Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah
Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Pemalsuan hadits

Pada abad kedua hijriyah kegiatan pemalsuan Hadits semakin berkembang. Motif pemalsuan Hadits pada masa ini tidak lagi hanya untuk menarik keuntungan bagi golongannya dan mencela lawan politiknya, tetapi sudah semakin beragam seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang cerita dalam rangka menarik minat orang banyak, kaum zindik yang bertujuan untuk meruntuhkan Islam, dan lain-lain. Uraian secara lebih rinci dan lebih jelas tentang keberadaan Hadis-Hadis palsu ini, akan terlihat pada uraian tentang Hadis palsu dan permasalahannya berikut.

Periode ini berlangsung sejak masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun sampai pada awal pemerintahan Khalifah Al-Muqtadir dari kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Pada periode ini para Ulama Hadis memusatkan perhatian mereka pada pemeliharaan keberadaan dan terutama kemurnian Hadits Hadits Nabi SAW, sebagai antisipasi mereka terhadap kegiatan pemalsuan Hadis yang semakin marak.

Abad Kedua Hijriah

Pada abad kedua Hijriah perkembangan ilmu pengetahuan Islam pesat sekali dan telah melahirkan para imam mujtahid di berbagai bidang, di antaranya di bidang Fiqh dan Ilmu Kalam. Pada dasarnya para imam mujtahid tersebut, meskipun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat, mereka saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. Akan tetapi, para pengikut masing-masing imam, terutama setelah memasuki abad ke-3 Hijriah, berkeyakinan bahwa pendapat gurunya (imamnya)-lah yang benar, dan bahkan hal tersebut sampai menimbulkan bentrokan pendapat yang semakin meruncing. Di antara pengikut mazhab yang sangat fanatik, akhirnya menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka mendukung mazhabnya dan menjatuhkan mazhab lawannya.

Di antara mazhab Ilmu Kalam, khususnya Mu’tazilah, sangat memusuhi Ulama Hadis sehingga terdorong untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka memaksakan pendapat mereka. Hal ini terutama setelah Khalifah Al-Ma’mun berkuasa dan mendukung golongan Mu’tazilah. Perbedaan pendapat mengenai kemakhlukan Al-Qur’an menyebabkan Imam Ahmad ibn Hanbal, seorang tokoh Ulama Hadis, terpaksa dipenjarakan dan disiksa. Keadaan ini berlanjut terus pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim (w. 227 H) dan AkWatsiq (w. 232 H); dan barulah setelah pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil, yang mulai memerintah pada tahun 232 H” keadaan berubah dan menjadi positif bagi Ulama Hadis.

Penciptaan Hadis-Hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang fanatik mazhab, tetapi momentum pertentangan mazhab tersebut juga dimanfaatkan oleh kaum zindik yang sangat memusuhi Islam, untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka merusak ajaran Islam dan menyesatkan kaum Muslimin. Kegiatan pemalsuan Hadis ini semakin disemarakkan oleh para pembuat kisah, yang dalam rangka menarik para pendengarnya juga melakukan pemalsuan Hadis.

Selain berkembangnya Hadis palsu, pada abad kedua hijriyah ini muncul pula sekelompok orang yang menolak Hadis. Di antara mereka ada yang menolak Hadis secara keseluruhan, baik Hadits Ahad maupun juga Hadis Mutawatir, dan ada yang menolak Hadis Ahad saja. Imam Al-Syafi’i bangkit dan melakukan serangan balik terhadap kelompok yang menolak Hadis ini, yaitu dengan cara mengemukakan bantahan terhadap satu per satu argumen yang di kemukakan oleh para penolak Hadis di atas dengan mengemukakan dalil-dalil yang lebih kuat. Oleh karenanya, Imam Al-Syafi’i diberi gelar “Nashir al-Hadits” (“penolong Hadis”) atau “Multazim al-Sunnah”.

Salah satu usaha menjaga pemurnian hadits adalah dengan melakukan pengkodifikasian hadits .

Kitab Hasil Modifikasi

Di antara kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi pada abad kedua hijriyah yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak dirujuk oleh para Ulama adalah:

Kitab Al-Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
Musnad Al-Syafi’i, karya Imam Al-Syafi’i, yaitu berupa kumpulan Hadis yang terdapat dalam kitab Al-Umm.
Mukhtaliful Hadits, karya Imam Al-Syafi’i yang isinya mengandung pembahasan tentang cara-cara menerima Hadis sebagai hujjahdan cara-cara mengkompromikan Hadis yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
Al-Sirat al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi SAW dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi (Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis. 104-105)

Ciri-Ciri Kitab Hadits Abad ke Dia Hijriyah

Di antara sistem pembukuan dan ciri kitab kitab Hadits pada abad kedua hijriyah ini adalah:
Pada umumnya kitab-kitab Hadis pada abad ini menghimpun Hadits Hadits Rasul SAW serta fatwa-fatwa Sahabat dan Tabi’in. Yang hanya menghimpun Hadis- Hadis Nabi SAW adalah kitab yang disusun oleh Ibn Hazm. Hal ini sejalan dengan instruksi Khalifah ‘Umar ibn Abd al-Aziz yang berbunyi:

Janganlah kamu terima selain dari Hadis Nabi SAW.
Himpunan Hadits pada masa ini masih bercampurbaur antara berbagai topik yang ada, seperti yang menyangkut bidang Tafsir, Sirah, Hukum, dan sebagainya, dan belum dihimpun berdasarkan topik-topik tertentu.
Di dalam kitab-kitab Hadis pada periode ini belum dijumpai pemisahan antara Hadis-Hadis yang berkualitas Shahih, Hasan, dan Dha’if.

Demikian uraian tentang usaha pemalsuan hadits dan usaha menjaga pemurnian hadits pada abad kedua hijriyah ini, mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang
Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Hadits pada Pertengahan Abad ke-7 Hijriah Sampai Sekarang (Masa Pensyarahan, Penghimpunan, Pentakhrijan, dan Pembahasannya)

Kegiatan Periwayatan Hadits pada Periode Ini

Periode ini dimulai sejak Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad ditaklukkan oleh tentara Tartar (656 H/ 1258 M), yang kemudian Kekhalifahan Abbasiyah tersebut dihidupkan kembali oleh Dinasti Mamluk dari Mesir setelah mereka berhasil menghancurkan bangsa Mongol tersebut. Pembaiatan khalifah oleh Dinasti Mamluk hanyalah sekadar simbol saja agar daerah-daerah Islam yang lain dapat mengakui Mesir sebagai pusat pemerintahan Islam, dan selanjutnya mengakui Dinasti Mamluk sebagai penguasa Dunia Islam. Akan tetapi, pada permulaan abad ke-8 H, Utsman Kajuk mendirikan kerajaan di Turki di atas puing-puing peninggalan Bani Saljuk di Asia Tengah, sehingga bersama-sama dengan keturunannya Utsman berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitarnya dan selanjutnya membangun Daulah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Dengan berhasilnya mereka menaklukkan Konstantinopel dan Mesir serta meruntuhkan Khilafah Abbasiyah, maka berpindahlah pusat kekuasaan Islam dari Mesir ke Konstantinopel. Pada abad ke-13 H (awal abad ke-19 M), Mesir, dengan dipimpin oleh Muhammad Ali, mulai bangkit untuk mengembalikan kejayaan Mesir masa silam. Namun, Eropa yang dimotori oleh Inggris dan Prancis semakin bertambah kuat dan berkeinginan besar untuk menguasai dunia. Mereka secara bertahap mulai menguasai daerah-daerah Islam, sehingga pada abad ke-19 M sampai awal abad ke-20 M hampir seluruh wilayah Islam dijajah oleh bangsa Eropa. Kebangkitan kembali umat Islam baru dimulai pada pertengahan abad ke-20 M.

Sejalan dengan keadaan dan kondisi daerah-daerah Islam di atas, maka kegiatan periwayatan Hadits pada periode ini lebih banyak dilakukan dengan cara ijazah dan mukatabah. Ijazah adalah pemberian izin dari seorang guru kepada muridnya untuk meriwayatkan Hadits-Hadits yang berasal dari guru tersebut, baik yang tertulis ataupun yang bersifat hafalan. Sedangkan mukatabah adalah pemberian catatan Hadits dari seorang guru kepada orang lain (muridnya), baik catatan tersebut ditulis oleh guru itu sendiri atau yang didiktekannya kepada muridnya. (Lihat M. Syuhudi Ismail. Pengantar Ilmu Hadits, h. 125).

Sedikit sekali dari Ulama Hadits periode ini yang melakukan periwayatan Hadits secara hafalan sebagaimana yang dilakukan oleh Ulama mutaqaddimin. Di antara mereka yang sedikit itu adalah:

Al-Iraqi (w. 806 H /1404 M). Dia berhasil mendiktekan Hadits secara hafalan kepada 400 majelis sejak tahun 796 H /1394 M, dan juga menulis beberapa kitab Hadits. Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1448 M), seorang penghafal Hadits yang tiada tandingannya pada masanya. Dia telah mendiktekan Hadits kepada 1.000 majelis dan menulis sejumlah kitab yang berkaitan dengan Hadits. Al-Sakhawi (w. 902 H/ 1497 M), murid Ibn Hajar, yang telah mendiktekan Hadits kepada 1.000 majelis dan menulis sejumlah kitab.

Pada periode ini, umumnya para Ulama Hadits mempelajari kitab-kitab Hadits yang telah ada, dan selanjutnya mengembangkannya atau meringkasnya sehingga menghasilkan jenis karya sebagai berikut:

Kitab Syarah

Yaitu, jenis kitab yang memuat uraian dan penjelasan kandungan Hadits dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil lain yang bersumber dari Al Qur’an, Hadits, ataupun kaidah-kaidah syara’ lainnya. Di antara contohnya adalah: Fath al-Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, yaitu syarah kitab Shahih Al-Bukhari,
Al-Minhaj, oleh Al-Nawawi, yang mensyarahkan kitab Shahih Muslim,
‘Aun al-Ma’bud, oleh Syams al-Haq al-Azhim al- Abadi, syarah Sunan Abu Dawud.

Kitab Mukhtashar

Yaitu, kitab yang berisi ringkasan dari suatu kitab Hadits, seperti Mukhtashar Shahih Muslim, oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi.

Kitab Zawa’id

Yaitu, kitab yang menghimpun Hadits-Hadits dari kitab-kitab tertentu yang tidak dimuat oleh kitab tertentu lainnya. Di antara contohnya adalah Zawa’id al-Sunan al-Kubra, oleh Al-Bushiri, yang memuat Hadits-Hadits riwayat al-Baihaqi yang tidak termuat dalam Al-Kutub al-Sittah.

Kitab Penunjuk Hadits (kode indeks)

Yaitu, kitab yang berisi petunjuk-petunjuk praktis untuk mempermudah mencari matan Hadits pada kitab-kitab tertentu. Contohnya, Miftah Kunuz al-Sunnah, oleh A.J. Wensinck, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh M. Fu’ad Abd al-Baqi.

Kitab Takhrij

Yaitu, kitab yang menjelaskan tempat- tempat pengambilan Hadits-Hadits yang dimuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan kualitasnya. Contohnya adalah, Takhrij Ahadits al-Ihya’, oleh Al-Iraqi. Kitab ini mentakhrij Hadits-Hadits yang terdapat di dalam kitab Ihya9 ‘Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali.

Kitab Jami’

Yaitu, kitab yang menghimpun Hadits-Hadits dari beberapa kitab Hadits tertentu, seperti Al-Lu’lu’wa al-Marjan, karya Muhammad Fu’ad al-Baqi. Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits Bukhari dan Muslim.

