbulkan bentrokan pendapat yang semakin meruncing. Di antara pengikut mazhab yang sangat fanatik, akhirnya menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka mendukung mazhabnya dan menjatuhkan mazhab lawannya.

Di antara mazhab Ilmu Kalam, khususnya Mu’tazilah, sangat memusuhi Ulama Hadis sehingga terdorong untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka memaksakan pendapat mereka. Hal ini terutama setelah Khalifah Al-Ma’mun berkuasa dan mendukung golongan Mu’tazilah. Perbedaan pendapat mengenai kemakhlukan Al-Qur’an menyebabkan Imam Ahmad ibn Hanbal, seorang tokoh Ulama Hadis, terpaksa dipenjarakan dan disiksa. Keadaan ini berlanjut terus pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim (w. 227 H) dan AkWatsiq (w. 232 H); dan barulah setelah pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil, yang mulai memerintah pada tahun 232 H” keadaan berubah dan menjadi positif bagi Ulama Hadis.

Penciptaan Hadis-Hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang fanatik mazhab, tetapi momentum pertentangan mazhab tersebut juga dimanfaatkan oleh kaum zindik yang sangat memusuhi Islam, untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka merusak ajaran Islam dan menyesatkan kaum Muslimin. Kegiatan pemalsuan Hadis ini semakin disemarakkan oleh para pembuat kisah, yang dalam rangka menarik para pendengarnya juga melakukan pemalsuan Hadis.

Selain berkembangnya Hadis palsu, pada abad kedua hijriyah ini muncul pula sekelompok orang yang menolak Hadis. Di antara mereka ada yang menolak Hadis secara keseluruhan, baik Hadits Ahad maupun juga Hadis Mutawatir, dan ada yang menolak Hadis Ahad saja. Imam Al-Syafi’i bangkit dan melakukan serangan balik terhadap kelompok yang menolak Hadis ini, yaitu dengan cara mengemukakan bantahan terhadap satu per satu argumen yang di kemukakan oleh para penolak Hadis di atas dengan mengemukakan dalil-dalil yang lebih kuat. Oleh karenanya, Imam Al-Syafi’i diberi gelar “Nashir al-Hadits” (“penolong Hadis”) atau “Multazim al-Sunnah”.

Salah satu usaha menjaga pemurnian hadits adalah dengan melakukan pengkodifikasian hadits .

Kitab Hasil Modifikasi

Di antara kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi pada abad kedua hijriyah yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak dirujuk oleh para Ulama adalah:

Kitab Al-Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
Musnad Al-Syafi’i, karya Imam Al-Syafi’i, yaitu berupa kumpulan Hadis yang terdapat dalam kitab Al-Umm.
Mukhtaliful Hadits, karya Imam Al-Syafi’i yang isinya mengandung pembahasan tentang cara-cara menerima Hadis sebagai hujjahdan cara-cara mengkompromikan Hadis yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
Al-Sirat al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi SAW dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi (Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis. 104-105)

Ciri-Ciri Kitab Hadits Abad ke Dia Hijriyah

Di antara sistem pembukuan dan ciri kitab kitab Hadits pada abad kedua hijriyah ini adalah:
Pada umumnya kitab-kitab Hadis pada abad ini menghimpun Hadits Hadits Rasul SAW serta fatwa-fatwa Sahabat dan Tabi’in. Yang hanya menghimpun Hadis- Hadis Nabi SAW adalah kitab yang disusun oleh Ibn Hazm. Hal ini sejalan dengan instruksi Khalifah ‘Umar ibn Abd al-Aziz yang berbunyi:

Janganlah kamu terima selain dari Hadis Nabi SAW.
Himpunan Hadits pada masa ini masih bercampurbaur antara berbagai topik yang ada, seperti yang menyangkut bidang Tafsir, Sirah, Hukum, dan sebagainya, dan belum dihimpun berdasarkan topik-topik tertentu.
Di dalam kitab-kitab Hadis pada periode ini belum dijumpai pemisahan antara Hadis-Hadis yang berkualitas Shahih, Hasan, dan Dha’if.

Demikian uraian tentang usaha pemalsuan hadits dan usaha menjaga pemurnian hadits pada abad kedua hijriyah ini, mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: