Study Kitab Syarah Hadits tentang Pola/Sumber Syarah Hadis

Study Kitab Syarah Hadits tentang Pola/Sumber Syarah Hadis

Study Kitab Syarah Hadits tentang Pola/Sumber Syarah Hadis

Study Kitab Syarah Hadits tentang Pola/Sumber Syarah Hadis
Study Kitab Syarah Hadits tentang Pola/Sumber Syarah Hadis

Hadis merupakan usaha untuk memahami ajaran Islam dari sejumlah petunjuk yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan, disetujui serta penggambaran sifat-sifat yang disandarkan kepada beliau. Sebagai ajaran yang diterimakan dari Nabi SAW secara tidak langsung, ia perlu dimengerti dan dirasakan dengan betul dengan suatu pemahaman yang padu dalam diri yang memahami, sehingga dapat diperoleh pemahaman dekat dengan yang dialami sahabat sebagai periwayat dan atau perawi hadis yang sejalan dengan nalar yang dapat dicerna dalam konteks masa sekarang.

Dengan demikian, kemudahan menjalankan ajaran Islam ikut terbantu sehingga memudahkan hidup berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW, oleh karnanya dalam memahami suatu hadis kita perlu melihat langsung kepada kitab-kitab syarah hadis yang sudah ada agar mendapat pemahaman lebih mendalam tentang makna hadis-hadis tertentu yang sulit di pahami, oleh sebab itu kegiatan pensyarahan hadis di lakukan. Dalam pensyarahan seorang pensyareh tentunya memerlukan sumber/pola untuk mensyarah hadis. Dalam kesempatan kali ini, makalah ini berusaha meniliti sumber/pola apa saja yang di gunakan para pensyarah untuk melakukan pensyarahan hadis.

Hadis Nabi dengan Syarah Al-Qur’an

A. Macam-Macam Syarah Hadis dengan Al-Qur’an Berdasarkan Bentuknya

1. Dalam bentuk kalimah, tentang ayah Nabi Muhammad masuk neraka

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّار[2

Yang dimaksud dengan kata أَبِي dalam hadis di atas, bukanlah Abdullah bin Abdul Muthalib, karena beliau adalah termasuk golongan transisi, yaitu orang yang hidup setelah wafatnya Nabi Isa dan sebelum kerasulan Muhammad saw. lafadz أَبِيtersebut diartikan dengan paman Nabi yaitu Abu Thalib, berdasarkan Q.S. Al-Baqarah: 133. Ismail adalah paman Ya’qub, namun Al-Qur’an menyebutnya sebagai salah seorang dari ayah-ayahnya.

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيل وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُون[3

2. Dalam bentuk jumlah, yaitu hadis tentang taubat yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صم “من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه[4]
Uraian dalam hadis diatas sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Al-Karim, surat An-Nisa ayat 18 yang berbunyi:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا[5

B. Macam-Macam Syarah Hadis dengan Al-Qur’an Berdasarkan Tujuannya

1. Untuk menasakh hadis yang disyarahi, seperti contoh hadis tentang mayat diazab karena tangisan keluarganya.

أن رسول الله قال إن الميت يعذب ببكاء أهله عليه[6
Hadis ini tidak diakui oleh Al-Ghazali yang mengutip pendapat A’isyah, karena dianggap bertentangan dengan Q.S. Al-An’am ayat 164.
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

2. Contoh Al-Qur’an sebagai syarah yang berfungsi sebagai penguat

“iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah ataupun berkurang.” Hadis tentang bertambah dan berkurangnya iman disyarahi dengan ayat-ayat Al-Qur’an di bawah ini:
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا[7
نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى[8
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ[9

Baca Juga:

Analisis Proses Pertumbuhan Janin Dalam Perspektif Hadits

Analisis Proses Pertumbuhan Janin Dalam Perspektif Hadits

Analisis Proses Pertumbuhan Janin Dalam Perspektif Hadits

 

Analisis Proses Pertumbuhan Janin Dalam Perspektif Hadits
Analisis Proses Pertumbuhan Janin Dalam Perspektif Hadits

Al-Qur’an menyatakan proses penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang berbeda, yaitu: Pertama, disebut dengan tahapan primordial. Manusia pertama, Adam a.s. diciptakan dari al-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), min hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalam diri (manusia) tersebut.Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia selanjutnya adalah melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Proses-proses biologi tersebut diantaranya adalah :

1. Nuthfah (sperma)

Ketika satu sel telur untuk menunggu pembuahan (fertilisasi), maka dari pria sekaligus 100-200 juta spermatozoa yang berenang di sel-sel usus. Kemudian sperma-sperma tersebut bergerak cepat dengan ukuran banyak. Sekitar 400 sperma dari jutaan tersebut berhasil menyatu dengan sel telur. Biasanya, sperma dengan sel telur ini bertemu pada sepertiga di luar pembuluh telur rahim. Denagan proses yang sangat rumit, enzim-enzim tertentu dapat terpisah. Hal ini dapat membantu spermatozoa untuk menembus lapisan-lapisan yang mengelilingi sel telur. Akhirnya hanya ada satu spermatozoa yang mampu menembusnya.

Inilah yang dinamakan Nuthfah dalam hadits diatas. Setelah itu Nuthfahberkembang sangat cepat dengan membelah diri menjadi sel-sel kecil hingga membentuk gumpalan bulat sel-sel yang disebut morula, yang terjadi 4 hari setelah proses pembuahan. Kemudian hari ke-5 gumpalan ini membelah dan membentuk apa yang disebut tembolok (blastocysf).

2. ‘Alaqah (segumpal darah)

Ketika benih manusia tertanam didinding rahim pada minggu kedua, lapisan janin bagian dalam terbagi menjadi 2 lapisan (bilaminar). Pada saat yang sama, lapisan janin bagian luar menempel pada dinding rahim dengan perantara tangkai penghubung. Tujuannya agar dapat memperoleh makanan dari darah ibunya.

Pada minggu ketiga, lapisan ketiga berada diantara 2 lapisan. Dengan begitu, tiga lapisan telah lengkap. Dengan ijin Allah SWT, semua anggota tubuh (trilaminar) akan tumbuh. Dalam keadaan seperti ini, janin menyarupaianak lintah berukuran kecil yang menempel pada unta dalam keadaan seperti berikut:
1. Berbentuk lintah
2. Berenang ditengah cairan
3. Hubungan anak lintah dengan makhluk lain
4. Pemberian makanan anak lintah melalui darah makhluk lain.

3. Mudlghah (segumpal daging)

Mulai hari ke-24 pada minggu ke 4 hingga minggu ke 6, salah satu bagian tulang belakang janin akan tampak tonjolan-tonjolan. Bentuk luar janin akan melengkung, karena ada proses pertumbuhan pada tubuh janin (somites). Pada tahapan ini, kondisi janin yang paling baik adalah segumpal daging dengan panjang sekitar 1-2 cm.

Pada tahapan segumpal daging, kelengkpan anggota janin meliputi cikal bakal semua anggota tubuh (alat sirkulasi, alat pernapasan, alat pencernaan, dan alat pembuangan). Bentuk janin pada fase ini ada diantara 2, yaitu bersifat mukhallaqah(dalam bentuk yang sempurna) dan ghair mukhallaqah.

Janin pada fase segumpal daging itu selesai pada akhir minggu ke-6. Memasuki minggu ke 7 mulailah fase pembentukan tulang yang menjadi kerangka pada janin. Pada fase ini terjadi pengerasan tulang rawan secara bertahap ditempat tumbuhnya anggota tubuh, dan panjang janin mencapai antara 1,4 cm hingga 2 cm. Si janin kini sudah mulai menampakkan ujung-ujung jari dan kantong otak. Seiring dengan mingggu ke 7 ini dimulai pula fase pembentukan otot dan pembungkusan tulang dengan daging. Panjang janin pun bertambah, mencapai 2,3 cm hingga 3,1 cm.

Pada saat itu, tulang belulang di bungkus dengan daging sebagaimana badan seseorang dibungkus dengan pakaian.

4. Kholqan Akhor (Menjadi Manusia Baru)

Berikut tahapan sampai terbentuk manusia:

1. Jarak kedua mata si janin berjauhan pada sisi kepala. Letak kedua telingga sampai kebawah dan hidung berbentuk 2 lubang yang saling berjauhan. Mulut nya pun terbuka lebar.
2. Pada akhir minggu ke 7 dari usia kehamilan, kedua mata janin pada kedua sisi kepala. Letak kedua mata nya lebih bawah dari tempat yang biasa.
3. Pada awal bulan ketiga kepala janin mirip setenggah panjang janin. Sepertiga panjangnya terjadi pada akhir bulan ke 5. Seperempat panjang janin terjadi ketika kelahiran.
4. Panjang janin sekitar 7cm pada akhir bulan ke 3. Panjang tersebut terus bertambah sampai 50 cm pada akhir kehamilan.
Dari beberapa tahapan tersebut, janin dapat digambarkan sebagai berikut :

Baca Juga: Ayat Kursi

Sirkulasi darah Janin

Peredaran darah yang terjadi pada bayi janin dalam kandungan agak berlainan dengan peredaran darah orang yang telah dilahirkan atau orang dewasa. Keistimewaan peredaran darah janin dalam kandungan yaitu oksigen dan zat makanan yang diperlukan diambil dari darah ibu.

Peredaran darah janin tersebut berjalan dari plasenta melalui vena umbilikasi darah yang banyak mengandung makanan dan oksigen dialirkan ke dalam tubuh janin melalui vena kava inverior dan vena porta menuju atrium dekstra. Dari atrium dekstra masuk ke atrium sinistra melalui foramen ovale, darah dari ventrikel sinistra diedarkan ke seluruh tubuh dan dari ventrikal sinistra melalui arteri pulmonalis menuju paru. Karena paru belum bekerja maka darah dari arteri pulmonalis tersebut melalui duktus arterious botali masuk ke aorta dan diedarkan ke seluruh tubuh.

Macam-macam Tilaawatil Qur’an

Macam-macam Tilaawatil Qur’an

Macam-macam Tilaawatil Qur’an

Macam-macam Tilaawatil Qur’an
Macam-macam Tilaawatil Qur’an

Setelah menguraikan definisi Tilawatil Qur’an, ada baiknya untuk mengetahui macam-macam Tilawatil Qur’an. Sesuai dengan definisinya, secara umum Tilawatil Qur’an menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullaah, terbagi menjadi dua macam, yaitu Tilaawah Lafdziyyah (membacanya secara dzhahir) dan Tilaawah Hukmiyyah (membacanya dari segi hukum-hukumnya).

1. Tilaawah Lafdziyyah ( تلاوة لفظية )

Tilaawah Lafdziyyah memiliki pengertian membaca Al-Qur`an secara dzahir, yakni dari segi lafadz-lafadznya. Membaca Al-Qur’an dengan mengeluarkan suara pun sudah termasuk Tilaawah Lafdziyyah. Untuk itu,tilaawah ini terbagi menjadi dua tahapan. Tahapan pertama yang mesti dilalui bagi pemula (orang yang baru mengenal Islam) atau pun anak-anak, yaitu mengenal atau mengetahui makharijul huruf (tempat-tempat keluarnya huruf melalui lisan) dan shifat-shifat huruf Al-Qur`an serta mempelajari hukum-hukum tajwid yang semuanya guna memperbaiki tilaawah itu sendiri.

Tahapan kedua adalah Tilaawah Lafdziyyah pada umumnya yang sering kita dengar, yaitu membaca Al-Qur’an dengan lagu-lagu tertentu. Hal itu disebut juga dengan seni Tilaawah. Tahapan ini dilakukan oleh orang yang benar-benar mahir dalam membaca Al-Qur’an. Gunanya adalah untuk memperindah Al-Qur’an sehingga dapat menghayatinya dengan baik. Bentuk-bentuk dari seni Tilaawah Lafdziyyah itu sendiri ada banyak. Pembagiannya adalah lagu pokok, cabang, dan selingan. Namun, di sini kami hanya menyajikan bentuk-bentuk lagu pokok Tilaawah Lafdziyyah, di antaranya adalah sebagai berikut,

Macam Nada Tilawah

a. Lagu Bayyati/Husaini ,(بياتي)semangat dan tempo lagunya gerak lambat (adagio).
b. Lagu Rasta alan nawa (رست), semangat dan tempo lagunya gerak ringan dan cepat (allegro).
c. Lagu Nahawand/Iraqi(نهاواند) , semangat dan tempo lagunya gerak cepat dan ringan.
Ø Tilawah Bernada Melas
a. Lagu Sika (سيكا) , semangat dan tempo lagunya gerak lambat dan khidmad.
b. Lagu Jiharka(جهرك) , semangat dan tempo lagunya gerak ringan dan cepat bisa juga gerak lambat dan khidmad, tergantung yang melagukannya.
c. Lagu Hijaz (حجاز) , semangat dan tempo lagunya gerak lambat dan khidmat.
d. Lagu Shoba/Maya(صبا) , semangat dan tempo lagunya gerak ringan dan cepat.
Ø Tilawah Bernada Datar
Satu-satunya Tilawah bernada datar adalah Lagu Banjaka/Rakbi, yaitu seperti tartil atau membaca biasa.

Baca Juga: Sayyidul Istigfar

2. Tilaawah Hukmiyyah (تلاوة حكمية)

Tilaawah Hukmiyyah memiliki pengertian membaca Al-Qur’an dari segi-segi hukumnya yakni membenarkan segala khabar dari Al- Qur’an dan melakukan segala ketetapan hukumnya dengan cara melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Tilaawah ini disebut juga Tilaawah ma’nawi yang berarti membaca Al-Qur’an beserta makna, tafsir atau dengan menggunakan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan. Tilaawah ma’nawi lebih mulia daripada sekedar tilaawah lafal. Orang yang melakukan tilawah ma’nawi, adalah ahli Al-Qur’an yang berhak menerima pujian di dunia dan di akhirat. Karena hal itulah yang menjadi tujuan utama diturunkanya Al-Qur`an. Firman Allah Azza wa Jalla:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS.Shaad : 29)

Menghargai Perbedaan Aliran Islam Dalam Msyarakat

Perbedaan Aliran Islam Dalam Masyarakat

Menghargai Perbedaan Aliran Islam Dalam Msyarakat

Perbedaan Aliran Islam Dalam Masyarakat
Perbedaan Aliran Islam Dalam Masyarakat

Keberagaman

Allah swt menciptakan manusia secara bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dia menjadikan manusia penuh perdedaan pasti memiliki rencana terhadap manusia. Sebab allah tidak mungkin menciptakan sesuatu secara sia-sia.
Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات :
Artinya :

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S Al Hujurat:13)

Penjelasan Ayat Tersebut

Ayat tersebut telah menggambarkan dengan jelas bahwa perbedaan merupakan rahmat di mana kita harus menyikapinya dengan saling bertoleransi. Apabi;a allah menginginkan manusia menjadi satu tipe saja, maka hal tersebut amatlah mudah baginya. Oleh karena itu kita tidak sepatutnya mempertengkarkan perbedaan-perbedaan di antara sesama umat muslim.
Hal ini juga berlaku bagi penyikapan terhadap perbedaan-perbedaan pemahaman aliran dalam islam di masyarakat. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang menyikapi perbedaan yang ada dengan sikap toleransi dan terbuka.

Untuk menghindari pertentangan dan menanamkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari, dapat di lakukan dengan hal-hal sebagai berikut:
Membuka ruang dialog kepada sesama umat muslim yang memiliki perbedaan pandangan untuk mencapai titik temu permasalahan tersebut.
Tidak menyebarkan paham truth of claim (klaim kebenaran) atas pandangan pribadi, yang kemudian menyalahkan aliran-aliran lainnya.
Tidak menggunakan jalan kekerasan dalam menyikapi perbedaan pandanganajaran islam.

Selalu mengingat bahwa umat muslim adalah bersaudara, sehingga menciptakan suasana perdamaian, ketenangan dan toleransi.
Menyadari bahwa kebenaran tertinggi adalah milik allah, manusia hanya berusaha mendekati kebenaran yang ditetapkan oleh allah dalam ayat-ayatnya.

Baca Juga:

Macam Jihad dan Hukumnya

Macam Jihad dan Hukumnya

Macam Jihad dan Hukumnya

Macam Jihad dan Hukumnya
Macam Jihad dan Hukumnya

Hukum Jihad Adalah Wajib

Jihad merupakan kewajiban setiap orang beriman. Perintah jihad merupakan salah satu ujian Allah SWT untuk menguji sejauh mana keimanan seseorang. Firman Allah SWT,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja) sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman?” (QS 9:16)

Dalam al-Quran, kata jihad hampir selalu diikuti dengan kalimat fi sabilillah (di jalan Allah), menjadi jihad fi sabilillah, yaitu berjuang melalui segala jalan dengan niat untuk menuju keridhaan Allah SWT (mardhatillah) dalam rangka mengesakan Allah SWT (menegakkan tauhidullah), dan bahwa jihad harus dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah serta norma-norma yang telah ditentukan Allah SWT.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Macam-Macam Jihad

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS 9:20)

Berdasarkan ayat tersebut, jihad terbagi dua, yaitu
1. Jihadul Maali (jihad dengan harta)
2. Jihadun Nafsi (jihad dengan diri atau jiwa raga).

Jihad dengan harta yaitu berjuang membela kepentingan agama dan umat Islam dengan menggunaan materi (harta kekayaan) yang dimiliki.

Jihadunnafsi yaitu berjuang dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri berupa tenaga, pikiran, ilmu, kerampilan, bahkan nyawa sekalipun.

Ibnu Qayyim membagi jihad ke dalam tiga kategori dilihat dari pelaksanaannya, yaitu
1. Jihad mutlak,
2. Jihad hujjah,
3. Jihad ‘amm.

Jihad mutlak adalah perang melawan musuh di medan pertempuran (berjuang secara fisik). Jihad hujjah adalah jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat tentang kebenaran Islam (berdiskusi, debat, atau dialog).

Ibnu Taimiyah menanamakan jihad macam ini sebagai “jihad dengan lisan” (jihad bil lisan) atau “jihad dengan ilmu dan penjelasan” (jihad bil ‘ilmi wal bayan). Dalam hal ini, kemampuan ilmiah dan berijtihad termasuk di dalamnya.

Sedangkan jihad ‘amm (jihad umum) yaitu jihad yang mencakup segala aspek kehidupan baik yang bersifat moral maupun material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jihad ini dilakukan dengan mengorbankan harta, jiwa, tenaga, waktu, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Jihad ini adalah menghadapi musuh berupa diri sendiri (hawa nafsu), setan, ataupun musuh-musuh Islam (manusia).

Macam-Macam Jihad Menurut Imam Al-Ghazali

1. Jihad Zahir — jihad melawan orang yang tidak menyembah Allah SWT.
2. Jihad menghadapi orang yang menyebarkan ilmu dan hujjah yang batil.
3- Berjihad melawan nafsu yang sentiasa menyeret manusia ke arah kejahatan. (Kitab Penenang Jiwa, Imam Al-Ghazali)

Ayat-Ayat dan Hadits yang menerangkan tentang Jihad

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah , mereka itu mengharapkan rahmat Allah , dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah:218)
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah ), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Al Baqarah:273)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran:142)

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (An Nisaa’:95)

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al Maa-idah:35)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Anfaal:72)

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (Al Anfaal:74)

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Anfaal:75)

Apakah kamu akan mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyatan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah , Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (At Taubah:16)

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah . Mereka tidak sama di sisi Allah ; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. (At Taubah:19).

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah ; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (At Taubah:20)

Definisi Jihad Dalam Islam

Definisi Jihad Dalam Islam

Definisi Jihad Dalam Islam

Definisi Jihad Dalam Islam
Definisi Jihad Dalam Islam

Pengertian jihad

yang sebenarnya harus dipahami dengan baik dan disosialisasikan oleh para kaum Muslim kepada publik agar tidak terjadi miskonsepsi, mispersepsi, dan misunderstanding tentang konsep jihad dalam Islam.
Pengertian jihad pada masa ini tampak makin “menyempit”, yaitu hanya dipahami sebagai “perang suci” (holy war) atau “perang bersenjata” (jihad fisik atau dilakukan secara militer). Bahkan, dewasa ini kalangan masyarakat Barat kerap mengasosiasikan jihad dengan ekstremisme, radikalisme, bahkan terorisme.

Aksi kekerasan yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan dan perjuangan sebuah gerakan Islam oleh bangsa Barat sering disebut dengan aksi “terorisme”.Dan sebaliknya, pihak gerakan Islam meyakini bahwa itu sebagai salah satu manifestasi jihad fi sabilillah.

Bagi para mujahid sebutan bagi orang-orang yang berjihad, mati syahid adalah cita-cita mereka karena para syuhada dijamin akan masuk surga.
Secara Bahasa Jihad Berarti:
Kata jihad berasal dari bahasa arab yaitu dari kata “jahada” atau ”jahdun” (جَهْدٌ) yang memiliki arti “usaha” sedangkan “juhdun” ( جُهْدٌ) berarti kekuatan.

Secara bahasa, asal makna kata jihad adalah “mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan yang diyakini bahwa jalan itulah yang benar”.
Menurut Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi Saw, secara bahasa jihad memiliki arti “mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi”.

Secara Istilah Jihad

Jihad secara istilah memiliki arti yang sangat luas, mulai dari mencari nafkah hingga berperang melawan kaum kuffar atau kafir yang memerangi Islam dan kaum Muslim.

Dalam istilah syariat, jihad berarti mengerahkan seluruh daya kekuatan untuk memerangi orang kafir dan para pemberontak.

Menurut Ibnu Taimiyah, jihad itu hakikatnya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah berupa amal shalih, keimanan dan menolak sesuatu yang dimurkai oleh Allah berupa kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Makna jihad lebih luas cakupannya daripada aktivitas perang. Jihad meliputi pengertian perang, membelanjakan harta, segala upaya dalam rangka mendukung agama Allah, berjuang melawan hawa nafsu, dan menghadapi setan.

Kata “jihad” dalam bentuk fiil maupun isim disebut sebanyak 41 kali dalam Al-Qur’an, sebagian tidak berhubungan dengan perang dan sebagiannya lagi berhubungan dengan perang.

Makna Jihad Secara Umum

Secara umum, sebagian ulama mendefinisikan jihad sebagai “segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan agama Islam dan pemberantasan kedzaliman serta kejahatan, baik terhadap diri sendiri maupun dalam masyarakat.”

Ada juga yang mengartikan jihad sebagai “berjuang dengan segala pengorbanan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Allah (Islam) atau membela kepentingan agama dan umat Islam.”

Kata-kata jihad dalam al-Quran kebanyakan mengandung pengertian umum. Artinya, pengertiannya tidak hanya terbatas pada peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala bentuk kegiatan dan usaha yang maksimal dalam rangka dakwah Islam, amar makruf nahyi munkar (memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran).
Dalam pengertian umum ini, berjihad harus terus berlangsung baik dalam keadaan perang maupun damai, karena tegaknya Islam bergantung pada jihad.

Baca Juga: Sifat Allah

Makna Jihad Secara Khusus

Jihad dalam arti khusus bermakna “perang melawan kaum kafir atau musuh-musuh Islam”. Pengertian seperti itu antara lain dikemukakan oleh Imam Syafi’i bahwa jihad adalah “memerangi kaum kafir untuk menegakkan Islam”.
Juga sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Atsir, jihad berarti “memerangi orang Kafir dengan bersungguh-sungguh, menghabiskan daya dan tenaga dalam menghadapi mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan.”
Pengertian jihad secara khusus inilah yang berkaitan dengan peperangan, pertempuran, atau aksi-aksi militer untuk menghadapi musuh-musuh Islam.
Kewajiban jihad dalam arti khusus ini (berperang, red) tiba bagi umat Islam, apabila atau dengan syarat:
Agama Islam dan kaum Muslim mendapat ancaman atau diperangi lebih dulu (QS 22:39, 2:190) Islam dan kaum Muslim mendapat gangguan yang akan mengancam eksistensinya (QS 8:39)
Untuk menegakkan kebebasan beragama (QS 8:39)
Membela orang-orang yang tertindas (QS 4:75).

Banyak sekali ayat al-Quran yang berbicara tentang jihad dalam arti khusus ini (perang), antara lain:  Tentang keharusan siaga perang (QS 3:200, 4:71);
Ketentuan atau etika perang (QS 2:190,193, 4:75, 9:12, 66:9);
Sikap menghadapi orang kafir dalam perang (QS 47:4),
Uzur yang dibenarkan tidak ikut perang (QS 9:91-92).

Ayat yang secara khusus menegaskan hukum perang dalam Islam bisa disimak pada QS 2:216-218 yang mewajibkan umat Islam berperang demi membela Islam. Dan, perang dalam Islam sifatnya “untuk membela atau mempertahankan diri” (defensif).

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Konsep dan Ciri-ciri Agama

Definisi atau Konsep Agama

Definisi atau konsep agama ada bermacam-macam, tergantung sudut pandang yang dipergunakannya. Geertz, seorang antropolog Amerika mengatakan bahwa agama adalah sebuah sistem simbol, sarana yang dipakai untuk membangun suasana hati dan motivasi yang kuat dan tahan lama di dalam diri manusia, rumusan konsepsi tatanan kehidupan, konsepsi suatu aura faktual, dan sarana untuk membuat suasana hati dan motivasi tampak realistik secara unik. Ia selanjutnya mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem kultur.

Pengertian Agama Menurut Beberapa Ahli

Adapun Edward Burnett Tylor mengatakan bahwa agama adalah kepercayaan pada makhluk-makhluk spiritual. Lebih lanjut dikatakannya bahwa agama adalah budaya primitif. Menurutnya, tahap awal agama adalah kepercayaan animisme, yakni alam memiliki jiwa. Pemujaan terhadap orang mati, pemujaan kepada para leluhur atau nenek moyang.
Sementara itu, Durkheim mengatakan bahwa agama adalah hal yang berkenaan dengan yang sakral dengan yang sosial. Hal yang paling elementer di dalam agama adalah totemisme. Totem adalah objek penyembahan, tetapi bukan dewa. Totem tidak menimbulkan ketakutan atau kehormatan, bahkan secara primitif tidak didiami oleh roh. Namun, totem memiliki sifat sosial. Totem adalah simbol suatu suku bangsa.
Berlainan dengan Freud dan Marx, dikatakannya bahwa agama adalah kepercayaan kepada para dewa. Evan Pritchard dan Geertz mengatakan bahwa agama adalah hubungan yang tepat dengan wilayah mistik yang terletak di balik dan di luar kehidupan biasa. Dikutip dari Antropolog Haviland, agama adalah kepercayaan dan pola perilaku yang diusahakan oleh manusia untuk menangani masalah-masalah penting yang tidak dapat dipecahkan dengan menggunakan teknologi dan teknik organisasi sehingga akhirnya berpaling kepada manipulasi makhluk dan kekuatan supranatural.

Ciri Agama

Kita telah mampu mendeskripsikan apa pengertian agama. Para ahli memang memiliki definisi sendiri-sendiri tentang agama. Bahkan kita pun bisa memberikan definisi tentang agama. Sebagai panduan, kita bisa mengenali ciri-ciri sebuah agama dari hal-hal sebagai berikut.
  • Pertama, terdiri atas ritual.
  • Kedua, ada doa, nyanyian, tarian, sesaji, dan kurban.
  • Ketiga, ada usaha manusia untuk memanipulasi makhluk dan kekuatan supernatural untuk kepentingannya sendiri; seperti dewa, dewi, arwah leluhur, roh, kekuatan impersonal.
  • Keempat, ada orang tertentu yang memiliki pengetahuan khusus untuk berhubungan dengan makhluk dan kekuatan gaib.

Menurut Daniel Lernercepat atau lambat masyarakat akan menuju pada , kehidupan modern. Penyebab hal tersebut diperkirakan oleh media massa yang dengan mudah mempengaruhi manusia berubah dari masyarakat tradisional menuju modern. Mannhardt mengatakan bahwa bentuk mitologi lebih sederhana adalah ritus-ritus dan kepercayaan para petani seperti hantu-hantu tanaman, rohroh gandum, dan roh-roh pepohonan.

Ada dua jenis agama yang ada di muka bumi ini.

Kedua jenis agama tersebut adalah agama bumi dan agama wahyu. Mari kita deskripsikan bersama.
a. Agama Bumi
Agama bumi tidak mengenal surga dan neraka, yang ada hanyalah hidup dan mati. Nirwana pun hanya ada dalam kehidupan. R.M. Lowie mengatakan bahwa agama primitif dipengaruhi dan ditentukan bentuknya oleh kesadaran tentang adanya hal yang misterius, supernatural, dan sesuatu yang luar biasa. Di dalam agama primitif, terdapat ritual magis yang secara psikologis berkaitan dengan peristiwa kerasukan, memercayai kekuatan supranatural mampu mengubah dunia.
b. Agama Wahyu
E.E. Evans Pritchard mengatakan bahwa awal munculnya agama adalah dari Tuhan bersamaan dengan diciptakannya manusia pertama yang juga bertindak selaku nabi, yaitu Adam. Dikutip dari Pritchard, yang disebut dengan wahyu bukanlah suatu khayalan atau imajinasi, atau bahkan intuisi.
Wahyu adalah firman Tuhan tentang diri-Nya, ciptaan-Nya, relasi antara keduanya, serta jalan menuju keselamatan yang disampaikan Nabi dan Rasul pilihan-Nya direpresentasikan melalui kata-kata dan disampaikan kepada Nabi kepada umat manusia melalui bentuk bahasa yang bersifat baru, mudah dipahami tanpa kerancuan (confusion) dengan subjektivitas dan inagurasi kognitif pemikiran Nabi. Teks Eksposisi Dikutip dari van Baal, wahyu adalah sesuatu yang datang dari Tuhan atau dari dewa-dewa, jadi hal yang tidak dapat dijangkau oleh daya pikir manusia.

Konsep Religi

Konsep Religi

Konsep Religi

 

Konsep Religi

Pengertian Religi

Sementara itu, konsep religi memiliki pengertian yang senada dengan agama. Dikutip dari J. van Baal, religi adalah semua gagasan yang berkaitan dengan kenyataan yang tidak dapat ditentukan secara empiris dan semua gagasan tentang perbuatan yang bersifat dugaan semacam itu, dianggap benar. Dengan demikian, surga atau neraka dianggap benar adanya meski tidak dapat dibuktikan keberadaannya.
Religi itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan nilai susila yang agung. Religi itu memiliki nilai, dan bukannya sistem ilmu pengetahuan. Religi juga sesuatu yang tidak masuk akal dan bertentangan dengan rasio. Religi menyangkut pula masalah yang dimiliki manusia. Religi sangat mempercayai adanya Tuhan, hukum kesusilaan, dan roh yang abadi.

