Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir

Penjelasan Sholat Witir
Penjelasan Sholat Witir

Secara garis besar, islam sangat menganjurkan sekali kepada umatnya untuk memperbanyak ibadah dan amal sholeh dan salah satu amalan tersebut yakni mengerjakan sholat sunnah witir. Sholat witir ialah suatu ibadah yang sanggup mendekatkan diri kepada Allah swt, sebagaimana yang kita ketahui sebenarnya Allah swt sangat menyayangi hambanya saat ia menyempurnakan amalan fardunya dengan amalan sunnahnya. Dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda : sesungguhnya Allah swt itu gabjil, dan menyukai yang ganjil, maka sholat witirlah kalian wahaai para hebat quran,

Hukum yang berkaitan dengan sholat witir

yaitu : Sesunggguhnya Allah swt menyukai bilangan ganjil, sebagaiana yang sanggup kita ambil dari hadist diatas. Hal ini disebabkan bahwa Allah swt itu satu, tidak ada yang kuasa lagi selainnya. Selain itu aneka macam pola penetapan syariah islam yang memakai bilangan ganjil ini, sebut saja sholat lima waktu, jumlah rakaatnya yaitu 17, maka ia termasuk bilangan ganjil. Kemudian Allah set membuat langit dan bumi 7 tingkat. Dan masih banyak lagi.
Adapun terkena waktunya yaitu dari mulai shlat isya hingga terbitnya fajar. Seabgaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah ra berkata : dari setiap malam, Rasulullah saw melaksanakan sholat witir baik itu dilaksanakan pada awal malam, dan selesai waktu witirnya tersebut pada waktu sahur. Adapun lebih baiknya sholat witir itu dilaksanakan pada waktu simpulan malam tepatnya pada sepertiga malam simpulan karena keadaan ini yaitu dimana Allah swt turun ke langit bumi”. Kita sebagai orang mukmin haruslah mempercayainya akan hal itu tetapi juga harus di ingat tanpa harus tahu bagaimanakah hal perihan turunnya tersebut.

Baca Juga: Ayat Kursi

Hukum sholat witir

yaitu : Sunnah Muakkad, sebagaimana yang sudah dikatakan oleh Syeikh Abdullah bin Baz ra salah seorang tokoh ulama populer Arab Saudi didalam salah satu wafatnya dan ulama lainnya. Adapun untuk tata caranya, sanggup dilakukan dengan cara satu rakaat, sanggup juga tiga rakaat yaitu shalat 2 rakaat disertai salam kemudian disempurnakan dengan satu rakaat witir, sanggup juga 5 rakaat yaitu 2 kali salam dan satu rakaat witir, begitupun seterusnya 7, 9, dan 11. Semuanya sanggup dilaksanakan dengan 2 rakaat 2 rakaat kemudian disertai dengan 1 rakaat shalat witir. Rasulullah saw seringnya melaksanakan sholat witir yaitu 11 rakaat.
Untuk tambahan, sehabis melaksanakan sholat witir disunnahkan untuk membaca : diriwayat lain yaitu riwayat Daaru Qutni, ada sedikit penambahan kata dari doa diatas yaitu pada simpulan bacaannya dimenambahkan denagn kata isnadnya shohih.

Kesimpulannya

yaitu sholat witir ialah amalan ibadahyang sanggup mendekatkan diri kta kepada Allah swt, sebagaimana yang sudah kita ketahui sebenarnya Allah swt mencintdiseebabai hambanya saat ia menyempurnakan amalan fardunya dengan amalan sunnahnya. Dan Rasulullah saw pun berwasiat kepada teman erat terdekatnya yaitu Abu Horairoh ra (eriwayat hadist rasulullah saw terbanyak berdasarkan para hebat hadist) dan Abi Darda ra untuk tidak meninggalkan sholat witir disebabkan oleh besarnya Fadilah yang didapat dari amalan tersebut.

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH

MACAM-MACAM KAFALAH
MACAM-MACAM KAFALAH

a. Kafalan bin nafs

Merupakan akad memberikan jaminan atas diri (personal guarantee). Sebagai contoh, dalam praktik perbankan bentuk kafalah bin nafs adalah seorang nasabah yang mendapat penbiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang atau pemuka masyarakat. Walaupun bank secara fisik tidak memegang barang apapun, tetapi bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan.

b. Kafalah bin maal

Kafalah bin maal merupakan jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang.

c. Kafalah bit-taslin

Jenis kafalah ini biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa, pada waktu masa sewa berakhir.
Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksakan oleh bank untuk kepentingan nasabahnya dalam bentuk kerja sama dengan perusahaan penyewaan (leasing company). Jaminan bagi bank dapat berupa deposito/tabungan dan bank dapat membebankan uang jasa (fee) kepada nasabah itu.

d. Kafalah al-munjazah

Adalah jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka waktu dan untuk kepentingan/tujuan tertentu.
Salah satu bentuk kafalah al-munjazah adalah pemberian jaminan dalam bentuk perfonce bonds (jaminan prestasi), suatu hal yang lazim dikalangan perbankan dan hal ini sesuai dengan bentuk akad.

e. Kafalah al-muallaqoh

Bentuk jaminan ini merupakan penyederhanaan dari kafalah al-munjazah, baik oleh industry perbankan maupun asuransi. [4]

PEMBAYARAN KAFIIL

Jika kafiil (penjamin) telah melaksanakan kewajibannya dengan membayar utang orang yang ia jamin (makfuul anhu) maka si kafiil boleh meminta kembali kepada makfuul anhu apabila pembayaran itu dilakuakan berdasarkan izinnya. Alasannya, karena si kafiil telah mengeluarkan harta untuk kepentingan yang bermanfaat bagi si makfuul anhu. Dalam hal ini kempat imam sepakat. Namun mereka berbeda pendapat jika pembayaran dilakukan kafiil tanpa seizin makfuul anhu, sedangkan si kafiil sudah terlanjur membayar.

Menurut Syafii dan Abu Hanifah bahwa membayar utang orang yang dijamin tanpa izin darinya hukum sunah. Dhamin (kafiil) tidak berhak untuk minta ganti rugi kepadaorang yang ia jamin. Tetapi menurut maliki dhamin berhak menagih kembali kepada makfuul anhu.

Ibnu Hazm berpendapat bahwa dhamin tidak berhak menagih kembali kepada makfuul anhu atas apa yang telah ia bayarkan baik dengan izin makfuul anhu atau tidak.

Jika makfuul anhu ghaib (tidak ada) kafiil tetap berkewjiban menjamin. Ia tidak dapat mengelak dari kafalah kecuali dengan membayar atau orang yang berpiutang menyatakan bebas untuk kafiil dari utang maakfuul anhu.

Baca Juga:

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya
Pengertian Kafalah dan Landasan Hukumnya

Pengertian Kafalah

Al-kafalah menurut bahasa artinya, menggambungkan, jaminan, beban, dan tanggugan. Kafalah juga disebut dengan al-dhaman.
Menurut istilah syara’ sebagaimana didefinisikan oleh para ulama’:
1. Menurut Hasby ash-shiddiqie: menggambungkan dzimmah (tanggung jawab) kepada dzimmah yang lain dalam penagihan. [1]
2. Menurut mazhab syafii: akad yang menetapkan hak pada tanggungan (beban) yang lain atau menghadirkan zat benda yang dibebankan atau menghadirkan badan oleh orang yang berhak menghadirkannya.
3. Menurut Hanafiyah: proses penggambungan tanggungan kafiil menjadi tanggungan ashiil dalam tuntutan atau permintaan dengan materi atau utang atau barang atau pekerjaan.[2]
Dari beberapa definisi di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa kafalah/dhaman adalah transaksi yang menggabungkan dua tanggungan (beban) untuk memenuhi kewajiban baik berupa utang, uang, barang, pekerjaan, maupun badan.

LANDASAN ATAU DASAR HUKUM

a. Al-Qur’an

(QS. Yusuf : 72) Artinya: Penyeru-penyeru itu berkata: “Kami kehilangan piala Raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya”.

Baca Juga: Rukun Iman

b. Al-Hadist

Pinjaman hendaklah dikembalikan dan orang yang menjamin wajib untuk membayar. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

RUKUN DAN SYARAT KAFALAH

Menurut madzhab Hanafi bahwa rukun kafalah ada satu yaitu ijab dan qabul. Sedangkan menurut para ulama lainnya, bahwa rukun dan syarat al-kafalah adalah sebagai berikut:
a) Dhamin, kafil atau Zai’im, yaitu orang yg menjamin, dimana ia disyaratkan sudah baligh, berakal, tidak dicegah membelanjakan harta (mahjur) dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri.
b) Makful lahu atau disebut juga dengan madmun lah, yaitu orang yang berpiutang atau orang yang memberi utang, syaratnya orang yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin.
c) Makful ‘anhu atau disebut juga dengan madmun’anhu adalah orang yang berutang.
d) Makful bih atau madmun bih adalah utang, barang atau orang, disyaratkan pada makful bih dapat diketahui dan tetap keadaanya, baik sudah tetap atau akan tetap.
e) Lafadz, disyaratkan keadaan lafadz itu berarti menjamin, tidak digantungkan kepada sesuatu atau tidak sementara.

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Pengertian dan Aplikasi Wakalah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pengertian Wakalah

Secara bahasa kata al-Wakalah atau al-wikalah berarti al-Tafwidh (penyerahan, pendelegasian dan pemberian mandat) seperti perkataan :usanku kepada Allah
و كلت أمرى الى الله أى فو ضته اليه
Artinya: “aku serahkan urusanku kepada Allah”.
Secara terminologi (syara’) sebagaimana dikemukakan oleh fukaha:

1. Imam Taqy al-Din Abu Bakr Ibn Muhammad al-Husaini

تفويض ما له فعله مما يقبل النيا بة الى غيره ليحفظه فى حال حياتهArtinya: “menyerahkan suatu pekerjaan yang dapat digantikan kep[ada orang lain agar dikelola dan dijaga pada masa hidupnya”.

2. Menurut Hasbi Ash-Shiddiqie

“Akad penyerahan kekuasaan dimana pada akad itu seseorang menunjuk orang lain sebagai gantinya untuk bertindak”.

Dari dua definisi diatas dapat ditari kesimpulan bahwa Wakalah adalah sebuah transaksi dimana seseorang menunjuk orang lain untuk menggantikan dalam mengerjakan pekerjaannya/perkaranya ketika masih hidup.
Dalam Wakalah sebenarnya pemilik urusan (muwakkil) itu dapat secara sah untuk mengerjakan pekerjaannya secara sendiri. Namun, karena satu dan lain hal urusan itu ia serahkan kepada orang lain yang dipandang mampu untuk menggantikannya. Oleh karena itu, jika seorang (muwakkil) itu ialah orang yang tidak ahli untuk mengerjakan urusannya itu seperti orang gila atau anak kecil maka tidak sah untuk mewakilkan kepada orang lain. Contoh Wakalah, seseorang mewakilkan kepada orang lain untuk bertindak sebagai wali nikah dalam pernikahan anak perempuannya. Contoh lain seorang terdakwa mewakilkan urusan kepada pengacaranya.

Baca Juga: Rukun Islam

Aplikasi Wakalah

Akad Wakalah dapat diaplikasikan ke dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang ekonomi, terutama dalam institusi keuangan:

a. Transfer uang

Proses transfer uang ini adalah proses yang menggunakan konsep akad Wakalah, dimana prosesnya diawali dengan adanya permintaan nasabah sebagai Al-Muwakkil terhadap bank sebagai Al-Wakil untuk melakukan perintah/permintaan kepada bank untuk mentransfer sejumlah uang kepada rekening orang lain, kemudian bank mendebet rekening nasabah (Jika transfer dari rekening ke rekening), dan proses yang terakhir yaitu dimana bank mengkreditkan sejumlah dana kepada kepada rekening tujuan. Berikut adalah beberapa contoh proses dalam transfer uang ini

a) Wesel Pos
Pada proses wesel pos, uang tunai diberikan secara langsung dari Al-Muwakkil kepada Al-Wakil, dan Al-Wakil memberikan uangnya secara langsung kepada nasabah yang dituju. Berikut adalah proses pentransferan uang dalam Wesel Pos.
b) Transfer uang melalui cabang suatu bank
Dalam proses ini, Al-Muwakkil memberikan uangnya secara tunai kepada bank yang merupakan Al-Wakil, namun bank tidak memberikannya secara langsung kepada nasabah yang dikirim. Tetapi bank mengirimkannya kepada rekening nasabah yang dituju tersebut. Berikut adalah proses pentrasferan uang melalui cabang sebuah bank.
c) Transfer melalui ATM
Kemudian ada juga proses transfer uang dimana pendelegasian untuk mengirimkan uang, tidak secara langsung uangnya diberikan dari Al-Muwakkil kepada bank sebagai Al-Wakil. Dalam model ini, Nasabah Al-Muwakkil meminta bank untuk mendebet rekening tabungannya, dan kemudian meminta bank untuk menambahkan di rekening nasabah yang dituju sebesar pengurangan pada rekeningnya sendiri. Yang sangat sering terjadi saat ini adalah proses yang ketiga ini, dimana nasabah bisa melakukan transfer sendiri melalui mesin ATM.

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah
Usaha Pemalsuan dan Kodifikasi Hadits Pada Abad Ke-2 Hijriyah

Pemalsuan hadits

Pada abad kedua hijriyah kegiatan pemalsuan Hadits semakin berkembang. Motif pemalsuan Hadits pada masa ini tidak lagi hanya untuk menarik keuntungan bagi golongannya dan mencela lawan politiknya, tetapi sudah semakin beragam seperti yang dilakukan oleh tukang-tukang cerita dalam rangka menarik minat orang banyak, kaum zindik yang bertujuan untuk meruntuhkan Islam, dan lain-lain. Uraian secara lebih rinci dan lebih jelas tentang keberadaan Hadis-Hadis palsu ini, akan terlihat pada uraian tentang Hadis palsu dan permasalahannya berikut.

Periode ini berlangsung sejak masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun sampai pada awal pemerintahan Khalifah Al-Muqtadir dari kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Pada periode ini para Ulama Hadis memusatkan perhatian mereka pada pemeliharaan keberadaan dan terutama kemurnian Hadits Hadits Nabi SAW, sebagai antisipasi mereka terhadap kegiatan pemalsuan Hadis yang semakin marak.

Abad Kedua Hijriah

Pada abad kedua Hijriah perkembangan ilmu pengetahuan Islam pesat sekali dan telah melahirkan para imam mujtahid di berbagai bidang, di antaranya di bidang Fiqh dan Ilmu Kalam. Pada dasarnya para imam mujtahid tersebut, meskipun dalam beberapa hal mereka berbeda pendapat, mereka saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing. Akan tetapi, para pengikut masing-masing imam, terutama setelah memasuki abad ke-3 Hijriah, berkeyakinan bahwa pendapat gurunya (imamnya)-lah yang benar, dan bahkan hal tersebut sampai menimbulkan bentrokan pendapat yang semakin meruncing. Di antara pengikut mazhab yang sangat fanatik, akhirnya menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka mendukung mazhabnya dan menjatuhkan mazhab lawannya.

Di antara mazhab Ilmu Kalam, khususnya Mu’tazilah, sangat memusuhi Ulama Hadis sehingga terdorong untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka memaksakan pendapat mereka. Hal ini terutama setelah Khalifah Al-Ma’mun berkuasa dan mendukung golongan Mu’tazilah. Perbedaan pendapat mengenai kemakhlukan Al-Qur’an menyebabkan Imam Ahmad ibn Hanbal, seorang tokoh Ulama Hadis, terpaksa dipenjarakan dan disiksa. Keadaan ini berlanjut terus pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim (w. 227 H) dan AkWatsiq (w. 232 H); dan barulah setelah pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil, yang mulai memerintah pada tahun 232 H” keadaan berubah dan menjadi positif bagi Ulama Hadis.

Penciptaan Hadis-Hadis palsu tidak hanya dilakukan oleh mereka yang fanatik mazhab, tetapi momentum pertentangan mazhab tersebut juga dimanfaatkan oleh kaum zindik yang sangat memusuhi Islam, untuk menciptakan Hadis-Hadis palsu dalam rangka merusak ajaran Islam dan menyesatkan kaum Muslimin. Kegiatan pemalsuan Hadis ini semakin disemarakkan oleh para pembuat kisah, yang dalam rangka menarik para pendengarnya juga melakukan pemalsuan Hadis.

Selain berkembangnya Hadis palsu, pada abad kedua hijriyah ini muncul pula sekelompok orang yang menolak Hadis. Di antara mereka ada yang menolak Hadis secara keseluruhan, baik Hadits Ahad maupun juga Hadis Mutawatir, dan ada yang menolak Hadis Ahad saja. Imam Al-Syafi’i bangkit dan melakukan serangan balik terhadap kelompok yang menolak Hadis ini, yaitu dengan cara mengemukakan bantahan terhadap satu per satu argumen yang di kemukakan oleh para penolak Hadis di atas dengan mengemukakan dalil-dalil yang lebih kuat. Oleh karenanya, Imam Al-Syafi’i diberi gelar “Nashir al-Hadits” (“penolong Hadis”) atau “Multazim al-Sunnah”.

Salah satu usaha menjaga pemurnian hadits adalah dengan melakukan pengkodifikasian hadits .

Kitab Hasil Modifikasi

Di antara kitab-kitab yang merupakan hasil kodifikasi pada abad kedua hijriyah yang masih dijumpai sampai sekarang dan banyak dirujuk oleh para Ulama adalah:

Kitab Al-Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik atas permintaan Khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
Musnad Al-Syafi’i, karya Imam Al-Syafi’i, yaitu berupa kumpulan Hadis yang terdapat dalam kitab Al-Umm.
Mukhtaliful Hadits, karya Imam Al-Syafi’i yang isinya mengandung pembahasan tentang cara-cara menerima Hadis sebagai hujjahdan cara-cara mengkompromikan Hadis yang kelihatannya kontradiktif satu sama lain.
Al-Sirat al-Nabawiyyah, oleh Ibn Ishaq. Isinya antara lain tentang perjalanan hidup Nabi SAW dan peperangan-peperangan yang terjadi pada zaman Nabi (Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis. 104-105)

Ciri-Ciri Kitab Hadits Abad ke Dia Hijriyah

Di antara sistem pembukuan dan ciri kitab kitab Hadits pada abad kedua hijriyah ini adalah:
Pada umumnya kitab-kitab Hadis pada abad ini menghimpun Hadits Hadits Rasul SAW serta fatwa-fatwa Sahabat dan Tabi’in. Yang hanya menghimpun Hadis- Hadis Nabi SAW adalah kitab yang disusun oleh Ibn Hazm. Hal ini sejalan dengan instruksi Khalifah ‘Umar ibn Abd al-Aziz yang berbunyi:

Janganlah kamu terima selain dari Hadis Nabi SAW.
Himpunan Hadits pada masa ini masih bercampurbaur antara berbagai topik yang ada, seperti yang menyangkut bidang Tafsir, Sirah, Hukum, dan sebagainya, dan belum dihimpun berdasarkan topik-topik tertentu.
Di dalam kitab-kitab Hadis pada periode ini belum dijumpai pemisahan antara Hadis-Hadis yang berkualitas Shahih, Hasan, dan Dha’if.

Demikian uraian tentang usaha pemalsuan hadits dan usaha menjaga pemurnian hadits pada abad kedua hijriyah ini, mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.

Baca Juga: 

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang
Penjelasan Hadits Abad Ke-7 Hingga Sekarang

Hadits pada Pertengahan Abad ke-7 Hijriah Sampai Sekarang (Masa Pensyarahan, Penghimpunan, Pentakhrijan, dan Pembahasannya)

Kegiatan Periwayatan Hadits pada Periode Ini

Periode ini dimulai sejak Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad ditaklukkan oleh tentara Tartar (656 H/ 1258 M), yang kemudian Kekhalifahan Abbasiyah tersebut dihidupkan kembali oleh Dinasti Mamluk dari Mesir setelah mereka berhasil menghancurkan bangsa Mongol tersebut. Pembaiatan khalifah oleh Dinasti Mamluk hanyalah sekadar simbol saja agar daerah-daerah Islam yang lain dapat mengakui Mesir sebagai pusat pemerintahan Islam, dan selanjutnya mengakui Dinasti Mamluk sebagai penguasa Dunia Islam. Akan tetapi, pada permulaan abad ke-8 H, Utsman Kajuk mendirikan kerajaan di Turki di atas puing-puing peninggalan Bani Saljuk di Asia Tengah, sehingga bersama-sama dengan keturunannya Utsman berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitarnya dan selanjutnya membangun Daulah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Dengan berhasilnya mereka menaklukkan Konstantinopel dan Mesir serta meruntuhkan Khilafah Abbasiyah, maka berpindahlah pusat kekuasaan Islam dari Mesir ke Konstantinopel. Pada abad ke-13 H (awal abad ke-19 M), Mesir, dengan dipimpin oleh Muhammad Ali, mulai bangkit untuk mengembalikan kejayaan Mesir masa silam. Namun, Eropa yang dimotori oleh Inggris dan Prancis semakin bertambah kuat dan berkeinginan besar untuk menguasai dunia. Mereka secara bertahap mulai menguasai daerah-daerah Islam, sehingga pada abad ke-19 M sampai awal abad ke-20 M hampir seluruh wilayah Islam dijajah oleh bangsa Eropa. Kebangkitan kembali umat Islam baru dimulai pada pertengahan abad ke-20 M.

Sejalan dengan keadaan dan kondisi daerah-daerah Islam di atas, maka kegiatan periwayatan Hadits pada periode ini lebih banyak dilakukan dengan cara ijazah dan mukatabah. Ijazah adalah pemberian izin dari seorang guru kepada muridnya untuk meriwayatkan Hadits-Hadits yang berasal dari guru tersebut, baik yang tertulis ataupun yang bersifat hafalan. Sedangkan mukatabah adalah pemberian catatan Hadits dari seorang guru kepada orang lain (muridnya), baik catatan tersebut ditulis oleh guru itu sendiri atau yang didiktekannya kepada muridnya. (Lihat M. Syuhudi Ismail. Pengantar Ilmu Hadits, h. 125).

Sedikit sekali dari Ulama Hadits periode ini yang melakukan periwayatan Hadits secara hafalan sebagaimana yang dilakukan oleh Ulama mutaqaddimin. Di antara mereka yang sedikit itu adalah:

Al-Iraqi (w. 806 H /1404 M). Dia berhasil mendiktekan Hadits secara hafalan kepada 400 majelis sejak tahun 796 H /1394 M, dan juga menulis beberapa kitab Hadits. Ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1448 M), seorang penghafal Hadits yang tiada tandingannya pada masanya. Dia telah mendiktekan Hadits kepada 1.000 majelis dan menulis sejumlah kitab yang berkaitan dengan Hadits. Al-Sakhawi (w. 902 H/ 1497 M), murid Ibn Hajar, yang telah mendiktekan Hadits kepada 1.000 majelis dan menulis sejumlah kitab.

Pada periode ini, umumnya para Ulama Hadits mempelajari kitab-kitab Hadits yang telah ada, dan selanjutnya mengembangkannya atau meringkasnya sehingga menghasilkan jenis karya sebagai berikut:

Kitab Syarah

Yaitu, jenis kitab yang memuat uraian dan penjelasan kandungan Hadits dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil lain yang bersumber dari Al Qur’an, Hadits, ataupun kaidah-kaidah syara’ lainnya. Di antara contohnya adalah: Fath al-Bari, oleh Ibn Hajar al-Asqalani, yaitu syarah kitab Shahih Al-Bukhari,
Al-Minhaj, oleh Al-Nawawi, yang mensyarahkan kitab Shahih Muslim,
‘Aun al-Ma’bud, oleh Syams al-Haq al-Azhim al- Abadi, syarah Sunan Abu Dawud.

Kitab Mukhtashar

Yaitu, kitab yang berisi ringkasan dari suatu kitab Hadits, seperti Mukhtashar Shahih Muslim, oleh Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi.

Kitab Zawa’id

Yaitu, kitab yang menghimpun Hadits-Hadits dari kitab-kitab tertentu yang tidak dimuat oleh kitab tertentu lainnya. Di antara contohnya adalah Zawa’id al-Sunan al-Kubra, oleh Al-Bushiri, yang memuat Hadits-Hadits riwayat al-Baihaqi yang tidak termuat dalam Al-Kutub al-Sittah.

Kitab Penunjuk Hadits (kode indeks)

Yaitu, kitab yang berisi petunjuk-petunjuk praktis untuk mempermudah mencari matan Hadits pada kitab-kitab tertentu. Contohnya, Miftah Kunuz al-Sunnah, oleh A.J. Wensinck, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh M. Fu’ad Abd al-Baqi.

Kitab Takhrij

Yaitu, kitab yang menjelaskan tempat- tempat pengambilan Hadits-Hadits yang dimuat dalam kitab tertentu dan menjelaskan kualitasnya. Contohnya adalah, Takhrij Ahadits al-Ihya’, oleh Al-Iraqi. Kitab ini mentakhrij Hadits-Hadits yang terdapat di dalam kitab Ihya9 ‘Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali.

Kitab Jami’

Yaitu, kitab yang menghimpun Hadits-Hadits dari beberapa kitab Hadits tertentu, seperti Al-Lu’lu’wa al-Marjan, karya Muhammad Fu’ad al-Baqi. Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits Bukhari dan Muslim.

Terakhir kitab yang membahas masalah tertentu, seperti masalah hukum. Contohnya, Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam oleh Ibn Hajar al-Asqalani dan Koleksi Hadits- Hadits Hukum oleh T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah Perkembangan Hadits, h. 116-122).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Penjelasan Hadits Abad Ke-4
Penjelasan Hadits Abad Ke-4

Periwayatan Hadits pada Periode ini

Periode ini dimulai pada masa Khalifah Al-Muqtadir sampai Khalifah Al-Mu’tashim. Meskipun pada periode ini kekuasaan Islam mulai melemah dan bahkan mengalami keruntuhan pada pertengahan abad ke-7 Hijriah akibat serangan Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan, kegiatan para Ulama Hadits dalam rangka memelihara dan mengembangkan Hadits tetap berlangsung sebagaimana pada periode-periode sebelumnya. Hanya saja Hadits-Hadits yang dihimpun pada periode ini tidaklah sebanyak yang dihimpun pada periode-periode sebelumnya. Kitab-kitab Hadits yang dihimpun pada periode ini adalah:
1. Al-Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (313 H),
2. Al-Anwar wa al-Taqsim oleh Ibn Hibban (354 H),
3. Al-Musnad oleh Abu Awanah (316 H),
4. Al-Muntaqa oleh Ibn Jarud,
5. Al-Mukhtarah oleh Muhammad ibn Abd al-Wahid al- Maqdisi.

Setelah lahirnya karya-karya di atas, maka kegiatan para Ulama berikutnya pada umumnya adalah merujuk kepada karya-karya yang telah ada dengan bentuk kegiatan seperti mempelajari, menghafal, memeriksa, dan menyelidiki sanad-sanadnya. Juga menyusun kitab-kitab baru dengan tujuan memelihara, menertibkan, dan menghimpun semua sanad dan matan yang saling berhubungan serta yang telah termuat secara terpisah dalam kitab-kitab yang telah ada tersebut.

Bentuk Penyusunan Kitab Hadits pada Periode Ini

Para Ulama Hadits periode ini memperkenalkan sistem baru dalam penyusunan Hadits, yaitu:

a. Kitab Athraf

Di dalam kitab ini penyusunnya hanya menyebutkan sebagian dari matan Hadits tertentu kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu, baik sanad yang berasal dari kitab Hadits yang dikutip matannya ataupun dari kitab-kitab lainnya. Contoh dari kitab jenis ini adalah:
Athraf al-Shahihaini, oleh Ibrahim al-Dimasyqi (w. 400 H),
Athraf al-Shahihaini, oleh Abu Muhammad Khalaf ibn Muhammad al-Wasithi (w. 401 H),
Athraf al-Sunan al-Arba’ah, oleh Ibn Asakir al- Dimasyqi (w. 571 H),
Athraf al-Kutub al-Sittah, oleh Muhammad ibn Thahir al-Maqdisi (507 H).

b. Kitab Mustakhraj

Kitab ini memuat matan Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim, atau keduanya, atau lainnya, dan selanjutnya penyusun kitab ini meriwayatkan matan Hadits tersebut dengan sanad-nya sendiri. Contoh kitab ini adalah:

Mustakhraj Shahih Bukhari, oleh Jurjani.
Mustakhraj Shahih Muslim, oleh Abu Awanah (316 H),
Mustakhraj Bukhari-Muslim, oleh Abu Bakar ibn Abdan al-Sirazi (w. 388 H).

c. Kitab Mustadrak

Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau yang memiliki salah satu syarat dari keduanya. Contohnya adalah:

Al-Mustadrak, oleh Al-Hakim (321-405 H),
Al-Rzamat, oleh Al-Daraquthni (306-385 H).

d. Kitab Jami’

Kitab ini menghimpun Hadits-Hadits yang termuat dalam kitab-kitab yang telah ada, yaitu seperti:
Yang menghimpun Hadits-Hadits Shahih Bukhari dan Muslim:

Al-Jami’ bayn al-Shahihaini, oleh Ibn al-Furat (Ibn Muhammad/w. 414 H),
Al-Jami’ Bayn al-Shahihaini, oleh Muhammad ibn Nashr al-Humaidi (488H),
Al-Jami’Bayn al-Shahihaini, oleh Al-Baghawi (516 H).
Yang menghimpun Hadits-Hadits dari Al-Kutub al-Sittah:

Tajrid al-Shihah, oleh Razim Mu’awiyah, yang disem¬purnakan oleh Ibn al-Atsir al-Jazari dalam kitab Al- Jami’ al-Ushul li Ahadits al-Rasul,
Al-Jamioleh Ibn Kharrat (582 H).
Yang menghimpun Hadits-Hadits Nabi dari berbagai kitab Hadits:

Mashabih al-Sunnah, oleh Al-Baghawi (516 H), dan selanjutnya disaring oleh Al-Khathib al-Tabrizi dengan judul Misykat al-Mashabih, Jami’ al-Masanid tua al-Alqab, oleh Abd al-Rahman ibn Ali al-Jauzi (597 H). Kitab ini selanjutnya ditertibkan oleh Al-Thabari (964 H), Bahr al-Asanid, oleh Al-Hasan ibn Ahmad al- Samarqandi (491 H).

Selain kitab-kitab di atas yang termasuk ke dalam Kitab Jami’, dijumpai juga jenis kitab yang menghimpun Hadits-Hadits mengenai masalah-masalah tertentu dari kitab-kitab Hadits yang ada, seperti:
Yang menghimpun Hadits-Hadits Ahkam: Muntaqa al-Akhbar f al-Ahkam, oleh Majd al-Din Abd al-Salam ibn ‘Abd Allah (652 H), Al-Sunnah al-Kubra, oleh Al-Baihaqi (458 H), Al-Ahkam al-Shughra, oleh Ibn Kharrat (582 H).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah
Tentang Syarat-Syaratnya Membaca Al-Fatihah

Syaratnya Membaca Al-Fatihah

  • tertib secara berurutan, muwalat,
  • menjaga tasydidnya,
  • tidak boleh lahn (salah mengucapkan bunyi huruf) yang nantinya dapat merubah artinya,
  • setidak-tidaknya bacaan itu dapat didengar oleh pembaca itu sendiri,
  • jangan sampai bacaan al-fatihah itu ditengah-tengahnya diselingi dzikir lain-lainnya.

Syarat Ruku’

Syarat-syarat ruku’ adalah kedua telapak tangannya dapat mendekap kedua lututnya,

jangan sampai orang yang ruku’ itu meninggikan kepalanya, leher dan punggungnya serta merendahkan pantatnya dan memajukan dadanya.

Syaratnya Sujud

Syarat-syaratnya sujud adalah :orang yang sujud itu mengikutkan 7 anggota badannya (dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kakinya),

dahinya supaya terbuka; tidak terhalang oleh sesuatu, misalnya: rambut, kopyah dan lain-lain,

tidak bersujud diatas benda yang bergerak yang gerakannya disebabkan orang yang sedang shalat.

Sunnah Sholat

Sunnah-sunnah shalat sebelum memulainya:

  1. Azan, untuk shalat fardhu, baik disaat bepergian atau menetap sesudah masuknya waktu shalat, kecuali shubuh, karena shalat subuh itu disunnahkan memakai dua azan.
  2. Azan pertama dipertengahan malam, sedang azan kedua setelah menyingsingnya fajar shadiq yang berarti shalat subuh sudah masuk,
  3. iqamah, yang langsung disambung dengan mengerjakan shalat,
  4. bersiwak disunnahkan untuk segala waktu, kecuali waktu sesudah tergelincirnya matahari bagi orang yang berpuasa,
  5. meletakkan sutra (sajadah) agar jangan ada orang berjalan dimuka orang yang sedang shalat.

Sunnah Shalat Setelah Berada Dalam Keadaan Shalat

Sunnah-sunnah shalat setelah berada dalam keadaan shalat; itu ada 2 macam, yaitu:

  • sunnah ab’ad,
  • sunnah hai’at.

Sunnah Ab’adnya Shalat

Yang termasuk sunnah ab’adnya shalat: Ada 7 hal, barang siapa meninggalkan salah satu dari padanya, maka hendaklah melakukan sujud sahwi (sujud karena lupa):

  1. Duduk tahiyat awal,
  2. membaca tasyahud diwaktu duduk tahiyat awal,
  3. membaca shalawat atas nabi Muhammad SAW. di waktu duduk tahiyat awal,
  4. membaca shalawat yang ditujukan kepada keluarga nabi dalam tasyahhud akhir,
  5. membaca qunut diwaktu shalat shubuh dan diwaktu melakukan shalat sunnah witir setelah pertengahan yang akhir dari bulan ramadhan,
  6. membaca qunut dengan berdiri,
  7. membaca shalawat atas nabi muhammad  SAW. juga atas seluruh keluarga serta para sahabatnya dalam qunut.

Sunah Haiat sholat akan kami sampaikan setelah ini. Demikin uraian ini kami sampaikan terimakasih

Baca Juga:

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat
Sholat Lima Waktu dan Hukum Sholat

Sholat Lima Waktu

Shalat lima waktu: Hukum shalat lima waktu adalah fardhu ’ain atas pribadi orang mukallaf, maka siapa yang menolak kewajiban shalat lima waktu, mereka adalah orang kafir. Bagi anak-anak supaya diperintahkan setelah mencapai umur 7 tahun dan hendaklah dipukul kalau meninggalkan setelah berusia 10 tahun.

  • Hal-hal yang menjadi syarat sahnya shalat:
  • Thaharaah (bersuci) dari kedua hadats (hadats kecil atau besar),
  • Thaharaah (bersuci) badannya, pakaian dan tempatnya shalat dari semua benda najis,
  • menutup aurat,
  • menghadap ke kiblat,
  • waktu shalat telah masuk.

Aurat

Adapun yang termasuk aurat bagi orang laki-laki ialah anggota badan antara pusar sampai lutut, dan bagi perempuan merdeka (bukan hamba sahaya) ialah seluruh tubuh selain wajah dan kedua telapak tangan.

Waktu-waktunya shalat:

  • waktu shubuh: dimulai dari menyingsingnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari,
  • waktu dhuhur: dimulai dari tergelincirnya matahari hingga bayangan satu benda sama     panjangnya dengan benda itu sendiri; selain bayangan istiwa’,
  • waktu ashar: dimulai dari habisnya waktu dhuhur hingga terbenamnya matahari,
  • waktu maghrib: dimulai dari terbenamnya matahari hingga hilangnya awan merah,
  • waktu isya’: dimulai dari hilangnya awan merah hingga menyingsingnya fajar shadiq.

Waktu Makruh Melakukan Shalat Sunnah

Waktu-waktu yang dimakruhkan melakukan shalat sunnah: Di makruhkan melakukan shalat sunnah tanpa sebab tertentu adalah ada 5 waktu selain dimekkah, yaitu:

  • sesudah shalat subuh hingga terbitnya matahari,
  • ketika terbitnya matahari hingga naik setinggi tombak,
  • ketika istiwa’ (matahari tepat berada ditengah-tengah) kecuali pada hari jum’at,
  • sesudah shalat ashar hingga terbenamnya matahari,
  • ketika menguningnya sinar matahari hingga terbenam.

Rukun Sholat

Rukun-rukun shalat itu ada 13, yaitu:

  1. Niat, diiringi dengan mengucapkan takbirotul ihram,
  2. berdiri, bagi orang yang mampu melakukan dalam shalat fardhu,
  3. takbirotul ihram,
  4. membaca Al-Fatihah,
  5. ruku’ dengan tuma’ninah
  6. I’tidal dengan tuma’ninah,
  7. sujud dua kali dengan tuma’ninah,
  8. duduk antara dua sujud dengan tuma’ninah, dengan tuma’ninah,
  9. duduk terahir,
  10. membaca tasyahud dalam duduk yang terahir,
  11. membaca shalawat atas nabi muhammad SAW. dalam duduk yang akhir,
  12. mentertibkan semua yang menjadi rukun-rukun shalat,
  13. mengucapkan salam yang pertama.

Syarat-syarat niat:

Jika shalat itu shalat fardhu, maka wajib adanya: Qashad (kesengajaan), Ta’yin (ketentuan), niat mengerjakan fardhunya,  jika shalat itu shalat sunnah yang ditentukan waktunya atau ada sebabnya, maka wajib adanya: Qashad dan Ta’yin,  jika shalat itu shalat sunnah mutlak, maka wajib adanya: Qashad saja.

Demikian kami Sampaikan terimakasih

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Hal-hal Mengenai Makmum

Hal-hal Mengenai Makmum

Hal-hal Mengenai Makmum

Hal-hal Mengenai Makmum
Hal-hal Mengenai Makmum

Tentang Makmum

Makmum itu terbagi dua, yaitu:

  1. Makmum Masbuq (makmum yang ketinggalan), dan
  2. Makmum Muwafiq (makmum yang bertepatan).
  3. Makmum Masbuq yaitu: makmum yang tidak memperoleh waktu dalam mengikuti imam, yang waktu tadi cukup digunakan untuk membaca Al-Fatihah.

Makmum Muwafiq yaitu

Makmum Muwafiq yaitu: makmum yang memperoleh waktu bersama imam, yang waktu tadi cukupdigunakan untuk membaca Al-Fatihah.

Hukum-Hukum Makmum Masbuq:

Jika makmum masbuq mendapati imam sedang ruku’, maka makmum tadi hendaklah mengikuti imam yang sedang ruku’, maka gugurlah kewajiban membaca Fatihah bagi dirinya. Hal yang demikian dapat dianggap sudah memperoleh satu rokaat bagi makmum tersebut asalkan ia sempat melakukan tuma’ninah bersama imam. (Penjelasan : Kalau makmum itu tidak memperoleh kesempatan melakukan tuma’ninah bersama imam, disebabkan karena imam terus berdiri disaat makmum mengikuti ruku’, maka makmum tersebut tidak dapat dianggap memperoleh satu rakaat.),

Jika makmum masbuq itu mendapatkan imam dalam keadaan masih berdiri, tetapi imam itu lalu ruku’ sedangkan imam tersebut belum sepat menyempurnakan bacaan Fatihah, maka makmum hendaklah mengikuti ruku’ apabila makmum itu tidak sedang menyempurnakan bacaan iftitah atau ta’awwudz. Makmum yang demikian telah gugur dari dirinya mana-mana yang tertinggal dari bacaan Fatihahnya dan sudah dapat dianggap memperoleh satu rakaat.

Jika makmum masbuq itu mendapatkan imam dalam keadaan masih berdiri sedang makmum tadi masih sibuk dengan bacaan iftitah atau ta’awwudz, tiba-tiba imam itu ruku’ sedang makmum tadi belum sempat menyempurnakan Fatihah, maka makmum hendaklah sedikit menangguhkansekedar waktu yang cukup untuk membaca do’a iftitah atau ta’awwudz. Jika dengan penangguhan itu makmum memperoleh kesempatan untuk menyertai ruku’ bersama imam, maka makmum tadi dianggap dapat memperoleh satu rakaat. Tetapi apabila imamnya lalu berdiri untuk beri’itidal sebelum makmum itu sempat ruku’, maka makmum tadi berarti tertinggal satu rakaat. Seterusnya apabila imam itu lalu sujud dan makmum masih belum dapat menyelesaikan, maka batallah sholat makmum masbuq itu., jika ia tidak dengan segera niat mufaraqah (berpisah dari imam).

Hukum Makmum Muwafiq:

Makmum Muwafiq  itu diwajibkan melengkapi bacaan Fatihahnya apabila imamnya melakukan ruku’, maka wajiblah makmum itu surat ke belakang (tidak diperkenankan ruku’ untuk melengkapi bacaan Fatihahnya),

Jika makmum itu surat ke belakang untuk menyempurnakan bacaan Fatihahnya, maka dibolehkan mundur dari imam dengan tiga macam rukun sholat, apabila terdapat salah satu uzur dari berbagai uzur yang tercantum dibawah ini, yaitu: Pertama : Apabila makmum muwafiq itu memang lambat bacaannya bukan dikarenakan was-was sedangkan imamnya sedang-sedang saja bacaannya (menurut kebiasaan). Kedua : Apabila makmum muwafiq itu lupa membaca Fatihah dan baru sadar kalau ia lupa sebelum melakukan ruku’ bersama imam, oleh karenanya, andaikan ia sadar bahwa ia kelupaan sesudah ruku’, maka ia tidak perlu lagi menyempurnakan bacaan Fatihahnya, bahkan ia wajib terus mengikuti imam dan makmum muwiq yang demikian wajib menunaikan satu rakaat sesudah salamnya imam (rakaatnya yang pertama tidak dapat dianggap), Ketiga : Apabila makmum muwafiq itu sibuk dengan bacaan iftitah atau ta’awwudz karena menyangka bahwa dia dapat menyempurnakan bacaan Fatihahnya, tetapi kenyataannya ia tidak dapat. Atau kalau ia sudah yakin sebelumnya bahwa ia akan terlambat membaca Fatihah (tetapi masih terus saja dengan membaca do’a iftitah dan ta’awwudz), kemudian tidak dapat menyertai imam di waktu ruku’, maka makmum tersebut kehilangan satu rakaat. Oleh sebab itu wajib menggenapi satu rakaat lagi sesudah salamnya imam.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/