Terakhir kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum. Contohnya, Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam oleh Ibn Hajar al-Asqalani dan Koleksi Hadits- Hadits Hukum oleh T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Perkembangan Hadits, h. 116-122).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4
Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Periwayatan Hadits pada Periode ini

Periode ini dimulai pada masa Khalifah Al-Muqtadir sampai Khalifah Al-Mu’tashim. Meskipun pada periode ini kekuasaan Islam mulai melemah dan bahkan mengalami keruntuhan pada pertengahan abad ke-7 Hijriah akibat serangan Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan, kegiatan para Ulama Hadits dalam rangka memelihara dan mengembangkan Hadits tetap berlangsung sebagaimana pada periode-periode sebelumnya. Hanya saja Hadits-Hadits yang dihimpun pada periode ini tidaklah sebanyak yang dihimpun pada periode-periode sebelumnya. Kitab-kitab Hadits yang dihimpun pada periode ini adalah:
1. Al-Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (313 H),
2. Al-Anwar wa al-Taqsim oleh Ibn Hibban (354 H),
3. Al-Musnad oleh Abu Awanah (316 H),
4. Al-Muntaqa oleh Ibn Jarud,
5. Al-Mukhtarah oleh Muhammad ibn Abd al-Wahid al- Maqdisi.

Setelah lahirnya karya-karya di atas, maka kegiatan para Ulama berikutnya pada umumnya adalah merujuk kepada karya-karya yang telah ada dengan bentuk kegiatan seperti mempelajari, menghafal, memeriksa, dan menyelidiki sanad-sanadnya. Juga menyusun kitab-kitab baru dengan tujuan memelihara, menertibkan, dan menghimpun semua sanad dan matan yang saling berhubungan serta yang telah termuat secara terpisah dalam kitab-kitab yang telah ada tersebut.

Bentuk Penyusunan Kitab Hadits pada Periode Ini

Para Ulama Hadits periode ini memperkenalkan sistem baru dalam penyusunan Hadits, yaitu:

a. Kitab Athraf

Di dalam kitab ini penyusunnya hanya menyebutkan sebagian dari matan Hadits tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab Hadits yang dikutip matannya ataupun dari kitab-kitab lainnya. Contoh dari kitab jenis ini adalah:
Athraf al-Shahihaini, oleh Ibrahim al-Dimasyqi (w. 400 H),
Athraf al-Shahihaini, oleh Abu Muhammad Khalaf ibn Muhammad al-Wasithi (w. 401 H),
Athraf al-Sunan al-Arba’ah, oleh Ibn Asakir al- Dimasyqi (w. 571 H),
Athraf al-Kutub al-Sittah, oleh Muhammad ibn Thahir al-Maqdisi (507 H).

b. Kitab Mustakhraj

Kitab ini memuat matan Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya, atau lainnya, dan selanjutnya penyusun kitab ini meriwayatkan matan Hadits tersebut dengan sanad-nya sendiri. Contoh kitab ini adalah:

Mustakhraj Shahih Bukhari, oleh Jurjani.
Mustakhraj Shahih Muslim, oleh Abu Awanah (316 H),
Mustakhraj Bukhari-Muslim, oleh Abu Bakar ibn Abdan al-Sirazi (w. 388 H).

c. Kitab Mustadrak

Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau yang memiliki salah satu syarat dari keduanya. Contohnya adalah:

Al-Mustadrak, oleh Al-Hakim (321-405 H),
Al-Rzamat, oleh Al-Daraquthni (306-385 H).

d. Kitab Jami’

Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, yaitu seperti:
Yang menghimpun Hadits-Hadits Shahih Bukhari dan Muslim:

Al-Jami’ bayn al-Shahihaini, oleh Ibn al-Furat (Ibn Muhammad/w. 414 H),
Al-Jami’ Bayn al-Shahihaini, oleh Muhammad ibn Nashr al-Humaidi (488H),
Al-Jami’Bayn al-Shahihaini, oleh Al-Baghawi (516 H).
Yang menghimpun Hadits-Hadits dari Al-Kutub al-Sittah:

Tajrid al-Shihah, oleh Razim Mu’awiyah, yang disem¬purnakan oleh Ibn al-Atsir al-Jazari dalam kitab Al- Jami’ al-Ushul li Ahadits al-Rasul,
Al-Jamioleh Ibn Kharrat (582 H).
Yang menghimpun Hadits-Hadits Nabi dari berbagai kitab Hadits:

Mashabih al-Sunnah, oleh Al-Baghawi (516 H), dan selanjutnya disaring oleh Al-Khathib al-Tabrizi dengan judul Misykat al-Mashabih, Jami’ al-Masanid tua al-Alqab, oleh Abd al-Rahman ibn Ali al-Jauzi (597 H). Kitab ini selanjutnya ditertibkan oleh Al-Thabari (964 H), Bahr al-Asanid, oleh Al-Hasan ibn Ahmad al- Samarqandi (491 H).

Selain kitab-kitab di atas yang termasuk ke dalam Kitab Jami’, dijumpai juga jenis kitab yang menghimpun Hadits-Hadits mengenai masalah-masalah tertentu dari kitab-kitab Hadits yang ada, seperti:
Yang menghimpun Hadits-Hadits Ahkam: Muntaqa al-Akhbar f al-Ahkam, oleh Majd al-Din Abd al-Salam ibn ‘Abd Allah (652 H), Al-Sunnah al-Kubra, oleh Al-Baihaqi (458 H), Al-Ahkam al-Shughra, oleh Ibn Kharrat (582 H).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah
Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Syaratnya Membaca Al-Fatihah

  • tertib secara berurutan, muwalat,
  • menjaga tasydidnya,
  • tidak boleh lahn (salah mengucapkan bunyi huruf) yang nantinya dapat merubah artinya,
  • setidak-tidaknya bacaan itu dapat didengar oleh pembaca itu sendiri,
  • jangan sampai bacaan al-fatihah itu ditengah-tengahnya diselingi dzikir lain-lainnya.

Syarat Ruku’

Syarat-syarat ruku’ adalah kedua telapak tangannya dapat mendekap kedua lututnya,

jangan sampai orang yang ruku’ itu meninggikan kepalanya, leher dan punggungnya serta merendahkan pantatnya dan memajukan dadanya.

Syaratnya Sujud

Syarat-syaratnya sujud adalah :orang yang sujud itu mengikutkan 7 anggota badannya (dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kakinya),

dahinya supaya terbuka; tidak terhalang oleh sesuatu, misalnya: rambut, kopyah dan lain-lain,

tidak bersujud diatas benda yang bergerak yang gerakannya disebabkan orang yang sedang shalat.

Sunnah Sholat

Sunnah-sunnah shalat sebelum memulainya:

  1. Azan, untuk shalat fardhu, baik disaat bepergian atau menetap sesudah masuknya waktu shalat, kecuali shubuh, karena shalat subuh itu disunnahkan memakai dua azan.
  2. Azan pertama dipertengahan malam, sedang azan kedua setelah menyingsingnya fajar shadiq yang berarti shalat subuh sudah masuk,
  3. iqamah, yang langsung disambung dengan mengerjakan shalat,
  4. bersiwak disunnahkan untuk segala waktu, kecuali waktu sesudah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa,
  5. meletakkan sutra (sajadah) agar jangan ada orang berjalan dimuka orang yang sedang shalat.

Sunnah Shalat Setelah Berada Dalam Keadaan Shalat

Sunnah-sunnah shalat setelah berada dalam keadaan shalat; itu ada 2 macam, yaitu:

  • sunnah ab’ad,
  • sunnah hai’at.

Sunnah Ab’adnya Shalat

Yang termasuk sunnah ab’adnya shalat: Ada 7 hal, barang siapa meninggalkan salah satu dari padanya, maka hendaklah melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa):

  1. Duduk tahiyat awal,
  2. membaca tasyahud diwaktu duduk tahiyat awal,
  3. membaca shalawat atas nabi Muhammad SAW. di waktu duduk tahiyat awal,
  4. membaca shalawat yang ditujukan kepada keluarga nabi dalam tasyahhud akhir,
  5. membaca qunut diwaktu shalat shubuh dan diwaktu melakukan shalat sunnah witir setelah pertengahan yang akhir dari bulan ramadhan,
  6. membaca qunut dengan berdiri,
  7. membaca shalawat atas nabi muhammad  SAW. juga atas seluruh keluarga serta para sahabatnya dalam qunut.

Sunah Haiat sholat akan kami sampaikan setelah ini. Demikin uraian ini kami sampaikan terimakasih

Baca Juga:

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat
Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu

Shalat lima waktu: Hukum shalat lima waktu adalah fardhu ’ain atas pribadi orang mukallaf, maka siapa yang menolak kewajiban shalat lima waktu, mereka adalah orang kafir. Bagi anak-anak supaya diperintahkan setelah mencapai umur 7 tahun dan hendaklah dipukul kalau meninggalkan setelah berusia 10 tahun.

  • Hal-hal yang menjadi syarat sahnya shalat:
  • Thaharaah (bersuci) dari kedua hadats (hadats kecil atau besar),
  • Thaharaah (bersuci) badannya, pakaian dan tempatnya shalat dari semua benda najis,
  • menutup aurat,
  • menghadap ke kiblat,
  • waktu shalat telah masuk.

Aurat

Adapun yang termasuk aurat bagi orang laki-laki ialah anggota badan antara pusar sampai lutut, dan bagi perempuan merdeka (bukan hamba sahaya) ialah seluruh tubuh selain wajah dan kedua telapak tangan.

Waktu-waktunya shalat:

  • waktu shubuh: dimulai dari menyingsingnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari,
  • waktu dhuhur: dimulai dari tergelincirnya matahari hingga bayangan satu benda sama     panjangnya dengan benda itu sendiri; selain bayangan istiwa’,
  • waktu ashar: dimulai dari habisnya waktu dhuhur hingga terbenamnya matahari,
  • waktu maghrib: dimulai dari terbenamnya matahari hingga hilangnya awan merah,
  • waktu isya’: dimulai dari hilangnya awan merah hingga menyingsingnya fajar shadiq.

Waktu Makruh Melakukan Shalat Sunnah

Waktu-waktu yang dimakruhkan melakukan shalat sunnah: Di makruhkan melakukan shalat sunnah tanpa sebab tertentu adalah ada 5 waktu selain dimekkah, yaitu:

  • sesudah shalat subuh hingga terbitnya matahari,
  • ketika terbitnya matahari hingga naik setinggi tombak,
  • ketika istiwa’ (matahari tepat berada ditengah-tengah) kecuali pada hari jum’at,
  • sesudah shalat ashar hingga terbenamnya matahari,
  • ketika menguningnya sinar matahari hingga terbenam.

Rukun Sholat

Rukun-rukun shalat itu ada 13, yaitu:

  1. Niat, diiringi dengan mengucapkan takbirotul ihram,
  2. berdiri, bagi orang yang mampu melakukan dalam shalat fardhu,
  3. takbirotul ihram,
  4. membaca Al-Fatihah,
  5. ruku’ dengan tuma’ninah
  6. I’tidal dengan tuma’ninah,
  7. sujud dua kali dengan tuma’ninah,
  8. duduk antara dua sujud dengan tuma’ninah, dengan tuma’ninah,
  9. duduk terahir,
  10. membaca tasyahud dalam duduk yang terahir,
  11. membaca shalawat atas nabi muhammad SAW. dalam duduk yang akhir,
  12. mentertibkan semua yang menjadi rukun-rukun shalat,
  13. mengucapkan salam yang pertama.

Syarat-syarat niat:

Jika shalat itu shalat fardhu, maka wajib adanya: Qashad (kesengajaan), Ta’yin (ketentuan), niat mengerjakan fardhunya,  jika shalat itu shalat sunnah yang ditentukan waktunya atau ada sebabnya, maka wajib adanya: Qashad dan Ta’yin,  jika shalat itu shalat sunnah mutlak, maka wajib adanya: Qashad saja.

Demikian kami Sampaikan terimakasih

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Hal-hal Mengenai Makmum

Hal-hal Mengenai Makmum

Hal-hal Mengenai Makmum

Hal-hal Mengenai Makmum
Hal-hal Mengenai Makmum

Tentang Makmum

Makmum itu terbagi dua, yaitu:

  1. Makmum Masbuq (makmum yang ketinggalan), dan
  2. Makmum Muwafiq (makmum yang bertepatan).
  3. Makmum Masbuq yaitu: makmum yang tidak memperoleh waktu dalam mengikuti imam, yang waktu tadi cukup digunakan untuk membaca Al-Fatihah.

Makmum Muwafiq yaitu

Makmum Muwafiq yaitu: makmum yang memperoleh waktu bersama imam, yang waktu tadi cukupdigunakan untuk membaca Al-Fatihah.

Hukum-Hukum Makmum Masbuq:

Jika makmum masbuq mendapati imam sedang ruku’, maka makmum tadi hendaklah mengikuti imam yang sedang ruku’, maka gugurlah kewajiban membaca Fatihah bagi dirinya. Hal yang demikian dapat dianggap sudah memperoleh satu rokaat bagi makmum tersebut asalkan ia sempat melakukan tuma’ninah bersama imam. (Penjelasan : Kalau makmum itu tidak memperoleh kesempatan melakukan tuma’ninah bersama imam, disebabkan karena imam terus berdiri disaat makmum mengikuti ruku’, maka makmum tersebut tidak dapat dianggap memperoleh satu rakaat.),

Jika makmum masbuq itu mendapatkan imam dalam keadaan masih berdiri, tetapi imam itu lalu ruku’ sedangkan imam tersebut belum sepat menyempurnakan bacaan Fatihah, maka makmum hendaklah mengikuti ruku’ apabila makmum itu tidak sedang menyempurnakan bacaan iftitah atau ta’awwudz. Makmum yang demikian telah gugur dari dirinya mana-mana yang tertinggal dari bacaan Fatihahnya dan sudah dapat dianggap memperoleh satu rakaat.

Jika makmum masbuq itu mendapatkan imam dalam keadaan masih berdiri sedang makmum tadi masih sibuk dengan bacaan iftitah atau ta’awwudz, tiba-tiba imam itu ruku’ sedang makmum tadi belum sempat menyempurnakan Fatihah, maka makmum hendaklah sedikit menangguhkansekedar waktu yang cukup untuk membaca do’a iftitah atau ta’awwudz. Jika dengan penangguhan itu makmum memperoleh kesempatan untuk menyertai ruku’ bersama imam, maka makmum tadi dianggap dapat memperoleh satu rakaat. Tetapi apabila imamnya lalu berdiri untuk beri’itidal sebelum makmum itu sempat ruku’, maka makmum tadi berarti tertinggal satu rakaat. Seterusnya apabila imam itu lalu sujud dan makmum masih belum dapat menyelesaikan, maka batallah sholat makmum masbuq itu., jika ia tidak dengan segera niat mufaraqah (berpisah dari imam).

Hukum Makmum Muwafiq:

Makmum Muwafiq  itu diwajibkan melengkapi bacaan Fatihahnya apabila imamnya melakukan ruku’, maka wajiblah makmum itu surat ke belakang (tidak diperkenankan ruku’ untuk melengkapi bacaan Fatihahnya),

Jika makmum itu surat ke belakang untuk menyempurnakan bacaan Fatihahnya, maka dibolehkan mundur dari imam dengan tiga macam rukun sholat, apabila terdapat salah satu uzur dari berbagai uzur yang tercantum dibawah ini, yaitu: Pertama : Apabila makmum muwafiq itu memang lambat bacaannya bukan dikarenakan was-was sedangkan imamnya sedang-sedang saja bacaannya (menurut kebiasaan). Kedua : Apabila makmum muwafiq itu lupa membaca Fatihah dan baru sadar kalau ia lupa sebelum melakukan ruku’ bersama imam, oleh karenanya, andaikan ia sadar bahwa ia kelupaan sesudah ruku’, maka ia tidak perlu lagi menyempurnakan bacaan Fatihahnya, bahkan ia wajib terus mengikuti imam dan makmum muwiq yang demikian wajib menunaikan satu rakaat sesudah salamnya imam (rakaatnya yang pertama tidak dapat dianggap), Ketiga : Apabila makmum muwafiq itu sibuk dengan bacaan iftitah atau ta’awwudz karena menyangka bahwa dia dapat menyempurnakan bacaan Fatihahnya, tetapi kenyataannya ia tidak dapat. Atau kalau ia sudah yakin sebelumnya bahwa ia akan terlambat membaca Fatihah (tetapi masih terus saja dengan membaca do’a iftitah dan ta’awwudz), kemudian tidak dapat menyertai imam di waktu ruku’, maka makmum tersebut kehilangan satu rakaat. Oleh sebab itu wajib menggenapi satu rakaat lagi sesudah salamnya imam.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN

SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN

SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN

 

SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN
SEBAB-SEBAB HUBUNGAN KEWARISAN DAN PENGHALANG KEWARISAN

1. Sebab-sebab kewarisan

Hal-hal yang menyebabkan seseorang dapat mewarisi terbagi atas tiga macam, yaitu sebagai berikut:

a. Karena hubungan kekerabatan atau hubungan nasab

Seperti kedua orang tua (bapak-ibu), anak, cucu, dan saudara, serta paman dan bibi. Singkatnya adalalah kedua orang tua, anak, dan orang yang bernasab dengan mereka. Allah SWT, berfirman dalam Al-Qur’an Artinya: “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagainya lebih berhak terhadap sesama (dari pada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahua segala sesuatu.” (Q. S. Al-Anfal: 75).
Kekerabatan artinya adanya hubungan nasab antara orang yang mewarisi dengan orang yang diwarisi disebabkan oleh kelahiran. Kekerabatan merupakan sebab adanya hak mempusakai yang paling kuat karena kekerabatan merupan unsur kausalitas adanya seseorang yang tidak dapat dihilangkan begitu saja.

b. Karena hubungan pernikahan

Hubungan pernikahan ini terjadi setelah dilakuakan akad nikah yang sah dan terjadi antara suami-istri yang melakukan pernikahan tidak sah tidak menyebabkan adanya hak waris.
Pernikahan yang sah menurut syari’at islam merupakan ikatan untuk mempertemukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan selama ikatan pernikahan itu masih terjadi. Bijaksan kalau Allah memberikan sebagian tertentu sebagai imbalan pengorbana dari jerih payahnya, bila salah satu dari keduannya meninggal dunia dan meninggalkan harta pusaka. Atas dasar itulah, hak suami maupun istri tidak dapat terhijab sama sekali oleh ahli waris manapun. Mereka hanya dapat terhijab nuqsan (dikurangi bagiannya) oleh anak turun mereka atau ahli waris yang lain.

c. Karena wala’

Wala’ adalah pewarisan karena jasa seseorang yang telah memerdekakan seorang hamba kemudian budak itu menjadi kaya. Jika orang yang dimerdekakan itu meninggalkan dunia, orang yang memerdekakan berhak mendapat warisan. Rasulullah SAW bersabda: “Hak wala’ itu hanya bagi orang yang telah membebaskan hamba sahaya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Rasulullah SAW. Menganggap wala’ sebagai kerabat berdasarkan nasab, sesuai dengan sabdanya: “Wala’ itu adalah suatu kerabat sebagai kerabat nasab yang tidak boleh dijual dan dihibahkan.” (HR. Muslim).

Baca Juga: 

Dasar Pemecahan Masalah Waris dalam Islam dan Hubungannya dengan Waris Nasional

Dasar Pemecahan Masalah Waris dalam Islam dan Hubungannya dengan Waris Nasional

Dasar Pemecahan Masalah Waris dalam Islam dan Hubungannya dengan Waris Nasional

Dasar Pemecahan Masalah Waris dalam Islam dan Hubungannya dengan Waris Nasional
Dasar Pemecahan Masalah Waris dalam Islam dan Hubungannya dengan Waris Nasional

1. AL-QUR’AN

Al-Qur’an merupakan sumber pokok hukum islam. Karena itu, kendatipun sumber hukum kewarisan ada tiga, tetapi kedua hukum sesudah Al-Qur’an (Sunnah Rasul dan Ijtihad) harus tetap mengacu pada Al-Qur’an. Pertama kelompok ayat kewarisan inti, yaitu ayat-ayat yang langsung menjelaskan pembagian waris dan bagian-bagiannya yang telah ditentukan jumlahnya. beberapa ayat-ayat tersebut adalah:

a. Surat An-Nisa’ ayat 7
Artinya: “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah diterapkan”. (Q. S. An-Nisa’; 7).

b. Surat An-Nisa’ ayat 12
Artinya: “Dan bagimu (suami-istri) seperdua dari harta yang ditinggalkan istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak maka kamu mendapat seperempat harta yang ditinggalkannya setelah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau sudah dibayar hutang. Para istri memperoleh seperempat harta yang ditinggalkan kamu jika kamu tidak mempunyai anak, jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan setelah dipenuhi wasiat yang kamu buat (dan) atau sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki atau perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak mempunyai anak, tetapi mempunyai saudara laki-laki (seibu saja), maka bagi masing-masing kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam sepertiga sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya (dan) atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi madharat (kepada ahli waris). Allah menetapkan yang demikian itu sebagai syari’at yang benar-benar dari Allah. Dan Allah Maha Mengtahui lagi Maha Penyantun”. (Q. S. An-Nisa’; 12).

2. SUNNAH RASUL

Sebagai sumber legislasi yang kedua setelah Al-Qur’an, sunnah memiliki fungsi sebagai penafsir atau pemberi bentuk konkrit terhadap Al-Qur’an, pada akhirnya hadist juga dapat membentuk hukum yang tidak disebut dalam Al-Qur’an.
Bentuk nyata dari fungsi hadist sebagai konkrotisasi Al-Qur’an dalam bidang kewarisan, misalnya hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. Artinya: “Berilah orang yang mempunyai bagian tetap sesuai dengan bagiannya masing-masing, sedangkan kelebihannya diberikan kepada ashobah yang lebih dekat, yaitu orang laki-laki yang lebih utama.” (HR. Bukhori-Muslim).

Fungsi sunnah yang lain adalah sebagai pembentuk hukum yang tidak disebut dalam Al-Qur’an, salah satu contoh dari fungsi tersebut adalah hadist tentang wala’ ( warisan bekas budak yang tidak meninggalkan ahli waris), dalam kasus demikian maka ahli warisnya adalah orang yang memerdekakannya (HR. Bukhori Muslim), sedangkan harta orang yang meninggal tanpa mempunyai ahli waris adalah milik Baitul al-Mal (HR. Ahmad dan Abu Daud).

3. IJTIHAD

Sebagian kecil dari ijma’ para ahli, dan beberapa masalah yang diambil dari ijtihad para sahabat. Ijma’ dan ijtihad sahabat, imam madzhab, dan para mujtahid dapat digunakan dalam pemecahan-pemecahan masalah mawaris yang belum dijelaskan oleh nash yang sharih. Misalnya: “Status cucu yang ayahnya lebih dahulu meninggal dari pada kakek yang bakal diwarisi yang mewarisi bersama-sama dengan saudara-saudara ayahnya. Menurut ketentuan mereka, cucu tersebut tidak mendapat bagian apa-apa karena terhijab oleh saudara ayahnya, tetapi menurut kitab undang-undang hukum wasiat mesir yang meng-istinbat-kan dari ijtihad para ulama muqoddimin, mereka diberi bagian berdasarkan wasiat wajibah”.

C. HUBUNGANNYA DENGAN HUKUM WARIS NASIONAL

Di indonesia belum ada suatu ketentuan hukum tentang waris yang dapat ditetapkan untuk seluruh warga negaranya. Oleh karena itu, hukum warisan yang diterapkan bagi seluruh warga negara indonesia masih berbeda-beda mengingat penggolongan warga negara.

1. Bagi warga negara golongan indonesia asli, pada prinsipnya berlaku hukum adat, yang sesuai dengan hukum adat yang berlaku masing-masing daerah.

2. Bagi warga negara golongan indonesia asli yang beragama islam di berbagai daerah, berlaku hukum islam yang sangat berpengaruh padanya.

3. Bagi orang arab pada umumnya, berlaku hukum islam secara keseluruhan.

4. Bagi orang-orang tionghoa dan eropa, berlaku hukum warisan dari Bugerlijk Wetboek.

Seperti penegasan tentang anak luar kawin dan anak angkat seharusnya juga termasuk dalam bagian ini. Mengenai anak yang lahir diluar perkawinan disebut dalam pasal 186 bahwa ia mempunyai hubungan saling mewarisi dengan ibu dan keluarga pihak ibunya. Sedangkan mengenai anak angkat perlu ada pengesahan bahwa sesuai dengan ketentuan hukum islam anak angkat tidak mewarisi orang tua angkatnya. Akan tetapi, anak angkat berhak mendapatkan bagian harta orang tua angkatnya melalui prosedur lain.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Pembahasan Tentang Waris Lengkap

Pembahasan Tentang Waris Lengkap

Pembahasan Tentang Waris Lengkap

Pembahasan Tentang Waris Lengkap
Pembahasan Tentang Waris Lengkap

PENGERTIAN WARIS

Ilmu yang mempelajari warisan disebut ilmu mawaris atau dikenal dengan istilah faraidh. Merupakan bentuk jamak dari faridah, yang diartikan oleh para ulama faradiyun semakna dengan kata mafrudah, yaitu bagian yang telah ditentukan kadarnya. Kata fardu sebagai suku kata dari kata faridah, menurut bahasa mempunyai beberapa arti.
Menurut istilah, mawaris dikhususkan untuk suatu bagian ahli waris yang telah ditetapkan dan ditentukan besar kecilnya oleh syara’.

Definisi Ilmu Faraidh

Sebagian ulama fadirayun, mendifinisikan ilmu faraidh sebagai berikut: “Ilmu fiqih yang bertautkan dengan pembagian harta pusaka, pengetahuan tentang cara penghitungan yang dapat menyampaikan kepada pembagian pusaka dan pengetahuan tentang bagian-bagian yang wajib dari harta peninggalan untuk setiap pemilik hak pusaka”.

Hasbi Ash-Siddieqy, dalam bukunya fiqih mawaris mendifinisikan ilmu faraidh sebgai berikut: “Ilmu untuk mengetahui orang yang berhak menerima pusaka, serta kadar yang diterima oleh tiap-tiap ahli waris dan cara pembagiannya”. Atau dengan redaksi yang lain: “Beberapa kaidah yang terpetik dari fiqih dan hisab untuk mengetahui secara khusus mengenai segala yang mempunyai hak terhadap peninggalan si mati dan bagian ahli waris dari harta peninggalan tersebut”.

Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam pada pasal 171: “Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.

Dalam hukum waris berlaku juga suatu asas, bahwa apabila seorang meninggal, maka seketika itu juga segala hak dan kewajibannya beralih pada sekalian ahli warisnya. Asas tersebut tercantum dalam suatu pepatah perancis yang berbunyi: “le mort saisit le vif,” sedangkan pengoperan segala hak dan kewajiban dari si meninggal oleh para ahli waris itu dinamakan “saisine”. Menurut pasal 843 B. W. Seorang ahli waris berhak untut menuntut supaya segala apa saja yang termasuk harta peninggalan si meninggal diserahkan padanya berdasarkan haknya sebagai ahli waris.

B. SUMBER HUKUM KEWARISAN ISLAM

Sebagian ulama kontemporer beranggapan dalam hal-hal tertentu yang dianggap tidak prinsipil, bisa saja ditafsirkan dan direkonstruksi sesuai dengan kondisi dan kemungkinan yang dapat dipertimbangkan, sehingga hukum mawaris islam harus mampu diterjemahkan dalam lingkup masyarakat yang mengitarinya. Syarat penerjemahan hukum kewarisan islam dengan pertimbangan berbagai variabel masyarakat adalah; Pengertian mendasar dari hukum kewarisan islam tersebut harus bersifat universal sesuai dengan fitrah Al-qur’an. Dengan demikian, operasional hukum kewarisan islam tidak bertentangan dengan nafas Al-Qur’an dan konteks masyarakat.

Hukum kewarisan islam merupakan salah satu bentuk perhatian terhadap pemeliharaan harta peninggalan seorang muslim. Disamping itu, hukum kewarisan islam merupakan realisasi dari perintah Al-Qur’an untuk tidak meninggalkan ahli waris (keturunan) dalam keadaan lemah. Rangkaian pengertian dan ketentuan yang ada dalam hukum kewarisan merupakan hukum aplikatif, bukan teoritik. Pengamalannya bersifat wajib ‘ain dan mempelajarinya merupakan kewajiban kolektif (fardlu kifayah).

Unsur Kewarisan

Asaf A. A. Fyzee melalui penelitiannya menyimpulkan bahwa huku kewarisan Islam terdiri dari dua unsur yang berlainan:
1. Adat kebiasaan arab purbakala.
2. Peraturan yang diatur Al-Qur’an dan dibawah oleh nabi.

Adat dan kebiasaan orang arab purbakala selalu memberikan harta kepada siapapun yang diinginkan, walaupun harus menyingkirkan saudara-saudaranya, sedangkan kaum perempuan tidak mendapat hak sebagai ahli waris. Harta warisan hanya diperuntukan kepada laki-laki dewasa yang mampu berperang serta tolan perjanjian. Adat kebiasaan arab jahiliyah tersebut kemudian dibatalkan dengan turunnya surat An-Nisa’ ayat 11. Artinya: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan; dan jika anak itu semuannya perempuan lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal mempunyai anak; jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) dan sudah dibayar hutangnya. (tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesunggunya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q. S. An-Nisa’: 11).

Dengan turunya ayat tersbut, maka kewarisan model jahiliyah telah terhapus dan dengan sendirinya tidak dapat dijadikan pedoman dalam pembagian harta waris. Sumber-sumber hukum Islam itu adalah Al-Qur’an, Sunnah Rasul, dan Ijtihad. Ketiga sumber ini pula yang menjadi dasar hukum kewarisan islam. Salah satu ayat yang menyinggung tentang hal ini adalah surat An-Nisa’ ayat 59. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah (Rasul)-Nya dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepda Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)”. (Q. S. An-Nisa’; 59).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

Pengertian Tadwin dan Perkembangan Hadits

Pengertian Tadwin dan Perkembangan Hadits

Pengertian Tadwin dan Perkembangan Hadits

Pengertian Tadwin dan Perkembangan Hadits
Pengertian Tadwin dan Perkembangan Hadits

Pengertian

Secara bahasa tadwin diartikan sebagai kumpulan shahifah(mujtama’ al-shuhuf),sedangkan arti tadwin secara umum adalah mengumpulkan al-jam’u).
Al-zahrani merumuskan pengertian tadwin yang artinya adalah sebagai berikut:
“Mengikat yang berserak-serakan kemudian mengumpulkannnya menjadi satu dewan atau kitab yang terdiri dari lembaran-lembaran.”
Sedangkan yang dimaksud pentadwidan hadits pada zaman ini adalah pembukuan(kodifikasi)secara resmi yang berdasarkan perintah dari serang kepala negara dengan melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya.Bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau secara personal.

Perkembangan Hadits Abad II H

Pada periode kedua,masa khulafaur rasyidin pembukuan hadits belum dilakukan secara khusus karena perhatian para sahabat masih terfokus dalam usaha memelihara dan menyebarluaskan Alqur’an.Hal ini terbukti pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-shiddiq pembukuan Alqur’an dilakukan atas usul dari kholifah Umar bin Khattab.[3]Kemudian pada masa kholifah Utsman kegiatan ini dilakukan kembali dengan tujuan yang sama.Sikap memusatkan perhatian mereka ini tidak berarti para kholifah ini lalai dan tidak menaruh perhatian terhadap Hadits akan tetapi mereka sangat berhati-hati dalam meriwayatkan Hadits.Kehati-hatian danusaha membatasi periwayatan Hadits yang dilakukan para sahabat disebabkan karena mereka khawatir terjadinya kekeliruan .

Pembukuan Hadits secara resmi terjadi pada masa dinasti Umayah dibawah kepemimpinan Kholifah Umar bin Abdul Aziz tahun 101H.Beliau khawatir terhadap hilangnya hadits-hadits dengan meninggalnya para muhadditsin di medan perang,dan juga khawatir akan tercampurnya hadits-hadits shahih dengan hadits-hadits palsu.
Secara garis besar peran pemalsuan Hadits dikategorikan menjadi 3 yaitu:

a.Propagandis Politik

Perpecahan umat islam yang diakibatkan politik yang terjadi pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perpecahan umat kedalam beberapa golongan dan kemunculan hadits-hadits palsu.Contoh Hadits palsu yang dibuat oleh kaum Syi’ah,yang artinya sebagai berikut:”Wahai Ali,Sesungguhnya AllahSWT telah mengampunimu,keturunanmu, kedua orangtuamu,keluargamu,(golongan) syi’ahmu dan orang yang mencintai (golongan) syi’ahmu.”

b.Golongan Zindiq

adalah golongan yang membenci isalam sebagai agama,atau sebagai dasar pemerintahan .Pada masa Muhammad bin Sulaiman bin Ali(Wali wilayah Basrah),menghukum mati Abdul Karim Ibn Auja’karena dia membuat hadits palsu ,ketika hukuman akan dilakukan dia mengatakan bahwa dia telah membuat hadits palsu sebanyak 4000 hadits.Contoh Hadits yang dibuat oleh kaum zindiq,yang artinya sebagai berikut:
“Melihat wajah cantik termasuk ibadah”.

c.Ahli Cerita/Dongeng

Menurut riwayat Ibn Aljawji,Shu’bah pernah menolak Hadits yang dibawa oleh tukang cerita dengan alasan kebiasaan mereka,yaitu menerima Hadits sejengakal kemudian diriwayatkan sedepa,dengan pengertian memberikan penambahan terhadap Hadits.
Sufyan Al-Sauri mencatat tiga macam Hadits dengan penilaian yang berbeda-beda yaitu:
1) Hadits yang dimaksud sebagai pegangan,yang tentunya Hadits yang dinilai kuat
2) Hadits yang diragukan,sehingga dinilai tawaqquf,tidak dibuang tetapi juga tidak dijadikan pegangan
3) Hadits dari rawi yang lemah,hanya untuk diketahui saja.

Baca Juga: