The Ruler

The Ruler

The Ruler

Individu dengan archetype ruler adalah individu yang akan mengambil alih sesuatu hal jika dilihat sesuatu telah berantakan dan tidak terkontrol, sehingga individu mengambil kontrol atas situasi tersebut. Seperti pemimpin yang baik, ruler akan mengutamakan apa yang baik untuk orang-orang yang mengikutinya, mengembangkan rasa tanggung jawab diri dalam menciptakan kondisi yang menguntungkan setiap orang. Mereka biasanya percaya bahwa sistem masyarakat yang teratur dan sehat tidak terjadi begitu saja, butuh seseorang yang bersedia bertanggung jawab atas terciptanya hal tersebut. Ruler tidak saja bersedia menjadi orang tersebut, namun juga mengumpulkan orang lain dan membimbing serta melatih mereka untuk membantu individu tersebut dalam mewujudkan keteraturan sistem yang tidak terkontrol.

Jika dihadapkan pada masalah, ruler akan mencoba menyelesaikan masalah sesuai dengan aturan, prosedur, dan sistem yang berlaku, tidak hanya berpikir bahwa masalah tersebut harus diselesaikan, namun juga masalah yang serupa dan juga menghindari terjadinya masalah serupa di masa yang akan datang. Sebagai penanggung jawab, ruler akan memonitor jalanannya penyelesaian masalah, dan juga menghindari terjadinya situasi yang lebih rumit dan lebih buruk terutama dikarenakan orang-orang yang dipimpinnya.

Individu dengan archetype ruler tahu bagaimana menggunakan status, tampilan dan prestise untuk mengintensifkan kekuatannya dan sebagai hasilnya, individu sangat memperhatikan bagaimana tampilan individu dihadapan orang lain dan dalam konteks yang pantas (sebagai contoh, tidak berpakaian berlebihan pada saat mengunjungi program untuk orang miskin). Individu mungkin gagal untuk mendeteksi masukan yang penting dari orang-orang yang memiliki status yang rendah atau bahkan yang tidak mempunyai status. Ruler juga dapat salah menginterpretasikan perbedaan opini sebagai ancaman terhadap kekuatan mereka, dan menaruh banyak aturan pada tempat yang mereka ciptakan.

Ruler biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana terdapat konflik dimana seseorang menerima atau menyangkal tanggung jawab untuk membangun atau menangani sebuah kerajaan, seperti misalnya Lion King, atau Elizabeth. Ruler menyadari bahwa menerima beban untuk mengurus sebuah keluarga, organisasi, atau kelompok adalah sebuah tanggung jawab yang besar, oleh karena itu sangat menikmati pembelajarn dari kisah kepemimpinan sukses orang lain. Di sisi lain ruler juga menikmati kisah dimana terjadi pengambil alihan sebuah kerajaan yang sedang dalam perpecahan, membuat kerajaan tersebut menjadi kembali damai dan harmonis.

Sebagai pemimpin, ruler sangat baik dalam meletakkan struktur, aturan, dan prosedur pada wilayahnya sehingga lebih teratur dan efisien. Individu dengan archetype ruler juga baik dalam jaringan sosialisasi, dan proses penyelesaian sebuah proyek. Individu ini baik dalam tanggung jawab sekalipun dihadapkan pada tugas atau situasi yang tidak menyenangkan.

Kebutuhan dasar: adalah mengambil alih dan kontrol, serta menyelesaikan sebuah masalah atau proyek. Individu ruler ingin dilihat sebagai individu yang dapat memimpin secara natural, dimana pada akhirnya orang-orang akan dengan sukarela menjadi pengikut, me

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

The Creator

The Creator

The Creator

Individu dengan archetype creator adalah individu yang penuh dengan imajinasi dan aspirasi, dan kemampuan diri creator biasanya mendukung individu dengan archetype creator untuk merealisasikan imajinasi, kreatifitas, dan aspirasinya dengan kemudahan. Individu ini biasanya mempunyai saat-saat dimana ide mengalir begitu saja, dan kreatifitas menjadi hal yang tidak sulit dan tanpa usaha untuk dikeluarkan dalam menghasilkan sesuatu. Individu ini juga biasanya mempunyai selera estetik yang berkembang dengan baik, dan dikelilingi oleh benda-benda yang mencerminkan selera tersebut sebagai bentuk ekspresi diri. Melihat hidup sebagai pekerjaan seni, dimana creator akan menghindari hal yang biasa, dangkal, dan akan memenuhi kepuasan diri dengan caranya, walaupun dengan cara tersebut kadang tidak dimengerti oleh orang lain.

Jika dihadapkan pada masalah, creator akan mencari inspirasi secara garis besar bagaimana untuk meredakan masalah tersebut, memutuskan apa yang harus dibuat untuk mengembalikan semua ke keadaan yang baik, atau harus memilih langkah inovatif lainnya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Atau cara lainnya adalah mengubah fokus diri dari masalah dengan mengambil proyek atau pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, sementara memegang kepercayaan bahwa jawaban dari masalah akan datang dengan proses, sehingga selama proses tersebut, biarkan creator menghasilkan sesuatu dengan kemampuannya.

Individu dengan archetype creator cenderung memperhatikan kebutuhan untuk penemuan baru atau interpretasi atas sebuah hal yang sulit dimengerti. Creator juga focus kepada sumber-sumber yang dapat membantu meningkatkan keahlian creator dalam inovasi dan kreatifitas. Individu creator juga biasanya kritis dalam melihat sesuatu, dapat dengan mudah menemukan kekurangan akan suatu hal di diri sendiri maupun di orang lain atau di sebuah masalah, yang terkadang membuat perasaan kurang puas, kurang percaya pada sumber lain, dan dengan hidup.

Creator biasanya menyukai dan menikmati cerita-cerita dimana menceritakan kehidupan dan penemuan akan sesuatu, misalnya cerita kehidupan seorang artis, penemu, atau pengusaha dimana dengan imajinasi mereka menciptakan sesuatu yang dikagumi. Cerita-cerita demikian biasanya ditampilkan dalam biografi seseorang atau film yang menceritakan kisah hidup seseorang, misalnya: Catch Me If You Can.

Tipe kepemimpinan creator adalah individu yang berjiwa pengusaha, inovatif, dan tidak terikat pada norma atau aturan keras dan ekstrim lainnya.

Kebutuhan dasar: adalah merealisasikan sesuatu yang inovatif, dari kreatifitas dan inspirasi diri, menciptakan sesuatu untuk diri sendiri, maupun orang lain. Terlihat sebagai seseorang yang praktikal, dan dipercaya mempunyai kemampuan untuk membuat sesuatu yang dibutuhkan dunia. Jadi biasanya creator akan menghindari melakukan sesuatu yang tipikal, dan biasa.

Struktur Sistem Operasi

Struktur Sistem Operasi

Struktur Sistem Operasi

Silberschatz, Galvin, Gagne (2003), berpendapat bahwa umumnya sebuah sistem operasi modern mempunyai komponen sebagai berikut:

  • Manajemen proses
  • Manajemen memori utama
  • Manajemen memori skunder
  • Manajemen sistem I/O (input/output)
  • Manajemen file
  • Sistem proteksi
  • Jaringan
  • Sistem command interpreter

Manajemen proses

Proses adalah keadaan ketika sebuah program sedang dieksekusi. Sebuh proses membutuhkan beberapa sumber daya untuk menyelesaikan tugasnya, sumber daya tersebut dapat berupa CPU time, memori, file-file, dan perangkat-perangkat I/O. Sistem operasi bertanggung jawab atas aktifitas-aktifitas yang berkaitan dengan manajemen proses seperti:

  • Pembuatan dan penghapusan proses user dan sistem proses
  • Menunda atau melanjutkan proses
  • Menyediakan mekanisme untuk proses sinkronisasi
  • enyediakan mekanisme untuk proses komunikasi
  • enyediakan mekanisme untuk penanganan deadlock.

Manajemen memori utama

Memori utama atau lebih dikenal sebagai memori adalah sebuah array yang besar dari word atau byte, yang ukurannya mencapai ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan. Setiap word atau byte mempunyai alamat sendiri. Memori utama berfungsi sebagai tempat penyimpanan yang akases datanya digunakan oleh CPU atau perangkat I/O. Memori utama termasuk tempat penyimpanan data sementara (volatile), artinya data dapat hilang begitu sistem dimatikan. Sistem operasi bertanggung jawab atas aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan manajemen memori seperti:

  • menjaga track memori yang sedang diguanakan dan siapa yang menggunakannya
  • memilih program yang akan di-load ke memori.
  • Mengalokasikan dan men-dealokasikan ruang memori sesuai kebutuhan.

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga

Proses pembelajaran Fisika di SMA Negeri 1 Rembang-Purbalingga saat awal penulis memulai pekerjaan di SMA tersebut (tahun 1995) menjumpai kondisi para siswa yang tidak peduli terhadap lingkungan. Hal itu terindikasi dengan kenyataan-kenyataan yang ada, antara lain adalah :

Pertama, para siswa tidak peduli terhadap pohon-pohon yang ditanam, baik itu pohon peneduh maupun pohon-pohon untuk taman-taman di depan kelas, bahkan menunjukkan perilaku merusak dan sering mematikan pohon tanpa ada rasa tanggung jawab. Siswa tidak punya kegemaran menanam atau menyemaikan pohon atau bunga di taman depan kelasnya atau di lingkungan terdekatnya apalagi di tempat-tempat yang jauh dari kelasnya di lingkungan sekolah. Gejala ini pasti terbawa dan menjadi kebiasaan di lingkungan keluarga dan masyarakatnya,

Kedua, para siswa tidak peduli lingkungan kelas dan sekolah yang kotor dengan tata kehidupan yang jorok-perilaku membuang sampah sembarangan—kertas, plastik,bungkus makanan, permen, tidak dibuang pada tempatnya, termasuk kejorokan yang dijumpai di WC putri, banyak bekas pembalut dibuang sembarangan. Dinding tembok di dalam maupun di luar kelas sering menjadi sasaran kaki sehingga selalu di jumpai jejak-jejak sepatu di tembok-tembok yang menimbulkan pemandangan kotor.

Ketiga, para siswa bersikap apatis terhadap kerusakan lingkungan di dekat tempat tinggal mereka, misalnya lereng-lereng bukit yang gundul dan mudah longsor di musim penghujan dan biasanya merusak jalan. Merekapun apatis terhadap pemberitaan-tentang kerusakan lingkungan di wilayah lain, di tingkat lokal, regional, maupun nasional dan internasional. Mereka kurang memahami dan tidak mempunyai keprihatinan yang mendalam terhadap penderitaan yang menimpa bumi seperti efek rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon,hujan asam dan sebagainya yang sudah menjadi masalah global.

Adapun inovasi pembelajaran untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan antara lain :

Dasar-dasar teori pembelajaran yang dibahas di awal pembahasan ini diaplikasikan secara maksimal pada pembelajaran Fisika SMA Negeri Rembang di kelas I. Tindakan operasional pembelajaran secara drastis dan atraktif untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dimulai sesudah penulis mengikuti Diklat PKLH (Pelatihan Kependudukan dan Lingkungan Hidup) tahun 1998 serta lebih maksimal dan intensif setelah penulis kuliah lagi di S-2 Prodi IPA bervisi SETS di UNNES tahun 2002. Gambaran pembelajaran Fisika tersebut secara umum : Melakukan proses pembelajaran konstruktivis dengan pendekatan SETS (sains/Science—lingkungan/Environment—teknologi/Technology—masyarakat/Society), dengan menggunakan model pembelajaran Discovery-Inquiry, memakai berbagai metode yang variatif sendiri atau gabungan: seperti lab work, diskusi kelompok, problem solving, studi kepustakaan. Proses pembelajaran dilakukan secara indoor atau outdoor. Kegiatan pembelajaran para siswa selalu dilakukan berkelompok, hal itu untuk lebih mengoptimalkan pembelajaran kooperatif sesuai dengan prinsip-prinsip dasar cooperative learning. Dengan demikian pembelajaran Fisika yang dilakukan mengesampingkan pembelajaran konvensional yang berorientasi pada materi sains dengan penyajian ceramah satu arah dari guru ke siswa. Pendekatan SETS dengan lingkungan sebagai fokusnya secara kontinyu menjadi proses pembelajaran yang menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan sampai mendarah daging.

Sedangkan secara khusus pembelajaran yang dipandang atraktif, aktif dan kreatif adalah : Memberikan indoktrinasi kepada para siswa terutama pada jiwanya, bahwa penopang utama kehidupan manusia di bumi adalah pohon. Kekayaan dan kecukupan yang diterima manusia secara langsung maupun tidak langsung disuplai oleh pepohonan di bumi apapun jenis pohon itu. Oleh karena itu untuk mempercepat pemahaman indoktrinasi tersebut maka kegiatan pembelajaran outdoor selalu di bawah pohon secara berpindah berganti pohon pada hari yang berbeda. Setiap bagian pohon dibuat relevan dengan topik pembelajaran Fisika. Isaac Newton pun tidak akan menemukan hukum Gravitasi yang menggemparkan itu kalau Ia tidak sedang duduk-duduk di bawah pohon.

Gambar 2. Isaac Newton di bawah pohon apel

Pohon ditumbuhkan bumi—bumi menumbuhkan pohon; permasalahan lingkungan, kerusakan dan penderitaan bumi (menipisnya ozon, efek rumah kaca, dan lain-lain) dapat disembuhkan dengan menanam banyak pohon besar. Pernyataan-pernyataan tersebut diusahakan dapat menjadi pengertian yang mendalam di benak tiap-tiap siswa. Kerjasama dengan pengajar ekstra kurikuler untuk melatih kemampuan psikomotorik terhadap kecintaan kepada lingkungan di luar pembelajaran intra kurikuler Fisika selalu diadakan. Konsultasi dan konfirmasi selalu terjalin agar terjadi sinkronisasi pembelajaran ilmu alam yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terpadu.

Sumber : https://andyouandi.net/

pedoman pembelajaran ilmu pengetahuan alam

pedoman pembelajaran ilmu pengetahuan alam

pedoman pembelajaran ilmu pengetahuan alam

pedoman pembelajaran ilmu pengetahuan alam
pedoman pembelajaran ilmu pengetahuan alam

Menurut buku Kurikulum Berbasis Kompetensi pedoman pembelajaran ilmu pengetahuan alam atau sains dapat diintisarikan sebagai berikut.

  1. Belajar sains membantu siswa untuk memahami diri, lingkungan, dan alam, serta mendemonstrasikan pemahamannya ketika menyelesaikan masalah. Belajar sains tidak sekedar mempelajari informasi sains berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip, hukum dalam wujud ‘pengetahuan deklaratif’ (declarative knowledge), akan tetapi belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh informasi, cara dan teknologi (terapan sains), bekerja dalam wujud ‘pengetahuan prosedural’ (procedural knowledge), termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan menerapkan metode dan sikap ilmiah.
  2. Belajar sains memfokuskan kegiatan pada penemuan informasi melalui pengalaman sendiri yang rentang kegiatannya meliputi; mengamati, mengukur, mengajukan pertanyaan, mengelompokkan, merencanakan percobaan, mengendalikan variabel, mengumpulkan dan menata data yang dikehendaki, memecahkan masalah, dan memperjelas pemahaman.
  3. Belajar sains memberi kesempatan siswa mengembangkan keterampilan dan pemahaman secara kontekstual dan bermakna. Belajar sains membiasakan sejumlah sikap ilmiah seperti sikap ingin tahu, jujur, bersungguh-sungguh, mau bekerja sama, terbuka dan luwes, tekun dan peduli lingkungan.
  4. Belajar sains adalah mengembangkan sejumlah kompetensi adaptif yang sesuai dengan perubahan kondisi saat ini menuju kondisi masa depan, meliputi kemampuan merencanakan dan melaksanakan percobaan, kemampuan memilah, memilih, dan menata informasi, kemampuan menyimpulkan, dan kemampuan mengkomunikasikan serta menyempurnakan temuan.
  5. Belajar sains lebih bermakna dengan pengaitan sains dengan teknologi, lingkungan, dan masyarakat beserta segala aspeknya, dengan memperhatikan keseimbangan bahasan tentang unsur-unsur sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara berkaitan dan menyatu. Belajar sains memberi peluang terhadap pemikiran lebih mendalam tentang keterkaitan timbal balik antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (salingtemas). Belajar sains mengkondisikan siswa agar mau dan mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi, disertai pemikiran munculnya dampak positif dan negatif yang mungkin timbul dari produk teknologi terhadap lingkungan dan masyarakat, serta isu-isu yang timbul di masyarakat sesudahnya untuk mengkaji kembali sains dan produk teknologi.
  6. Belajar sains sebagai upaya membangun pemahaman dengan mempertimbangkan pengalaman dan pikiran yang sudah dimiliki siswa yang cenderung naif dan miskonsepsi.
  7. Belajar sains adalah perubahan pembelajaran model ‘indoktrinasi’ menjadi pembelajaran model ‘pemberdayaan’ atau minimal model ‘pengkondisian’. Belajar sains adalah perubahan pembelajaran dengan fokus ‘guru mengajar’ menjadi pembelajaran dengan fokus ‘siswa belajar’.
  8. Belajar sains bukan hanya ditujukan untuk anak pandai melainkan untuk semua siswa dengan beragam kemampuan.
  9. Belajar sains adalah membantu siswa dalam mengembangkan sejumlah keterampilan ilmiah untuk memahami perilaku/gejala alam, meliputi keterampilan mengamati dengan semua indera, menggunakan alat dan bahan, merencanakan eksperimen, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, melakukan percobaan, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan temuan dengan bahasa yang sesuai untuk keperluan itu.
  10. Belajar sains adalah mengajak siswa memikirkan berbagai sumber sains serta mengambil manfaat darinya.
  11. Belajar sains bukan ditentukan oleh didaktik metodik ‘apa yang akan dipelajari’ saja, melainkan pada bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa, berdasarkan pada pemikiran ‘mengapa’ dan untuk apa siswa perlu mempelajari sesuatu tersebut.
  12. Belajar sains adalah memberdayakan siswa agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do), mampu memahami pengetahuannya berkaitan dengan dunia di sekitarnya (learning to know), dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan diri sekaligus membangun jati diri (learning to be), dan memberi kesempatan berinteraksi dengan berbagai kelompok individu yang bervariasi yang akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sifat-sifat positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan masing-masing individu (learning to live together).
  13. Belajar sains adalah untuk memelihara keingintahuan anak, memotivasinya sehingga mendorong siswa untuk mengajukan keragaman pertanyaan seperti ‘apa, mengapa, dan bagaimana’ terhadap obyek dan peristiwa yang ada di alam, yang dapat ditingkatkan menjadi pertanyaan yang menanyakan hubungan ‘bagaimana jika ….’, sehingga sebagai hasil eksplorasi terhadap lingkungan, siswa diharapkan membentuk dirinya dengan sikap seorang ilmuwan cilik. Belajar sains memberi kesempatan siswa sebagai ‘young scientist’ (peneliti muda) yang mempunyai rasa keingintahuan (curiousity) yang tinggi, yang mampu mengajukan pertanyaan, menduga jawabannya, merancang penyelidikan, melakukan percobaan, mengelola dan mengolah data, mengevaluasi hasil, dan mengkomunikasikan temuannya kepada beragam orang dengan berbagai cara yang dapat memberi pemahaman yang baik.
  14. Belajar sains melahirkan interaksi antara gagasan yang diyakini siswa sebelumnya dengan suatu bukti baru untuk mencapai pemahaman baru yang lebih saintifik, melalui proses eksplorasi untuk menguji serta menguji gagasan-gagasan baru, dengan melibatkan beragam sikap ilmiah seperti, menghargai gagasan orang lain, terbuka terhadap gagasan baru, berpikir kritis, jujur, kreatif, dan berpikir lateral (berpikir yang tak lazim, di luar kebiasaan, atau yang mungkin dianggap aneh).
  15. Belajar sains adalah memulai pelajaran dari ‘apa yang diketahui siswa’, tidak dapat mengindoktrinasi gagasan saintifik supaya siswa mau mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non-saintifik menjadigagasan/pengetahuan saintifik, karena arsitek peubah gagasan siswa adalah siswa itu sendiri.
  16. Belajar sains adalah menyediakan ‘kondisi’ supaya proses belajar untuk memperoleh konsep yang benar dapat berlangsung dengan baik, dengan kondisi belajar antara lain : diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua siswa mau mengungkapkan gagasan, pengujian dan penelitian sederhana, demonstrasi, dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang siswa untuk mempertanyakan, memodifikasi, dan mempertajam gagasannya.
  17. Belajar sains adalah melatih siswa sejak dini untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya agar memiliki kemampuan-kemampuan yang bermanfaat bagi kehidupan kelak khususnya setelah dewasa, meliputi : mengidentifikasi dan mengenali masalah; merencanakan penyelidikan; memilih teknik, alat dan bahan; mengorganisasi dan melaksanakan penyelidikan secara sistematik; menginterpretasikan data pengamatan; mengevaluasi prosedur kerja dan menyarankan perbaikan.
  18. Belajar sains adalah berubahnya pola pembelajaran yang diawali dengan Penjelasan Uraian Materi (U) – dilanjutkan Contoh Soal ( C ) — dan Latihan Aneka Masalah (L) menjadi diawali dengan Latihan dengan Masalah (L) – dilanjutkan Penjelasan Materi (U) – dan Contoh Soal ( C ).
  19. Belajar sains adalah menyediakan kegiatan pembelajaran yang bermuatan nilai, dengan menumbuhkan sikap ilmiah antara lain sikap ingin tahu, jujur, tekun, terbuka terhadap gagasan baru, tidak percaya tahayul, sulit menerima pendapat yang tanpa disertai bukti, kebiasaan merenung secara kritis, peka terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

Sumber : https://aziritt.net/

Definisi dan Pengertian Geofisika

Definisi dan Pengertian Geofisika

Definisi dan Pengertian Geofisika

Definisi dan Pengertian Geofisika

Pengertian Singkat

Pengertian Geofisika adalah Ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisis
bumi,seperti bentuk bumi,reaksi terhadap gaya,serta medan potensial bumi(medan magnet dan gravitasi).geofisika juga menyelidiki interior bumi seperti inti,mantel bumi,dan kulit bumi serta kandungan-kandungan alaminya.

Geofisika

adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga meteorologi, elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer.

Penelitian geofisika

untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal.

Dalam skala yang berbeda, metode geofisika dapat diterapkan secara global yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara lokal yaitu untuk eksplorasi mineral dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala kecil yaitu untuk aplikasi geoteknik (penentuan pondasi bangunan dll).

Di Indonesia, ilmu ini dipelajari hampir di semua perguruan tinggi negeri yang ada. Biasaya geofisika masuk ke dalam fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), karena memerlukan dasar-dasar ilmu fisika yang kuat, atau ada juga yang memasukkannya ke dalam bagian dari Geologi. Saat ini, baik geofisika maupun geologi hampir menjadi suatu kesatuan yang tak terpisahkan Ilmu bumi.