Spencer mengatakan bahwa awal mula munculnya konsep religi adalah karena manusia sadar dan takut akan maut.

Berikutnya terjadi evolusi menjadi lebih kompleks dan terjadi diferensiasi. Diferensiasi tersebut adalah penyembahan kepada dewa; seperti dewa kejayaan, dewa kebijaksanaan, dewa perang, dewa pemelihara, dewi kecantikan, dewa maut, dan lain sebagainya.
Di dalam religi juga muncul yang disebut dengan Fetiyisme. De Brosess mengatakan bahwa fetiyisme adalah pemujaan kepada binatang atau barang tak bernyawa yang dijadikan dewa. Sementara itu kepercayaan akan kekuatan suatu benda yang diciptakan oleh ahlinya disebut dengan
Feitico atau azimat. Orang-orang yang berlayar banyak yang mengenakan azimat ini agar dapat selamat kembali ke darat.

 

Sumber penting di dalam religi adalah adanya empat hal yang muncul yang berkaitan dengan perasaan;

yakni takut, takjub, rasa syukur, dan masuk akal. Di dalam perkembangannya, animisme berubah menjadi politeisme, dan lalu berubah menjadi monoteisme. Banyak istilah yang kemudian muncul berkenaan dengan adanya sistem religi. Istilah yang kerap muncul di dalam religi adalah Tuhan, dewa, dewi, malaikat, roh, jin, iblis, setan, hantu, peri, raksasa, momok, roh, nyawa, orang mati, syamanisme, monoteisme, politeisme, ateisme, kesurupan, kerasukan, wahyu, pendeta, guru, nabi, pengkhotbah, dukun, ahli sihir, intuisi, pertanda, ramalan, animisme, totemisme, meditasi, puasa, mana, tabu, sakral, najis, kudus, duniawi, dan seterusnya. Jika dicermati, istilah-istilah tersebut memiliki hal yang agung, gaib, suci, menakutkan, dan tak kasat mata.

R.R. Marret mengatakan bahwa animisme bukan tahap awal suatu agama, melainkan pra-animisme.

Pra-animisme; yakni animatisme. Dikutip dari Marret, animatisme adalah pengalaman tentang kekuatan yang impersonal; yaitu suatu kekuatan yang supranatural yang tinggal di dalam orang-orang tertentu, binatang tertentu, dan di dalam benda-benda yang tak berjiwa. Kekuatan tersebut dapat berpindah. Kekuatan ini disebut dengan mana.
Orang-orang primitif memiliki perasaan bahwa ada sesuatu kekuatan gaib pada orang-orang dan benda-benda tertentu. Ada dan tidak adanya perasaan tersebut yang kemudian memisahkan antara yang suci (ukhrowi) dengan duniawi; dunia gaib dengan dunia sehari-hari. Dari hal tersebut muncul dengan yang dinamakan takwa. Dikutip dari Pritchard, takwa adalah suatu gabungan dari rasa takut, damba, kagum, tertarik, hormat, bahkan mungkin cinta.

Spencer mengatakan bahwa konsep religi

muncul karena manusia sadar dan merasa takut akan adanya maut, berevolusi kepada yang lebih kompleks menjadi penyembahan terhadap dewa maut, dewa perang, dewi kecantikan, dewa laut, dan sebagainya. E.B. Tylor mengatakan bahwa bentuk religi yang tertua adalah penyembahan kepada roh-roh yang merupakan personifikasi dari jiwa orang-orang yang telah meninggal, terutama nenek moyang.

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir
Penjelasan Sholat Witir

Secara garis besar, islam sangat menganjurkan sekali kepada umatnya untuk memperbanyak ibadah dan amal sholeh dan salah satu amalan tersebut yakni mengerjakan sholat sunnah witir. Sholat witir ialah suatu ibadah yang sanggup mendekatkan diri kepada Allah swt, sebagaimana yang kita ketahui sebenarnya Allah swt sangat menyayangi hambanya saat ia menyempurnakan amalan fardunya dengan amalan sunnahnya. Dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda : sesungguhnya Allah swt itu gabjil, dan menyukai yang ganjil, maka sholat witirlah kalian wahaai para hebat quran,

Hukum yang berkaitan dengan sholat witir

yaitu : Sesunggguhnya Allah swt menyukai bilangan ganjil, sebagaiana yang sanggup kita ambil dari hadist diatas. Hal ini disebabkan bahwa Allah swt itu satu, tidak ada yang kuasa lagi selainnya. Selain itu aneka macam pola penetapan syariah islam yang memakai bilangan ganjil ini, sebut saja sholat lima waktu, jumlah rakaatnya yaitu 17, maka ia termasuk bilangan ganjil. Kemudian Allah set membuat langit dan bumi 7 tingkat. Dan masih banyak lagi.
Adapun terkena waktunya yaitu dari mulai shlat isya hingga terbitnya fajar. Seabgaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah ra berkata : dari setiap malam, Rasulullah saw melaksanakan sholat witir baik itu dilaksanakan pada awal malam, dan selesai waktu witirnya tersebut pada waktu sahur. Adapun lebih baiknya sholat witir itu dilaksanakan pada waktu simpulan malam tepatnya pada sepertiga malam simpulan karena keadaan ini yaitu dimana Allah swt turun ke langit bumi”. Kita sebagai orang mukmin haruslah mempercayainya akan hal itu tetapi juga harus di ingat tanpa harus tahu bagaimanakah hal perihan turunnya tersebut.

Baca Juga: Ayat Kursi

Hukum sholat witir

yaitu : Sunnah Muakkad, sebagaimana yang sudah dikatakan oleh Syeikh Abdullah bin Baz ra salah seorang tokoh ulama populer Arab Saudi didalam salah satu wafatnya dan ulama lainnya. Adapun untuk tata caranya, sanggup dilakukan dengan cara satu rakaat, sanggup juga tiga rakaat yaitu shalat 2 rakaat disertai salam kemudian disempurnakan dengan satu rakaat witir, sanggup juga 5 rakaat yaitu 2 kali salam dan satu rakaat witir, begitupun seterusnya 7, 9, dan 11. Semuanya sanggup dilaksanakan dengan 2 rakaat 2 rakaat kemudian disertai dengan 1 rakaat shalat witir. Rasulullah saw seringnya melaksanakan sholat witir yaitu 11 rakaat.
Untuk tambahan, sehabis melaksanakan sholat witir disunnahkan untuk membaca : diriwayat lain yaitu riwayat Daaru Qutni, ada sedikit penambahan kata dari doa diatas yaitu pada simpulan bacaannya dimenambahkan denagn kata isnadnya shohih.

Kesimpulannya

yaitu sholat witir ialah amalan ibadahyang sanggup mendekatkan diri kta kepada Allah swt, sebagaimana yang sudah kita ketahui sebenarnya Allah swt mencintdiseebabai hambanya saat ia menyempurnakan amalan fardunya dengan amalan sunnahnya. Dan Rasulullah saw pun berwasiat kepada teman erat terdekatnya yaitu Abu Horairoh ra (eriwayat hadist rasulullah saw terbanyak berdasarkan para hebat hadist) dan Abi Darda ra untuk tidak meninggalkan sholat witir disebabkan oleh besarnya Fadilah yang didapat dari amalan tersebut.

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH
MACAM-MACAM KAFALAH

a. Kafalan bin nafs

Merupakan akad memberikan jaminan atas diri (personal guarantee). Sebagai contoh, dalam praktik perbankan bentuk kafalah bin nafs adalah seorang nasabah yang mendapat penbiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang atau pemuka masyarakat. Walaupun bank secara fisik tidak memegang barang apapun, tetapi bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan.

b. Kafalah bin maal

Kafalah bin maal merupakan jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang.

c. Kafalah bit-taslin

Jenis kafalah ini biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa, pada waktu masa sewa berakhir.
Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksakan oleh bank untuk kepentingan nasabahnya dalam bentuk kerja sama dengan perusahaan penyewaan (leasing company). Jaminan bagi bank dapat berupa deposito/tabungan dan bank dapat membebankan uang jasa (fee) kepada nasabah itu.

d. Kafalah al-munjazah

Adalah jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka waktu dan untuk kepentingan/tujuan tertentu.
Salah satu bentuk kafalah al-munjazah adalah pemberian jaminan dalam bentuk perfonce bonds (jaminan prestasi), suatu hal yang lazim dikalangan perbankan dan hal ini sesuai dengan bentuk akad.

e. Kafalah al-muallaqoh

Bentuk jaminan ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al-munjazah, baik oleh industry perbankan maupun asuransi. [4]

PEMBAYARAN KAFIIL

Jika kafiil (penjamin) telah melaksanakan kewajibannya dengan membayar utang orang yang ia jamin (makfuul anhu) maka si kafiil boleh meminta kembali kepada makfuul anhu apabila pembayaran itu dilakuakan berdasarkan izinnya. Alasannya, karena si kafiil telah mengeluarkan harta untuk kepentingan yang bermanfaat bagi si makfuul anhu. Dalam hal ini kempat imam sepakat. Namun mereka berbeda pendapat jika pembayaran dilakukan kafiil tanpa seizin makfuul anhu, sedangkan si kafiil sudah terlanjur membayar.

Menurut Syafii dan Abu Hanifah bahwa membayar utang orang yang dijamin tanpa izin darinya hukum sunah. Dhamin (kafiil) tidak berhak untuk minta ganti rugi kepadaorang yang ia jamin. Tetapi menurut maliki dhamin berhak menagih kembali kepada makfuul anhu.

Ibnu Hazm berpendapat bahwa dhamin tidak berhak menagih kembali kepada makfuul anhu atas apa yang telah ia bayarkan baik dengan izin makfuul anhu atau tidak.

Jika makfuul anhu ghaib (tidak ada) kafiil tetap berkewjiban menjamin. Ia tidak dapat mengelak dari kafalah kecuali dengan membayar atau orang yang berpiutang menyatakan bebas untuk kafiil dari utang maakfuul anhu.

Baca Juga: