Conclusion

Conclusion

Conclusion

The paper explored the auditors’ and users’ perceptions of the auditors’ responsibility for uncovering fraud, the performance of related auditing procedures, the nature and extent of fraud in Barbados, as well as the auditors’ response since Enron. The findings provided some valuable insights into how both parties view audit responsibilities and what their expectations are.
These results indicated that auditors strongly disagreed that they were responsible for uncovering fraud compared to the users’ strong view that they should be responsible. While fraud, in general, was not perceived to be a major problem in Barbados, there was a statistical significant difference between auditors and users on this point. Users showed moderate disagreement in fraud being a major problem compared to the strong disagreement of the auditors. In addition, both groups did not view fraudulent financial reporting as a major issue.
There was a general strong consensus by both groups that auditors should work to uncover related party transactions, assess internal controls, the work of the internal auditors, management’s characteristics and going concern issues, and ensure that audit findings are conveyed to the board of directors or audit committee, wherever applicable. However, users expected that auditors would actively search for illegal acts while auditors disagreed. Auditors and users agreed that auditing has improved since Enron, and both parties were fully informed on the issues surrounding the collapse of Enron. It was also found that organisations with strong internal controls, internal auditors and audit committees were better equipped to deal with fraud in any form.
Users in Barbados may need to be better informed as to how auditors view their role. Education may be the key in solving part of the problem, by closing the “misunderstanding gap” although the “expectation gap” may still exist (Porter, 1997). In addition, a precise and detailed engagement letter must, inter alia, contain all the relevant conditions necessary for the engagement, the services provided and the responsibilities of both parties. This is an excellent opportunity for the auditor to inform the client and to explain to the shareholders at the annual general meeting (rather than to the directors) that the prevention and detection of fraud rests with the company.
Makkawi and Schick (2003) suggested two approaches that auditors should adopt to aid in fraud detection. First, they argued that auditors need to “audit smarter” because they operate in a fixed fee environment, which limits the fees, that clients are willing to pay. This can be accomplished by the need for auditors to be more aware context in which the audit occurs and the fact that the nature and concentration of fraud varies by industry. Second, the authors suggested that auditors should exercise greater scepticism and rigorous assessment of management’s integrity, which are also required by SAS No. 99.
The fact that auditors in Barbados do not view the detection of fraud as their responsibility, but rather see their role as expressing an independent opinion on financial statements is an indication that they still need to be aware that undetected fraud could distort their findings and affect the reliability of their reports. Above all, from an ethical viewpoint, external auditors as well as internal auditors should report any suspicion of fraud rather than remain silent.
The findings from this research show a favourable picture on certain issues as audit respondents may have attempted to portray the profession in a favourable light. Future research may consider sending a large-scale self-administered questionnaire to remove any potential bias. Further research into this area could also be undertaken to investigate the functional and operational aspects of auditing for fraud.

Sumber : https://student.blog.dinus.ac.id/blogtekno/seva-mobil-bekas/

Pelaksanaan demokrasi Orde Reformasi 1998 – sekarang

Pelaksanaan demokrasi Orde Reformasi 1998 – sekarang

Demokrasi yang dikembangkan pada masa reformasi pada dasarnya adalah demokrasi dengan mendasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, dengan penyempurnaan pelaksanaannya dan perbaikan peraturan-peraturan yang tidak demokratis, dengan meningkatkan peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara dengan menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas antara lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Demokrasi Indonesia saat ini telah dimulai dengan terbentuknya DPR – MPR hasil Pemilu 1999 yang telah memilih presiden dan wakil presiden serta terbentuknya lembaga-lembaga tinggi yang lain.

 

Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis antara lain:

  1. Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok reformasi
  2. Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang Referandum
  3. Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang bebas dari KKN
  4. Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI
  5. Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV

baac juga :

Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama

Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama

  1. a)    Masa demokrasi Liberal 1950 – 1959

Masa demokrasi liberal yang parlementer presiden sebagai lambang atau berkedudukan sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala eksekutif. Masa demokrasi ini peranan parlemen, akuntabilitas politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai politik.

Namun demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal disebabkan :

  • Dominannya partai politik
  • Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
  • Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS 1950

Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 :

  • Bubarkan konstituante
  • Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
  • Pembentukan MPRS dan DPAS
  1. b)    Masa demokrasi Terpimpin 1959 – 1966

Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965 adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang berintikan musyawarah untuk mufakat secara gotong royong diantara semua kekuatan nasional yang progresif revolusioner dengan berporoskan nasakom dengan ciri:

  1. Dominasi Presiden
  2. Terbatasnya peran partai politik

Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:

  1. Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang dipenjarakan
  2. Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya dibubarkan oleh presiden dan presiden membentuk DPRGR
  3. Jaminan HAM lemah
  4. Terjadi sentralisasi kekuasaan
  5. Terbatasnya peranan pers
  6. Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok  Timur)

Akhirnya terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI.


  1. Pelaksanaan demokrasi Orde Baru 1966 – 1998

Pelaksanaan demokrasi orde baru ditandai dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, Orde Baru bertekad akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen. Awal Orde baru memberi harapan baru pada rakyat pembangunan disegala bidang melalui Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa orde baru berhasil menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru ini dianggap gagal sebab:

  1. Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada
  2. Rekrutmen politik yang tertutup
  3. Pemilu yang jauh dari semangat demokratis
  4. Pengakuan HAM yang terbatas
  5. Tumbuhnya KKN yang merajalela

Sebab jatuhnya Orde Baru:

  1. Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )
  2. Terjadinya krisis politik
  3. TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
  4. Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto untuk turun jadi Presiden
  5. Pelaksanaan demokrasi pada masa Reformasi 1998 s/d sekarang.

Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.

 

aumber

https://poekickstarter.com/wormax-io-apk/

 

Pengertian Nasionalisme Adalah

Pengertian Nasionalisme Adalah

Pengertian Nasionalisme Adalah

Pengertian Nasionalisme Adalah
Pengertian Nasionalisme Adalah

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997:648)

Nasionalisme didefinisikan kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu, yakni semangat kebangsaan. Nasionalisme dapat dirumuskan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu identitas yang dimiliki sebagai ikatan barsama dalam satu kelompok.

 

Nasionalisme dalam arti semangat kebangsaan karena kesamaan kultur artinya

pada persamaan-persamaan kultur yang utama seperti kesamaan darah atau keturunan, suku bangsa, daerah tempat tinggal, kepercayaan dan agama, bahasa dan kebudayaan. Pada pertumbuhan awal nasionalisme, dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan berupa kesetiaan seseorang secara total diabdikan secara langsung kepada negara. Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tumbuhnya ikatan nasionalisme, yang notabene lemah dan bermutu renda

 

BEBERAPA BENTUK NASIONALISME

Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai bagian paham negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warga negara etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebagian atau semua elemen tersebut. Nasionalisme dapat dikelompokkan sebagai berikut:

 

Nasionalisme Kewarganegaraan atau Nasionalisme Sipil

Nasionalisme Kewarganegaraan adalah nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyat. Rakyat sebagai warganegara berkehendak untuk mewujudkan negara, mengakui dan membela negaranya.

 

Nasionalisme Etnis

Di dalam nasionalisme etnis, negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Nasionalisme ini dibangun dari pandangan Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep volk (bahasa Jerman untuk rakyat).

 

Nasionalisme Romantik atau Nasionalisme Organik atau Nasionalisme Identitas

Nasionalisme Romantik adalah Kelanjutan dari nasionalisme etnis, dimana negara memperoleh kebenaran politik secara organik dari adanya kesamaan bangsa atau ras,menurut semangat romantisme cerita heroik yang terjadi dalam kehidupan sejarah bangsa atau ras yang bersangkutan.

 

Nasionalisme Budaya

Didalam nasionalisme ini negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama yang ada, berkembang, dan diakui, bukan yang berasal  dari sifat keturunan seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Sebagai contoh, rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan

 

Nasionalisme Kenegaraan

Nasionalisme Kenegaraan adalah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik ini sangat kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi nilai-nilai yang bersifat universal, misalnya kebebasan.

 

Nasionalisme Agama

Negara dalam nasionalisme agama memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu nasionalisme agama sering dicampuradukkan dengan nasionalisme etnis.


Baca Juga :

Ciri-ciri Guru Profesional

Ciri-ciri Guru Profesional

Ciri-ciri Guru Profesional

Ciri-ciri Guru Profesional
Ciri-ciri Guru Profesional

Setelah beberapa hari gak bisa ngenet karena gak da sinyal ahirnya malam ini bisa kembali kehabitat dan bisa ngenet lagi. senang sekali bisa kembali ngenet dan posting-posting lagi. Oya sahabat, malam ini aku akan posting sebuah hasil diskusi dengan teman beberapa minggu yang lalu judulnyya ciri-ciri guru profesional. Sebenarnya ini bukan murni hasil diskusi kami sih, tapi juga dirujuk dari berbagai sumber salah satunya di link yang dicantukan dibawah.