Bidang kajian ilmu geofisika

meliputi meteorologi (udara), geofisika bumi padat dan oseanografi(laut).

Beberapa contoh kajian dari geofisika bumi padat misalnya seismologi yang mempelajari gempabumi, ilmu tentang gunungapi (Gunung Berapi) atau volcanology, geodinamika yang mempelajari dinamika pergerakan lempeng-lempeng di bumi, dan eksplorasi seismik yang digunakan dalam pencarian hidrokarbon.

Baca juga:

Geografi menurut ahli

Geografi menurut ahli

Geografi menurut ahli

Geografi menurut ahli

1.Immanuel Kant

Geografi adalah ilmu yang objek studinya adalah benda-benda, hal-hal atau gejala-gejala yanb tersebar dalam wilayah di permukaan Bumi.

2. Alexander von Humboldt

Alexander manyatakan bahwa gegorafi adalah studi tentang pengaruh lingkungan alam terhadap manusia.

3. Karl Ritter

Geografi merupakan suatu telaah Bumi sebagai tempat hidup manusia. Hal-hal yang menjadi objek studi geografi adalah semua fenomena di permukaan Bumi, baik organik maupun anorganik yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

4. Friederich Ratzel

Ratzel mengemukakan konsep geografi dalam bukunya yang berjudul Politische Geographie. Konsep itu diberi nama Lebensraum yang artinya wilayah geografis sebagai sarana bagi organism untuk berkembang. Ia melihat suatu negara cenderung meluaskan Lebensraum-nya sesuai kekuatan yang ia miliki.

5. Elsworth Huntington

Geografi adalah studi tentang fenomena pemukaan Bumi beserta penduduk yang menghuninya. Ia menjelaskan adanya hubungan timbal balik antara gejala dan sifat-sifat permukaan Bumi dengan penduduknya.

Baca juga: Teks Proklamasi

6. Paul Vidal de la Blache

Vidal merupakan pelopor teori posibilisme (kemungkinan) yang menyatakan bawah lingkungan menawarkan kemunkinan manusia untuk hidup dan berkembang. Menurutnya, geografi adalah ilmu yang mempelajarai bagaimana proses produksi dilakukan manusia terhadap kemungkinan yang ditawarkan oleh alam.

7. Halford Mackinder

Menurut Mackinder, Geografi adalah ilmu yang fungsi utamanya menyelediki interaksi manusia dalam masyarakat dengan lingkungan yang berbeda menurut lokasinya.

8. Daldjoeni

Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia mencakup tiga hal pokok, yaitu spasial (ruang), ekologi, dan region (wilayah). Dalam hal spasial, geografi mempelajari persebaran gejala baik yang alami maupun manusiawai di muka Bumi. Kemudian halam hal ekologi, geografi mempelajari bagaimana manusia harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Adapun dalam hal region, geografi memplejari wilayah sebagai tempat tinggal manusia berdasarkan kesatuan fisiografinya.

Menyalahkan orang lain

Menyalahkan orang lain

Menyalahkan orang lain

Bagaimana kalau mendapati nilai ulangan anak jelek? Banyak orang tua – walaupun tidak semua orang tua begitu – yang lantas menyalahkan anaknya, mengapa ia mendapat nilai jelek. Orang tua harus mencoba mencari tahu, mengapa anaknya mendapat nilai jelek. Bukan menghakimi mengapa nilainya jelek, seolah-olah orang tua adalah monster yang siap menerkam sewaktu ada pengumuman nilai.

Orang tua yang tidak mau mencari tahu kenapa nilai anaknya jelek, akan lebih menyalahkan mengapa anak tersebut mendapat nilai jelek. Sekarang lazim ditemui jika ada anak yang salah di sekolah, orang tua yang tidak tahu duduk permasalahannya langsung menyalahkan sekolah, teman anaknya, atau guru anaknya. Hal ini membuat konsep alam bawah sadar si anak akan meniru orang tua yang semacam ini. Jika mendapat nilai jelek, si anak bukan introspkesi diri, justru akan beralasan “karena temannya”, “karena guru itu”, “karena sekolahnya”, dan “karena-karena” yang lain. Jika anaknya memang ada kekurangan, orang tua harus mengakuinya, bukan menyalahkan. Maka kalau itu dibiarkan, jangan salahkan anak jika suatu saat mereka akan menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya menghadapi masalah.

Di dalam buku ini Adhitya juga mencontohkan niat baik orang tua yang salah. Ada orang tua yang memotivasi anaknya dengan membandingkan dengan orang lain. Misalnya dengan kalimat “Si Robin, teman sebangkumu nilainya bagus, dia bisa, mengapa kamu tidak?”, “Kakakmu nilainya bagus? Mengapa kamu tidak?”, atau “Ayo, tunjukkan kepada Bapak bahwa kamu bisa.” Perbandingan dan ekspetasi semacam ini menurut Adhitya menjadi perangkap yang justru membuat anak mengalami penolakan. Menurutnya, anak mendapat nilai jelek itu sudah sebagai monster, apalagi jika sampai di rumah justru harus berhadapan denga monster kedua, yakni orang tua.

Pada dasarnya, melalui buku ini, Adhitya mencoba memberikan solusi yang menurutnya tepat dalam  mendidik anak-anak. Anak-anak harus dimentori, bukan “dimonsteri”. Hanya saja, ulasan Adhitya lebih kepada solusi yang normatif, belum menjangkau bagaimana menangani anak yang memang butuh perlakuan khusus. Namun, secara garis besar, apa yang ditulis Adhitya dalam buku ini saya rasa cukup bisa menggugah kesadaran orang tua dalam mendidik anak. ■

Baca Juga : 

Jenis dan Unsur-Unsur Untrinsik Cerita

Jenis dan Unsur-Unsur Untrinsik Cerita

Jenis dan Unsur-Unsur Untrinsik Cerita
  1. Akhirnya Baru Klinting mencabut sendiri lidi yang ditancapkannya. Ternyata, lubang tancapan tadi muncul mata air deras hingga menggenangi desa. Semua penduduk tenggelam, kecuali Nyai Latung yang naik lesung. Semua desa menjadi rawa-rawa dan dinamakan Rawa Pening.

Jenis cerita berikut dinamakan … .

  1.  Mereka dipersilakan masuk rumah oleh Paman Har. Sampai ruang tamu, anak-anak Paman Har sudah menyambut mereka. Semua tampak ceria. Tiyo tampak senang karena ia bertemu dengan teman yang sebaya dengannya, yaitu Risty dan Roby. Risty dan Roby berencana mengajak Tiyo bermain di luar rumah.

Latar tempat cerita di atas adalah … .

  1. Di sebuah padang rumput ada seekor singa sedang menyantap daging. Tiba-tiba, burung elang menyambarnya. Singa pun marah dan menyatakan perang terhadap bangsa burung. Segala jenis burung akan menjadi musuhnya. Pada malam hari kelompok yang dipimpin singa melakukan serangan. Bangsa burung kalah. Berdasarkan tokohnya, jenis cerita di atas dinamakan … .
  1. Cerita Dewi Nawangwulan, Jaka Tarub, dan Nyi Roro Kidul termasuk jenis cerita …. .

Cerita berikut digunakan untuk soal nomor 5 – 8!

Di sebuah gurun yang sangat panas, seorang pengembara berjalan dengan gontai. Ia kelihatan lelah sekali. Ia juga kehausan dan kelaparan. Setelah lama berjalan, ia menemukan sebuah tempat yang cukup teduh untuk beristirahat. Saat ia beristirahat, ia melihat sebuah pohon rindang di kejauhan. Ia senang sekali melihatnya dan berkata, “Andai saja aku punya air untuk minum.”

  1. Latar waktu cerita di atas adalah … .
  2. Latar tempat cerita di atas adalah … .
  3. Latar suasana cerita di atas adalah … .
  4. Alur cerita di atas adalah … .
  1. Dahulu kala, ada seorang murid panah yang sangat berbakat. Walaupun ia baru belajar panahan selama satu tahun, ia sudah sangat pandai memanah. Ia pun dengan bangga, sering berkata bahwa dialah pemanah terhebat di seluruh dunia dan tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Watak tokoh dalam cerita di atas adalah … .

  1. Ketika mentari sudah mulai meredup, Kutilang segera pulang ke rumahnya. Ia mencari tempat persembunyian karena para hewan pemangsa sebentar lagi akan bermunculan.

Latar waktu cerita di atas adalah … .

  1. Tukang becak di pasar jauh lebih sopan daripada di stasiun. Mungkin karena sudah sering melihat dan saling kenal biasaya membuahkan rasa kasihan. Seperti yang pernah kualami, naik becak dan setelah tiba di depan rumah, tukang becak yang tua itu berkata, “O, putranya Pak Hadi, ya?” Berhubung dia kenal ayahku, aku berikan uang tanpa kuminta kembaliannya. Pak tua berterima kasih secara berlebihan.

Watak tokoh aku adalah … .

  1. Sore yang cerah, Nirma dan adiknya bermain. Mereka bermain dengan rukun. Nirma selalu menjaga dengan baik adiknya apalagi saat ibunya pergi. Nirma tidak pernah nakal terhadap adiknya. Nirma juga tidak pernah membuat adiknya menangis.

Tema paragraf di atas adalah ….

  1. Di sebuah desa hiduplah sepasang suami istri yang bekerja sebagai petani. Keduanya hidup tenteram dan bahagia. Suatu hari mereka menemukan seorang bayi di sawah kemudian diasuhnya dengan penuh kasih sayang. Bayi tersebut sekarang sudah besar. Dia diberi nama si Jebul.

Latar tempat cerita secara utuh adalah … .

  1. Batang pisang mulai bergoyang hampir roboh, si Monyet tiba-tiba memegang perutnya karena kekenyangan memakan seluruh pisang tanpa membagi kepada temannya. Kepalanya mulai terasa pusing, tiba-tiba ”Kraaak ….!” Terdengar suara batang pisang tumbang menimpa semak-semak. Si Monyet terlempar ke ranting-ranting kering.

Tema cerita di atas adalah … .

  1. Amanat cerita di atas adalah … .

Sumber : https://vhost.id/cara-menaikkan-traffic-website/

Mencari Unsur Intrinsik Watak Tokoh Cerita

Mencari Unsur Intrinsik Watak Tokoh Cerita

Mencari Unsur Intrinsik Watak Tokoh Cerita

tokoh dalam cerita. Berikut soal-soal yang bisa menjadi referensi belajar siswa! 

Carilah watak dalam ilustrasi cerita berikut!

No Ilustrasi Watak
1 Afif adalah pengusaha yang sukses. Namun, ia tidak pernah mengubah gaya hidupnya.  Walaupun sudah kaya, ia tidak pernah membeli barang-barang mewah. Ia pun masih memakai sepeda motor bututnya untuk pergi ke kantornya yang megah. Menurutnya, yang penting fungsi daripada gengsi. ….
2 Raja itu sangat dicintai rakyatnya. Raja itu selalu memberi keadilan bagi rakyatnya. Ia selalu membuat aturan yang bisa menyejahterakan rakyatnya. Aturan hukum pun dibuat untuk menciptakan keadaan yang aman dan tenteram. ….
3 Joni sebenarnya sangat pandai. Dengan sekali baca, materi pelajaran yang sulit pun, dapat dengan mudah ia pahami. Hanya saja ketika ujian, nilainya tidak bisa sempurna karena ia sering keliru membaca, keliru menghitung, bahkan keliru mencoret jawaban. ….
4 Setelah mendapat dua buah timun, kancil itu belum puas. Ia tergiur dengan timun milik temannya yang lebih besar. Ia pun ingin merebut timun yang lebih besar itu. ….
5 Boni berjalan di sebuah pekarangan yang sepi. Hari semakin bertambah gelap. Ia mulai memasuki area permakaman. Ia mendengar suara burung hantu. Namun, Boni tetap berjalan dengan santai. ….
6 Deni tidak mengerjakan PR yang diberikan Pak Badu. Deni beralasan bahwa ia sakit sehingga belum bisa mengerjakan PR. Walaupun Deni jujur, Pak Badu tetap memberikan sanksi untuk Deni dengan menyuruh Deni mengerjakan tugas itu 5 x di buku tugas dan dikerjakan di luar kelas karena memang seperti itulah aturan di kelas Pak Badu. ….
7 Hana memang anak yang punya banyak ide dalam berkarya. Barang-barang bekas yang tak terpakai, bisa ia sulap menjadi karya yang unik dan lucu. Ia juga pandai dalam menyusun kata-kata yang menarik untuk dijadikan slogan atau iklan. ….
8 Sudah hampir tiga jam Pak Sofyan duduk di atas batu menunggu kailnya disambar ikan. Namun, tidak ada satu pun ikan yang mendekat. Hari semakin panas. Namun, Pak Sofyan kembali melempar kainnya ke sungai itu. ….
9 Banu tidak pernah melanggar aturan sekolah. Ia tidak pernah terlambat. Dalam menggunakan seragam, juga sesuai aturan. PR selalu ia kerjakan. Pokoknya, ia pantas dijadikan siswa teladan. ….
10 Joki sebenarnya punya banyak uang karena setiap hari ia diberi uang saku yang cukup banyak oleh orang tuanya. Saat ada agenda menjenguk teman kelas yang sakit, ketua kelas mengumumkan agar setiap siswa menyumbang uang saku seikhlasnya untuk membeli oleh-oleh. Namun, Joki hanya memberi uang sedikit, bahkan lebih sedikit daripada teman-temannya yang sebenarnya punya uang pas-pasan. Begitu pula, saat Joki punya makanan yang banyak, ia tidak mau membagi kepada teman-temannya. .

Sumber : https://balikpapanstore.id/money-lover-apk/