Perangkat lunak dalam front-end processor

Perangkat lunak dalam front-end processor

Perangkat lunak dalam front-end processor

Nama yang dipakai untuk perangkat lunak Jaringan komputer dalam front-end processor adalah network control program (NCP). Fungsinya yang penting adalah : …

Menentukan jika terminal ingin menggunakan jaringan komputer. Salah satu pendekatan adalah dengan memeriksa terminal (poll the terminal). Berbagai teknik dapat digunakan, dan yang paling langsung adalah rol call polling, yang menanyai setiap terminal secara berurutan apakah terminal itu ingin menggunakan jaringan komunikasi data.

Memelihara catatan kegiatan jaringan komputer dengan memberikan cap, tanggal dan waktu pada tiap pesan, beserta nomor seri yang unik.

Mengubah kode-kode yang digunakan oleh suatu jenis peralatan (misalnya IBM) ke jenis lain (misalnya DEC)

Melaksanakan fungsi editing pada data yang masuk dengan memeriksa kesalahan dan mengatur kembali formatnya.

Menambah dan menghapus kode-kode routing. Kode-kode ditambahkan pada pesan keluar untuk mengarahkannya pada terminal yang tepat. Dan kode-kode dihapus dari pesan masuk sebelum ditransmisikan ke host.

Memelihara file historis dari pesan-pesan yang dilaksanakan selama misalnya 20 menit terakhir di dalam penyimpanan sekunder. File ini dapat digunakan untuk pemulihan dari gangguan.

Memelihara statistik dari penggunaan jaringan

Baca Juga :

Beragam pendapat tentang pemrograman

Beragam pendapat tentang pemrograman

Beragam pendapat tentang pemrograman

Banyak yang mengatakan bahwa pemrograman itu sulit dan banyak pula berkata sebaliknya. Saya masih ingat sebuah penyataan dari mantan bos saya seorang pakar yang menyandang gelar DR. bidang teknologi Industri dan juga mengajar teknologi Informasi “Saya mempelajari bahasa pemrogman dan secara teoritis saya memahaminya, namun saya tidak bisa membuat sebuah program aplikasi yang dapat digunakan dalam aplikasi bisnis”.

Banyak pula dari teman-teman saya yang telah menyelesaikan pendidikan jenjang S1 teknologi informasi, tidak bisa membuat program aplikasi. dan banyak pula yang berkata “Saya tidak berlatar belakang pendidikan teknologi informatika tapi saya bisa menguasai beberapa bahasa pemrograman karena pemrograman itu mudah untuk diperlajari”. Sedangkan saya sendiri masuk perguruan tinggi bidang teknologi Informasi setelah saya menjadi programmer komputer. Bagi saya Perguruan tinggi bidang teknologi informasi adalah sebagai wadah untuk menambah pengetahuan secara formal dibidang ini. Mulanya saya sangat bangga dengan kemampuan yang saya miliki, katakanlah sedikit sombong sesuai dengan jamannya, waktu itu tidak banyak yang akses dalam programming dan permasalahan bisnis tidak sekompleks sekarang dan juga karena rendahnya ilmu pengetahuan dibidang ini, Yang punya komputer saja masih jarang. Waktu itu menjawab setiap permasalahan menenai sistem infromasi terasa mudah karena bisanya hanya itu dapat diartikan kurang dapat dipertanggungjawabkan.  Setelah masuk perguruan tinggi  dan semakin banyak yang saya pelajari, ternyata masih sangat banyak yang harus saya pelajari dan semakin banyak dipelajari muncul yang baru lagi. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat membuat ilmu yang telah kita miliki menjadi usang.

Dulu saya beranggapan pemrograman itu mudah, ternyata tidak demikian, pemrograman menuntut proses kerativitas dan seni dan tidak semua orang memilikinya. Dulu saya dapat menjawab setiap persoalan menyangkut informasi dengan mudah tetapi sekarang teknologi informasi semakin kompleks sehingga perlu waktu untuk berfikir. Teknologi berkembang sangat pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan informasi. Apa yang dulu tidak dipermasalahkan sekarang jadi masalah. Untuk menjadi programmer yang handal harus menyediakan waktu yang banyak untuk berlatih dan belajar tuntas serta harus mengarah kepada spesialisasi.

Saya mempelajari banyak bahasa pemrograman ternyata kebanyakan tidak digunakan dan mejadi lupa. Dari pengalaman tersebut saya menyarankan kepada anda yang baru memulai atau yang sedang belajar, sebaiknya pilihlah satu bahasa pemrograman yang terpopuler saat ini dan bahasa pemrograman serta bidang ilmu pengetahuan lain yang berkoloborasi dengan pilihan anda, sehingga anda mempunyai satu set pengetahuan pemrograman yang dapat diaplikasikan.

Bila itu sudah anda miliki terserah anda untuk mempelajari yang lain agar anda dapat mengukuti trend teknologi yang selalu bergeser. Namu perlu anda ketahui, prinsip dasarnya bahasa pemrograman adalah sama dan perbedaannya hanya pada kemajuan teknologi yang diaplikasikan dan cara penulisan perintah.

Sumber : https://fascinasiansblog.com/

Pengawasan Internal terhadap kas

Pengawasan Internal terhadap kas

Pengawasan Internal terhadap kas

Untuk mencegah/mengurangi penyalahgunaan kas, maka harus dijalankan prosedure pengawasan. Berbagai cara yang dapat dilakukan dalam pengawasan internal kas sehingga terdapat banyak variasi dalam susunan organisasi dan methode dalam melakukan pengawasan internal kas. Sebagai pedoman dapat digambarkan sbb :

  • Setiap penerimaan kas harus segera dibukukan.
  • Penerimaan kas setiap hari harus disetorkan ke Bank secara keseluruhan
  • Petugas pemegang Kas tidak boleh merangkap sebagai pemegang pembukuan (Buku Besar) atau sebaliknya.
  • Bila memungkinkan sebaiknya diadakan pemisahan fungsi penerimaan kas dengan fungsi pengeluaran kas.
  • Penerimaan kas harus dilengkapi dengan data sumber dan dokumen pendukung  yang diperlukan agar memudahkan dalam pengecekan.
  • Disamping itu perlu dipraktekan dengan menerapkan teknologi yang mendukung pengawasan kas, formulir-formulir khusus. (Faktur yang telah diberi nomor urut sehingga lebih mudah dalam pengecekan efektif utnuk akuntansi manual dan tidak efektif pada sistem akuntansi komputer).
  • Pengeluaran kas sebaiknya  menggunakan cheque/Giro. Untuk pengeluaran kas yang tidak praktis menggunakan check seperti pembelian perangko,  membayar biaya taxi dan pengeluaran lainya yang jumlahnya kecil, dibentuk dana kas kecil dengan jumlah dana dan pengisiannya kembali yang ditentukan.
  • Cheque yang tidak jadi digunakan karena beberapa hal misalnya kotor, rusak dsb. Tidak boleh dibuang, tetapi diberi tanda batal dan diarsip
  • Cheque hanya dapat ditanda tangani bila tujuan pembayarannya sudah disetujui oleh pejabat yang berwenang. Pejabat yang berwenang menyetujui pembayaran harus terpisah dengan pejabat yang berwenang menandatangi cheque.
  • Cheque harus tandatangani oleh 2 orang yang ditunjuk perusahaan.
  • Bila cheque sudah ditanda tangani, maka semua bukti transaksi pendukung pengeluaran cheque tersebut harus diberi tanda “Telah dibayar”

Sumber : https://usgsprojects.org/

Struktur, Sistem dan Langkah Pengambilan Keputusan

Struktur Sistem dan Langkah Pengambilan Keputusan

Struktur, Sistem dan Langkah Pengambilan Keputusan

Struktur Sistem dan Langkah Pengambilan Keputusan
Struktur Sistem dan Langkah Pengambilan Keputusan

Berkaitan dengan proses pengambilan keputusan rasional dapat diuraikan sebagai berikut. Pengambil keputusan harus membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten dalam batas-batas tertentu. Ada enam langkah dalam model pengambilan keputusan yang rasional yang dikutip dari Stephen P. Robbins (2002:90).

Pengambilan Keputusan

Prajudi (1984) menyatakan struktur dan system dari kerangka pengambilan keputusan tergantung dari:

  • Posisi orang yang berwenang, bertanggung jawab untuk mengambil keputusan;
  • Problema atau maslah yang dihadapi dan harus ditangani atau dipecahkan;
  • Situasi di mana si pengambil posisi dan problem itu berada;
  • Kondisi dari pada si pengambil keputusan, kekuatan dan kemampuannya untuk menghadapi problem tersebut; dan
  • Tujuan yang harus dicapai dengan pengambilan keputusan.

Mendefinisikan masalah

Banyak keputusan buruk berawal dari kecerobohan seorang pengambil keputusan dalam menilai masalah atau kesalahan mendefinisikan masalah. Suatu masalah muncul ketika terdapat ketidaksesuaian antara kenyataan dengan kondisi yang diinginkan.

Mengidentifikasi kriteria keputusan

Hal ini dibutuhkan dalam pemecahan masalah.  Dalam langkah ini, pengambil keputusan sedang menentukan apa yang relevan dalam pengambilan keputusan.

Menimbang kriteria

Memberi mereka prioritas yang tepat dalam keputusan karena kriteria yang diidentifikasi tidak selalu memiliki bobot yang sama.

Menghasilkan alternatif

Langkah ini, tidak ada upaya yang dibuat untuk menilai alternatif melainkan hanya untuk mendaftarnya. Begitu alternatif telah dihasilkan, pengambilan keputusan harus secara kritis menganalisis dan mengevaluasi masing-masing alternatif tersebut.

Menilai semua alternatif pada masing-masing kriteria

Kekuatan dan kelemahan masing-masing alternatif menjadi bahan pertimbangan setelah alternatif-alternatif tersebut dibandingkan dengan kriteria dan ditimbang seperti yang ditetapkan dalam langkah kedua dan ketiga.

Menghitung keputusan optimal

Hal ini dilakukan dengan mengevaluasi masing-masing alternatif terhadap kriteria yang telah dipertimbangkan dan memilih alternatif dengan skor tertinggi.

Model Pengambilan Keputusan

Model pengambilan keputusan yang rasional di atas mengandung sejumlah asumsi-asumsi, yaitu:

kejelasan masalah: masalah jelas dan tidak samar-samar. Pengambil keputusan diasumsikan memiliki informasi lengkap sehubungan dengan situasi keputusan;

pilihan diketahui: pengambil keputusan dapat mengidentifikasi semua kriteria yang relevan dan dapat membuat daftar dari semua alternatif yang berlaku terus. Labih lanjut, pengambilan keputusan mengetahui semua kemungkinan konsekuensi dari masing-masing alternatif;

preferensi yang jelas: rasionalitas mngasumsikan bahwa masing-masing kriteria dan alternatif dapat direngking  dan ditimbang untuk menunjukkan tingkat pentingnya;

preferensi yang konstan: diasumsikan bahwa kriteria suatu keputusan tertentu  adalah konstan dan beban yang ditugaskan pada mereka stabil sepanjang waktu;

tidak ada batasan waktu dan biaya: pengambilan keputusan rasional dapat memperoleh informasi yang lengkap tentang kriteria dan alternatif karena diasumsikan bahwa tidak ada kendala waktu dan biaya; dan

hasil maksimal: pengambilan keputusan rasional akan memilih alternatif yang menghasilkan nilai yang dipandang tertinggi (Stephen P. Robbins, 2002:91).

Menurut Richard I. Levin dalam Imam Murtono (2009) terdapat 6 (enam) tahap pengambilan keputusan, tahap observasi, tahap analisis dan pengenalan masalah, pengembangan model, memilih data masukan yang sesuai, perumusan dan pengetesan, pemecahan.

Apakah pengambilan keputusan dalam organisasi rasional? Apakah mereka secara hati-hati menili masalah, mengidentifikasi semua kriteria yang relevan, menggunakan kreativitas mereka untuk mengidentifikasi semua alternatif yang terlihat, dan dengan seksama mengevaluasi setiap alternatif untuk menemukan sebuah pilihan optimal? Seorang ahli dalam pengambilan keputusan akhir-akhir ini menyimpulkan: ”Kebanyakan keputusan dibuat dengan perhitungan sederhana, daripada dengan mengikuti langkah-langkah tentang keputusan penting yang telah terdefinisi (Stephen P. Robbins, 2002:93).”

Karena kapasitas pikiran manusia untuk memformulasikan dan memecahkan masalah yang kompleks jauh di bawah prasyarat model rasionalitas, maka induvidu berjalan dalam rasionalitas terbatas (bounded rationality). Mereka membangun model yang disederhanakan dan mencari segi-segi penting dan masalah tanpa menangkap semua kompleksitasnya. Individu , kemudian dapat berprilaku secara rasioal hanya dalam model yang sederhana.salah satu aspek yang paling menarik dari rasionalitas terbatas adalah tatanan dimana semua alternatif dianggap penting guna menentukan alternatif mana yang kemudian dipilih.

Pengambilan keputusan intuitif adalah suatu proses bawah sadar yang tercipta dari pengalaman. Pengambilan keputusan intuitif tidak harus dengan melakukan analisis rasional secara independen, namun, lebih merupakan dua hal yang saling melengkapi. Hasilnya adalah bahwa pengambilan keputusan intuitif dapat mengambil keputusan dengan cepat dalam informasi yang sangat terbatas.

Untuk menghindari informasi yang terlalu banyak, para pengambil keputusan menyandarkan pada heuristik atau jalan pintas penilaian, dalam pengambilan keputusan. Ada dua kategori umum heuristik ketersediaan dan keterwakilan. Keduanya menimbulkan bias dalam penilaian. Bias lain yang sering dibuat oleh para pengambil keputusan adalah kecendrungan untuk meningkatkan komitmen kepada serangkaian tindakan yang gagal. Heuristik Ketersediaan (availability heuristic) dimana kecendrungan orang untuk mendasarkan penilaian mereka pada informasi yang sudah tersedia untuk mereka. Sedangkan Heuristik Keterwakilan (representative heuristic) yaitu kcendrungan menilai suatu kejadian dengan mencocokkannya pada kejadian yang sebelumnya ada.

Bias lainnya yang berpengaruh dalam praktik pengambilan keputusan adalah kecendrungan untuk meningkatkan komitmen ketika suatu aliran keputusan dipandang sebagai suatu rangkaian keputusan. Peningkatan Komitmen (escalation of commitment) adalah komitmen yang meningkat terhadap keputusan sebelumnya meskipun terdapat informasi yang negatif pada keputusan tersebut.

Baca Juga

Gaya Pengambilan Keputusan

Gaya Pengambilan Keputusan

Gaya Pengambilan Keputusan

Gaya Pengambilan Keputusan
Gaya Pengambilan Keputusan

Secara umum, setiap orang berbeda sepanjang dua dimensi. Pertama adalah cara mereka berfikir. Sebagai orang logis dan rasional. Mereka mengolah informasi secara berurutan. Sebaliknya, sebagai orang intuitif dan kreatif. Mereka memandang suatu hal sebagai suatu yang utuh. Dimensi lainnya menuju toleransi akan ketidakjelasan dari seseorang. Sebagian orang memiliki kebutuhan untuk menyusun informasi dengan cara meminimalkan ketidakjelasan, yang lainnya mampu mengolah banyak pemikiran pada waktu yang bersamaan.

Dari dua dimensi ini akan terbentuk empat gaya pengambilan keputusan.

1.    Gaya perintah

Memiliki toleransi yang rendah terhadap ketidak jelasan para pengambil keputusan dan mencari rasionalitas. Gaya perintah membuat keputusan dengan cepat, dan mereka fokus pada jangka pendek.

2.    Gaya analitis

Memiliki toleransi yang jauh lebih besar terhadap ketidakpastian daripada para pengambil keputusan perintah. Pengambilan keputusan yang hati-hati dengan kemampuan untuk mengadaptasi atau mengatasi situasi-situasi baru.

3.    Gaya konseptual

Cenderung sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak alternatif. Fokus mereka adalah jangka panjang, dan mereka sangat baik dalam menemukan solusi kreatif terhadap suatu masalah.

4.    Gaya perilaku

Mencirikan pengambil keputusan yang bekerja baik dengan orang lain. Mereka memperhatikan pencapaian dari rekan kerja dan bawahan. Mereka mudah menerima saran dari orang lain dan sangat menyadarkan pada pertemuan untuk komunikasi (Stephen P. Robbins, 2002:93-100).

Suatu organisasi sebenarnya dapat menyulitkan para pengambil keputusan. Sebagai contoh, para manajer membuat keputusan dipengaruhi oleh sistem evaluasi kinerja dan penghargaan organisasi serta batas waktu organisasi. Keputusan organisasi sebelumnya juga dapat membatasi keputusan-keputusan yang sekarang.

1.    Evaluasi kerja

Para manajer, dalam membuat keputusan, sangat dipengaruhi oleh dimana mereka dievaluasi.

2    Sistem penghargaan

Sistem penghargaan organisasi mempengaruhi seorang pengambil keputusan dengan menyarankannya untuk memilih pilihan yang sesuai dengan sistem penghargaan yang ada.

3    Sistem penentuan tenggat waktu

Organisasi menentukan  tenggat waktu dalam pengambilan keputusan.

4    Pengaruh keputusan sebelumnya

Pengambilan keputusan rasional mengambil suatu perspektif yang tidak realistis. Keputusan yang dibuat di masa lalu adalah hantu-hantu yang secara terus-menerus membayangi pilihan-pilihan yang sekarang.

Sumber : https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/03/18-pengertian-kewirausahaan-menurut-para-ahli.html

Nilai-Nilai dan Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan

Nilai-Nilai dan Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan

Nilai-Nilai dan Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan

Nilai-Nilai dan Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan
Nilai-Nilai dan Jenis-Jenis Pengambilan Keputusan

Berkaitan dengan kriteria pengambilan keputusan, Anderson menjelaskan bahwa nilai-nilai yang kemungkinan menjadi pedoman perilaku para pembuat keputusan itu dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu: nilai-nilai pribadi, nilai-nilai politik, nilai-nilai organisasi, dan nilai-nilai kebijaksanaan.

1.    Nilai-nitai pribadi.

Hasrat untuk melindungi atau memenuhi kesejahteraan atau kebutuhan fisik atau kebutuhan finansial’ reputasi diri, atau posisi historis kemungkinan juga digunakan- oleh para pembuat keputusan sebagai kriteria dalam pengambilan keputusan.

2.    Nilai-nilai politik.

Pembuat keputusan mungkin melakukan penilaian atas altematif kebijaksanaan yang dipilihnya dari sudut pentingnya altematif-altematif itu bagi partai politiknya atau bagi kelompok-kelompok klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya.

3.    Nilai-nilai organisasi.

Para pembuat keputusan, khususnya birokrat (sipil atau militer), mungkin dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi di mana ia terlibat di dalamnya’ Organisasi, semisal badan-badan administrasi, menggunakan berbagai bentuk ganjaran dan sanksi dalam usahanya untuk memaksa para anggotanya menerima, dan bertindak sejalan dengan nilai-nilai yang telah digariskan oleh organisasi.

4.    Nilai-nilai kebijaksanaan.

Dari perbincangan di atas, satu hal hendaklah dicamkan, yakni janganlah kita mempunyai anggapan yang sinis dan kemudian menarik kesimpulan bahwa para pengambil keputusan politik ini semata-mata hanyalah dipengaruhi oleh pertimbangan-penimbangan demi keuntungan politik, organisasi atau pribadi.

Berkaitan dengan jenis-jenis keputusan, dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu keputusan yang direncanakan/diprogram dan keputusan yang tidak direncanakan / tidak terprogram. Pertama, keputusan yang diprogram merupakan keputusan yang bersifat rutin dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga dapat dikembangkan suatu prosedur tertentu. Keputusan yang diprogram terjadi jika permasalahan terstruktur dengan baik dan orang-orang tahu bagaimana mencapainya. Permasalahan ini umumnya agak sederhana dan solusinya relatif mudah. Di perguruan tinggi keputusan yang diprogram misalnya keputusan tentang pembimbingan KRS, penyelenggaraan Ujian Akhir Semester, pelaksanaan wisuda, dan lain sebagainya (Gitosudarmo, 1997). Kedua, keputusan yang tidak diprogram adalah keputusan baru, tidak terstrutur dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Tidak dapat dikembangkan prosedur tertentu untuk menangani suatu masalah, apakah karena permasalahannya belum pernah terjadi atau karena permasalahannya sangat kompleks dan penting. Keputusan yang tidak diprogram dan tidak terstruktur dengan baik, apakah karena kondisi saat itu tidak jelas, metode untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak diketahui, atau adanya ketidaksamaan tentang hasil yang diinginkan (Wijono, 1999).

Selanjutnya ada 6 hal yang juga termasuk didalam jenis-jenis pengambilan keputusan: (1) Pengambilan keputusan karena ketidak sanggupan: memberikan kajian berlalu, tanpa berbuat apa-apa; (2) Pengambilan keputusan intuitif bersifat segera, terasa sebagai keputusan yang paling tepat dalam langsung diputuskan; (3) Pengambilan keputusan yang terpaksa, karena sudah kritis: sesuatu yang harus segera dilaksanakan; (4) Pengambilan keputusan yang reaktif:  ”Kamu telah melakukan hal itu untuk saya, karenanya saya akan melakukan itu untukmu.” Sering kali dilakukan dalam situasi marah atau tergesa-gesa; (5) Pengambilan keputusan yang ditangguhkan: dialihkan pada orang lain, memberikan orang lain yang bertanggung jawab; dan  (6) Pengambilan keputusan secara berhati-hati: dipikirkan baik-baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.

Dalam mengambil suatu keputusan ada orang yang senang dengan resiko dan ada orang yang tidak senang. Ada juga orang yang dikatakan netral terhadap resiko. Orang yang senang dengan resiko akan berbeda dalam mengevaluasi serangkaian alternatif maupun memilih suatu alternatif dengan mereka yang tidak senang dengan resiko. Dalam keputusan investasi misalnya, orang yang senang dengan resiko akan memilih investasi yang memberikan hasil yang besar sekalipun resikonya juga besar. Sebaliknya, orang yang tidak senang dengan resiko akan memilih alternatif investasi yang resikonya paling kecil sekalipun hasilnya juga rendah. Neil Niven (2002) menerangkan secara aplikatif bahwa jika suatu keputusan mempunyai resiko yang tinggi, orang akan lebih mungkin mengikuti aturan yang rasional dan matematis.

Sumber : https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/09/sifat-wajib-dan-mustahil-bagi-nabi-dan-rasul-beserta-artinya.html

Disdik Anggarkan Rp 67 Miliar

Disdik Anggarkan Rp 67 Miliar

Disdik Anggarkan Rp 67 Miliar

Disdik Anggarkan Rp 67 Miliar
Disdik Anggarkan Rp 67 Miliar

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung mengalokasikan anggaran sekitar 67 miliar pada 2018

untuk peningkatan mutu pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Juhana mengatakan, anggaran tersebut dialokasikan pembangunan sarana prasarana baik fisik ataupun non fisik. Bahkan, rencana ini sudah berdasarkan hasil musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang).

Hal itu, untuk menampung usulan skala prioritas rencana pembangunan sarana prasarana bangunan sekolah dan penunjang pembelajaran lainnya.

“ Waktu itu, semua perwakilan pendidikan dari 31 kecamatan se kabupaten Bandung hadir,

sekaligus menyampaikan usulannya,” jelas Djunjunan di soreang kemarin, (10/4)

Dia menyebutkan, pagu anggaran Disdik untuk 2018, awalnya mengusulkan anggaran sebesar Rp 81 miliar dan direalisasi sebesar Rp 67. Miliar. Jumlah ini, ada kenaikan anggaran di banding tahun sebelumnya yang hanya Rp 54 miliar.

Anggaran ini, sebagian diperuntukan pogram perbaikan sarana prasarana SD, SMP dan Pendidikan Non Formal. Sehingga, anggaran tahun ini dalam pengajuan perbaikan dan bangunan baru untuk ruang kelas harus lebih dikedepankan sekolah yang benar benar membutuhkan perbaikan.

“Kita siap melaksanakan apa yang menjadi program pemerintah kabupaten bandung dalam meningkatkan mutu pendidikan pada tahun sekarang,” tuturnya

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Tedi Surahman mengatakan, Kalau dilihat dari salah satu misi Kabupaten Bandung peningkatan kualitas pendidikan akan terus dilakukan.

Sehingga, nantinya ketersediaan layanan pendidikan yang berkualitas dan partisipasi

masyarakat di bidang pendidikan akan semakin baik.

Menurutnya, DPRD sendiri akan selalu mendorong untuk program-program pendidikan berkualitas. Mengingat, di beberapa daerah di Kabupaten Bandung masih ada saja bangunan sekolah yang harus diperbaiki.

Dirinya memaparkan, besaran anggaran tersebut harus memiliki output untuk peningkatan pendidikan. Sehingga, jangan sampai penggunaan anggaran hanya sebatas formalitas penggunaan tanpa ada indikator keberhasilannya.

“Artinya bahwa untuk terselenggaranya pendidikan yg berkualitas tidak bisa dipungkiri harus diimbangi dengan anggaran yang memadai (bukan berarti harus hight cost) tapi paling tidak terpenuhinya aksesibilitas pendidikan formal dan non formal bagi masyarakat, tutup Tedi

 

Baca Juga :

Tak Ada Sekat Untuk Tingkatkan Bakat

Tak Ada Sekat Untuk Tingkatkan Bakat

Tak Ada Sekat Untuk Tingkatkan Bakat

Tak Ada Sekat Untuk Tingkatkan Bakat
Tak Ada Sekat Untuk Tingkatkan Bakat

BANDUNG – Suasana teduh, adem, dan asri menyelimuti suasana di Sekolah Luar Biasa

(SLB) Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung. Tampak wajah–wajah ceria dan penuh semangat untuk menimba ilmu para peserta didik di SLB Cicendo.

SLB Cicendo merupakan sekolah luar biasa negeri tertua bagi kalangan tunarungu di Indonesia. SLB Cicendo didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 3 Januari 1930. Pendirian tersebut merupakan inisiatif Ny. CM. Roeslfsema Wesselink istri dokter HL. Roeslfsema seorang ahli THT di Indonesia. Gedung SLB Cicendo merupakan cagar budaya yang dilindungi Perda nomor 19 tahun 2009.

Sejumlah prestasi pun pernah di borong oleh siswa–siswi SLB Cicendo mulai dari bidang

keterampilan dengan merebut juara tiga se-kota Bandung. Tahun 2015 menjadi juara tingkat nasional pada lomba desain grafis, dan meraih medali emas, pada kejuaran Peparnas, dengan merebut tiga Medali Emas. SLB Cicendo mempunyai 4 Jenis keterampilan yang digemari dan digandrungi oleh siswa-siswinya. Diantaranya Tataboga, Kriya Kayu, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dan Salon.

Yang paling digemari oleh siswa-siswi ialah keterampilan Tata Boga, seperti halnya, Rifan (14) kelas 9

mempunyai bakat dan hobi Tata Boga. Dia menyukai masak-memasak sejak SD. Dapur Tata Boga Café Cicendo sudah menjadi bagian dari belahan jiwanya setiap istirahat sekolahnya. Rifan pun dibantu oleh alumni SLB Cicendo, sebagai asisten juru masak, mulai memasak nasi goreng hingga zuppa-zuppa yang kemudian di jual ke siswa-siswi. Rifan bercita-cita ingin menjadi koki, karena ingin menyalurkan bakat dan minatnya.

Kriya Kayu sangat digemari pula oleh siswa pramuka, dengan dibimbing oleh Anton (50). Para siswa mempelajari mengenal jenis kayu, teknik memotong kayu, teknik mengamplas, dan teknik pengecetan atau finishing. Setelah kriya kayu tersebut menjadi lemari, kemudian di jual ke orang tua murid, atau konsumen saat menggelar pameran kriya kayu.

Meniti bakat, tanpa sekat itulah semangat para siswa-siswi SLB Cicendo, usai lulus siswa-siswa SLB Cicendo mempunyai kemandirian untuk berwirausaha.

 

Sumber :

https://egriechen.info/

Harus Ada Apresiasi untuk Tenaga Pendidik

Harus Ada Apresiasi untuk Tenaga Pendidik

Harus Ada Apresiasi untuk Tenaga Pendidik

Harus Ada Apresiasi untuk Tenaga Pendidik
Harus Ada Apresiasi untuk Tenaga Pendidik

BANDUNG – Budaya menghargai atau apresiasi terhadap capaian keberhasilan saat ini dinilai mulai hilang.

Bahkan, bagi kalangan pendidik dan tenaga kependidikan mereka yang menuai prestasi tapi hanya sedikit mendapat apresiasi.

Kepala Bidang Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dinas Pendidikan Kota Bandung, Cucu Saputra mengatakan pihaknya melaksanakan kegiatan dengan tujuan mengapresiasi pendidik dan tenaga kependidikan.

’’ Ini untuk memberikan ruang bagi para guru atau pendidik dan tenaga kependidikan yang telah melakukan praktik-praktik yang dinilai baik di setiap sekolah,’’ jelas Cucu ketika ditemui kemarin (18/4)

Cucu mengatakan, apresiasi diberikan kepada guru, kepala sekolah, pengawas pendidikan

dan juga tenaga administrasi agar menjadi penhargaaan ini dapat diketahui publik. Sekaligus menjadi contoh dan motivasi bagi yang lainnya.

“Sehingga setiap guru dan tenaga kependidikan lainnya bisa mengetahui bagaimana inovasi dan kreativitas yang dilakukan sekolah lain,” kata Cucu.

Dia menjelaskan, apresiasi tersebut diberikan dari berbagai jenjang pendidikan, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) formal dan non formal, pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) dan juga Sekolah Dasar (SD) serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Kota Bandung.

Selain itu, bentuk apresiasi terhadap para pendidik tersebut juga dikarenakan banyaknya informasi atau berita yang muncul ke permukaan hanya berupa reputasi atau perilaku guru yang dinilai tidak baik.

Untuk itu, pihaknya berupaya menginventarisir pemberitaan tersebut karena masih banyak guru-guru

yang memiliki praktik baik dan harus diberi ruang dalam dunia pendidikan.

“Nanti Insya Allah akan kami publikasikan berbagai karya itu menjadi sebuah karya akademik,” kata dia.

Cucu memaparkan, ada beberapa aspek yang menjadi kriteria penilaian Dinas Pendidikan Kota Bandung dalam memberikan apresiasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan yang berprestasi.

Aspek pertama adalah, integritas atau guru memiliki karakter baik secara moral maupun kinerja. Selain itu, aspek kompetensi guru, yakni pedagogis, profesionalisme, sosial dan kepribadian.

Menurutnya, Aspek-aspek tersebut menjadi bahan penilaian dibungkus dalam satu wadah program 4K atau Kritis, Kreatif, Komunikatif dan Kolaboratif.

Kritis adalah, bagaimana guru mampu menyikapi perkembangan yang terjadi dengan positif. Sementara Kreatif adalah, di mana guru mampu mencipta inovasi-inovasi dalam pembelajaran.

Kemudian, ada juga Komunikatif atau guru harus mampu berkomunikasi secara baik dengan peserta didik dalam memberikan pembelajaran.

Selain itu, guru harus meraih dukungan dari berbagai entitas. Sebab, jika tidak mendapat dukungan dari entitas karena perilakunya dinilai buruk, maka guru tersebut tidak bisa bekerjasama.

 

Sumber :

https://egriechen.info/