1. Selalu punya energi untuk siswanya

Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik

Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya

Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan

Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran

Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.


Sumber: https://casic-global.com/stickman-apk/

Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN

Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan

 

Landasan Ilmu Pada Zaman Yunani

 

Periode filsafat yunani merupakan periode penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada waktu ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris adalah pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam seperti gempa bumi atau pelangi. Gempa bumi dianggap bukan sebagai fenomena alam tetapi dewa bumi sedang menggoyangkan kepalanya.

Ketika filsafat diperkenalkan fenomena alam-fenomena alam yang ada tidak lagi dianggap sebagai aktivitas dewa melainkan, aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Perubahan pola pikir tersebut tampaknya sederhana, tetapi implikasinya tidaklah sederhana.

Pada awalnya alam yang sifatnya ditakuti mulai didekati bahkan dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Pendekatan yang digunakan dalam hal ini adalah pendekatan yang bersifat logosentris, yaitu pendekatan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan rasio. Inilah yang menjadi titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.

 

 

Filosof Alam

 

1. Thales (624-546 SM)

Ia digelari Bapak filsafat, dialah yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan “apa sebenarnya asal usul alam semesta ini”. Dengan menggunakan pendekatan rasio di menjawab bahwa asal alam adalah air.

 

2. Anaximandros (610-540 SM)

Menjelaskan bahwa substansi pertama itu bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya yang disebut apeiron. Dia tidak setuju dengan air sebagai asal usul alam, karena jika benar air, maka air harus meliputi segalanya termasuk api yang merupakan lawannya.[3]

 

3. Heraklitos (540-480 SM)

Melihat alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sehingga tidak ada suatupun yang benar-benar ada semuanya menjadi, sehingga realitas dari seluruhnya adalah gerak dan perubahan.

 

4. Pythagoras (580-500 SM)

Semua realitas dapat diukur dengan bilangan, sehingga bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Jasa Phytagoras sangat besar terutama dalam ilmu pasti dan ilmu alam.

 

Masa transisi

Penyelidikan terhadap alam tidak lagi menjadi fukos utama, tetapi sudah beralih kepada manusia. Kam “sofis” memulai kajian tentang manusia dan manusia adalah ukuran kebenaran. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). Hal inilah yang menjadi cikal bakal “humanism”. Kebenaran adalah relative, sehingga membuka ruang untuk berspekulasi dan memunculkan sintesa baru.

 

Zaman Keemasan Filsafat Yunani

Tokoh-tokohnya antara lain Socrates, plato dan aristoteles. Bagi Socrates dasar bagi segala penelitian adalah pengujian diri sendiri. Semboyan yang disukainya adalah seperti yang ada di Kuil Delphi, yaitu : Kenalilah dirimu sendiri”.

Aristoteles melakukan analisis bahasa yang disebut silogisme. Silogisme terdiri dari tiga premis yaitu :

–          Premis mayor (semua manusia akan mati)

–          Premis minor (Socrates seorang manusia)

–          Konklusi (Socrates akan mati)

 

Perkembangan Ilmu Zaman Islam

Pada masa kekuasaan islam, khususnya dimasa dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, ilmu berkembang sangat pesat. Tokoh-tokoh ilmu pengetahuan yang terkenal pada masa itu antara lain al Mansur, Harun al Rasyid, Al Kindi dan lain-lain. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan dikategorisasi seperti matematikan, fisika, kimia, geometri dan lain sebagainya. Selain itu berkembang pula disiplin ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, dan fiqih.


Sumber: https://avatronpark.com/lost-alone-apk/

Analisis Lingkungan Internal

Analisis Lingkungan Internal

Analisis Lingkungan Internal

 Analisis Lingkungan Internal
Analisis Lingkungan Internal
Analisis lingkungan internal dalam bingkai SWOT analisis merupakan uraian tentang dimensi kekuatan (S) dan kelemahan (W). Berikut ini adalah contoh identifikasi kekuatan dan kelemahan suatu unit analisis. Unit analisis yang dipakai sebagai contoh adalah unit wilayah karena umumnya pendekatan analisis lingkungan strategis lebih banyak bersentuhan dengan tatanan wilayah.
a. Kekuatan
1) Luasnya lahan pertanian
2) Letak strategis wilayah.
3) Tingginya potensi daerah.
4) Tersedianya prasarana dan sarana produksi perekonomian.
5) Banyaknya penduduk usia produktif yang berpendidikan.
6) Tingginya derajat kesehatan.
7) Tingginya budaya gotong royong dan solidaritas masyarakat.
8) Kemudahan akses media komunikasi dan informasi.
9) Banyaknya industri kecil dan menengah.
10) Banyaknya lembaga pendidikan, penelitian, kesehatan, dan sosial.
11) Adanya jaringan kerjasama antar daerah, LSM, dan perguruan tinggi.
b. Kelemahan
1) Rendahnya kualitas tenaga kerja.
2) Masih cukup banyaknya masyarakat miskin.
3) Terbatasnya kemampuan sumber pendanaan/financial Pemerintah Daerah.
4) Belum adanya standar harga tanah.
5) Lemahnya pengelolaan kepariwisataan.
6) Kurangnya ketersediaan dan validitas data.
7) Masih lemahnya pengawasan terhadap pencemaran dan perusakan lingkungan.
8) Masih cukup rendahnya apresiasi khusus untuk pengembang teknologi.
9) Masih lemahnya pengelolaan potensi cagar budaya.
10) Belum efisiennya pengelolaan sumberdaya pendidikan dan kesehatan.
11) Masih rendahnya kualitas pelayanan.
12) Masih rendahnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.
13) Masih kurangnta apresiasi terhadap seni budaya lokal.
14) Belum optimalnya mediasi antara lembaga riset dengan masyarakat dan industri dalam penerapan, pengembangan, dan pemasaran Iptek.
15) Lemahnya pemasaran produk lokal.
16) Terbatasnya lapangan pekerjaan.

memasuki industri atau entry barriers

memasuki industri atau entry barriers

memasuki industri atau entry barriers

memasuki industri atau entry barriers
memasuki industri atau entry barriers
Terdapat beberapa hambatan untuk memasuki industri atau entry barriers yaitu ;
1. Skala ekonomi (economies of scale)
Yaitu bertambahnya jumlah barang yang diproduksi dalam suatu periode sehingga mengakibatkan biaya produksi perunit menjadi turun. Dengan cara ini memaksa mereka untuk masuk pada sekala besar dan mengambil resiko menghadapi reaksi yang keras dari pesaing yang ada atau masuk dengan skala kecil dengan konsekuensi akan beroperasi dengan tingkat biaya yang tidak menguntungkan.
2. Diferensiasi produk (product differentiation)
Yaitu perusahaan tertentu mempunyai indentifikasi merk dan loyalitas pelanggan, yang disebabkan oleh periklanan, pelayanan pelanggan, perbedaan produk dimasa lampau atau sekedar merupakan perusahaan pertama yang memasuki industri.
3. Persyaratan modal (capital requirement)
Kebutuhan untuk melakukan investasi sumberdaya keuangan yang besar agar dapat bersaing menciptakan suatu hambatan masuk, khususnya apabila modal yang diperlukan untuk pengeluaran tidak dapat diterima kembali.
4. Biaya peralihan pemasok (switching cost)
Yaitu biaya yang harus dikeluarkan pembeli bilamana berpindah dari produk pemasok tertentu ke produk pemasok lainnya.
5. Akses kesaluran distribusi
Makin terbatas saluran pedagang besar atau pengecer untuk suatu produk dan makin banyak pesaing yang telah mengikat saluran ini, jelas akan semakin berat usaha untuk masuk kedalam industri.
6. Kebijakan pemerintah
Pemerintah dapat membatasi atau bahkan menutup masuknya industri dengan melakukan pengendalian dan pengawasan.

Lingkungan Industri

Lingkungan Industri

Lingkungan Industri

Lingkungan Industri
Lingkungan Industri
Lingkungan industri adalah tingkatan dari lingkungan eksternal organisasi yang menghasilkan kompoen-komponen yang secara normal memiliki iplikasi yang relatif lebih spesifik dan langsung terhadap operasionalisasi perusahaan.
Analisis lingkungan industri jauh lebih penting dan lebih menentukan aturan persaingan di bandingkan dengan analisis lingkungan umum, karena kekuatan lingkungan umum dalam mempengaruhi persaingan sifatnya sangat relatif. Artinya, jika terjadi perubahan dalam lingkungan umum-faktor ekonomi, sosial, politik dan hukum, tekhnologi dan demografi yang terkena pengaruh akibat perubahan tersebut bukan hanya sebuah perusahaan melainkan semua perusahaan yang ada dalam suatu industri. Dengan demikian jika terjadi perubahan pada tingkatan lingkungan umum kunci keberhasilan terletak pada kemampuan yang berlaian dari masing-masing perusahaan untuk menanggulangi implikasi dari perubahan tersebut.
Jika salah menganalisis lingkungan persaingan, implikasi selanjutnya adalah salah menentukan tujuan serta merumuskan strategi bersaig. Akibatnya kerugian dan kebangkrutan bukanlah suatu yang mustahil.
a. Ancaman masuknya pendatang baru
Adanya pendatanga baru dapat memaksa perusahaan yang sudah ada untuk lebih efektif dan efisien serta belajar untuk bersaing dalam dimensi baru. Secara sederhana kemungkinan perusahaa akan memasuki suatu industri adalah fungsi dari dua faktor, yaitu hambatan memasuki industri dan relasi dari perusahaan yang sudah ada. Apabila hambatan-hambatan untuk masuk adalah tinggi, dan pendatang baru mendapatkan reaksi yang tajam dari pemain lama dalam industri, sudah barang tentu pendatang baru tersebut tidak menimbulkan suatu ancaman masuk yang serius.

Teori Masuk dan Penyebaran Islam

Teori Masuk dan Penyebaran Islam

Menurut para ahli sejarah, masuk dan penyebaran islam di indonesia terdapat tiga teori, yaitu teori Gujarat, teori Saudi, dan teori China. Yaitu :

1)      Menurut teori Gujarat. Islam masuk wilayah Indonesia dari anak benua India seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Menurut Snouck Hurgronje, Islam masuk dari daerah Doccon di India, berdasarkan fenomena sosial bahwa ajaran tasawuf yang dipraktikkan oleh orang-orang muslim di India bagian selatan mirip dengan ajaran islam di Indonesia. Termasuk munculnya syi’ah di daerah Sumatera atau Jawa, dugaan itu juga muncul dari dearah India. Sebab saat itu kerajaan islam Deccon (salah satu kerjaan di India) telah memiliki hubungan baik dengan Iran negeri pusat penyebaran paham Syi’ah.

2)      Menurut teori saudi. Pendapat yang menyatakan bahwa islamisasi di Indonesia terjadi pada tahun 1111 atau abad ke 12 M.  Pada saat itu orang-orang Aceh dari Sumatera bagian barat laut memeluk islam atas ajakan seorang kebangsaan Arab asli. Kemudian setelah masuk Islam mereka mendakwahkan islam khususnya di daerah tersebut.

3)      Menurut teori China. Teori yang menyatakan bahwa masuknya islam di Indonesia langsung dari Mekah atau Madinah. Menurut teori ini bahwa islam masuk ke Indonesia sekitar abad 7 atau 8 M. Atau abad ke 2 H, yaitu pada masa Khulafaur Rosyidin. Ekspedisi islam ke Indonesia dibawa langsung oleh para pedagang dari Arab sejak awal abad hijriyah atau abad ke 7 M. Menurut sumber literatur Cina pada awal abad ke 2 hijrah telah muncul perkampungan-perkampungan muslim Arab dipesisir pantai Sumatera. Diperkampungan ini orang-orang muslim Arab bermukim dan menikah dengan penduduk setempat serta membentuk komunitas-komunitas muslim. Teori ini adalah yang paling kuat dan diterima para sejarahwan masa kini.

2.3 Sumber-sumber berita masuknya agama dan kebudayaan islam di Indonesia

  • Sumber-sumber luar negeri

Berita Arab : para pedagang arab telah datang ke Indonesia sejak masa kerajaan sriwijaya (abad ke 7 M) yang menguasai jalur pelayaran perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk selat malaka pada masa itu.

Berita Eropa : berita ini datangnya dari Marco polo. Ketika suatu saat dia ditugaskan untuk mengantarkan puterinya yang di persembahkan kepada kaisar romawi.

Berita India: berita ini menyebutkan bahwa para pedagang india dari Gujarat mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan islam di indonesia.

Berita China: berita ini berhasil di ketahui melalui catatan dari ma-huan, seorang penulis yang mengikuti perjalanan laksamana cheng-ho. Ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar islam yang bertempat tinggal di pantai utara pulau jawa.

sumber :