Aliran Pemikiran Filsafat

Aliran Pemikiran Filsafat

ALIRAN UTAMA PEMIKIRAN FILSAFAT

Aliran Pemikiran Filsafat

 

Rasionalisme

Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme yang disebabkan oleh kelemahan indera dapat dikoreksi, seandainya akal digunakan. Fungsi pancaindera adalah untuk memperoleh data-data dari alam nyata dan akal menghubungkan data-data itu satu dengan yang lain.

Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide. Kebenaran mengandung makna ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan,

Descartes seorang pelopor rasionalisme, tidak ragu bahwa ia ragu. Kebenaran adalah cahaya terang dari akal budi sebagai hal-hal yang tidak dapat diragukan. Ide adalah bukanlah ciptaan manusia, fungsi pikiran manusia hanyalah untuk mengenali prinsip-prinsip tersebut lalu menjadikannya pengethuan.

Kelemahan rasionalisme adalah criteria untuk mengetahui kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang jelas tetapi menurut orang lain tidak. Jadi masalah utamanya adalah evaluasi kebenaran dari premis-premis yang digunakan.

Empirisme

Empirisme berasal dari bahasa Yunani yaitu Empeirikos artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Namun hasil tangkapan inderawi masing-masing individu dapat berbeda karena terbatas pada sensiblitas organ-organ tertentu.

Aliran empirisme memandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam.

Contoh : Bagaimana orang mengetahui bahwa e situ dingin. Seorang empiris  akan mengatakan bahwa “karena saya merasakan hal itu. Dalam pernyataan tersebut terdapat tiga unsur yaitu : Mengetahui (subjek), yang diketahui (objek), dan cara dia mengetahui (metode).

John Locke (1632-1704), bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan kosong). Maksudnya manusia pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalaman mengisi jiwanya, maka ia kemudian memiliki pengetahuan.

David Hume menyatakan bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Berdasarkan teori ini, akan hanya mengelola konsep gagasan inderawi, menyusun atau membagi-baginya. Jadi dalam empirisme, sumber utama untuk memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari pancaindera.

 

Kelemahan aliran empirisme antara lain :

  1. Indera terbatas, benda yg jauh kelihatan kecil ternyata tidak.
  2. Indera menipu, pada org yang sakit demam, udara akan terasa dingin.
  3. Objek menipu misalnya pada fatamorgana atau ilusi
  4. Berasal dari indera dan objek sekaligus. Misalnya mata tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan.

 

 

Idealisme

Ajaran idealism menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses-proses mental atau psikologis yang bersifat subjektif. Oleh karena itu pengetahuan menurut teori ini tidak menggambarkan hakikat kebenaran, yang diberikan oleh pengetahuan hanyalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang (subjek).

Idealism subjektif akan menimbulkan kebenaran yang relative karena setiap individu berhak menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya, sehingga kebenaran universal tidak diakui. Oleh karena itu kebenaran agama dan aturan kemasyarakatan hanya bisa benar untuk kelompok tertentu dan tidak berlaku bagi kelompok lain.

 

Sumber : https://seputarilmu.com/

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian dengan SPSS

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian dengan SPSS

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian dengan SPSS

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian dengan SPSS
Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian dengan SPSS

Uji Validitas Item adalah uji

statistik yang digunakan guna menentukan seberapa valid suatu item pertanyaan mengukur variabel yang diteliti. Uji Reliabilitas item adalah uji statistik yang digunakan guna menentukan reliabilitas serangkaian item pertanyaan dalam kehandalannya mengukur suatu variabel.

1. Uji Validitas

Uji Validitas Item atau butir dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS.[1] Untuk proses ini, akan digunakan Uji Korelasi Pearson Product Moment. Dalam uji ini, setiap item akan diuji relasinya dengan skor total variabel yang dimaksud. Dalam hal ini masing-masing item yang ada di dalam variabel X dan Y akan diuji relasinya dengan skor total variabel tersebut.

Agar penelitian ini lebih teliti, sebuah item sebaiknya memiliki korelasi (r) dengan skor total masing-masing variabel ≥ 0,25.[2] Item yang punya r hitung < 0,25 akan disingkirkan akibat mereka tidak melakukan pengukuran secara sama
dengan yang dimaksud oleh skor total skala dan lebih jauh lagi, tidak memiliki kontribusi dengan pengukuran seseorang jikabukan malah mengacaukan.

Cara melakukan Uji Validitas dengan SPSS:

Buat skor total masing-masing variable.

Klik Analyze > Correlate > Bivariate

Masukkan seluruh item variable x ke Variables

Masukkan total skor variable x ke Variables

Ceklis Pearson ; Two Tailed ; Flag

Klik OK

Lihat kolom terakhir. Nilai >= 0,25.

Lakukan hal serupa untuk Variabel Y.

2. Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas dilakukan dengan uji Alpha Cronbach. Rumus Alpha Cronbach sebagai berikut:

Note:

Jika nilai alpha > 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha > 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal karena memiliki reliabilitas yang kuat.[3]  Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:

Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna

Jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi

Jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat

Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[4]

Jika alpha rendah, kemungkinan satu

atau beberapa item tidak reliabel: Segera identifikasi dengan prosedur analisis per item. Item Analysis adalah kelanjutan dari tes Aplha sebelumnya guna melihat item-item tertentu yang tidak reliabel. Lewat Item Analysis ini maka satu atau beberapa item yang tidak reliabel dapat dibuang sehingga Alpha dapat lebih tinggi lagi nilainya.

Reliabilitas item diuji dengan melihat Koefisien Alpha dengan melakukan Reliability Analysis dengan
SPSS ver. 16.0 for Windows. Akan dilihat nilai Alpha-Cronbach untuk
reliabilitas keseluruhan item dalam satu variabel. Agar lebih teliti,
dengan menggunakan SPSS, juga akan dilihat kolom Corrected Item Total
Correlation.

Nilai tiap-tiap item sebaiknya ≥ 0.40 sehingga membuktikan bahwa item tersebut dapat dikatakan punya reliabilitas Konsistensi Internal.[5] Item-item yang punya koefisien  korelasi < 0.40 akan dibuang kemudian Uji Reliabilitas item diulang  dengan tidak menyertakan item yang tidak reliabel tersebut. Demikian  terus dilakukan hingga Koefisien Reliabilitas masing-masing item adalah ≥ 0.40.

Cara Uji Reliabilitas dengan SPSS:

Klik Analyze > Scale > Reliability Analysis

Masukkan seluruh item Variabel X ke Items

Pastikan pada Model terpilih Alpha

Klik OK

Jika nilai alpha > 0,7 artinya  reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha
> 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal karena memiliki reliabilitas yang kuat.[6] Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut:

Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna

Jika alpha antara 0,70 – 0,90 maka reliabilitas tinggi

Jika alpha antara 0,50 – 0,70 maka reliabilitas moderat

Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[7]

Baca juga: 

 

Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Efektivitas Komunikasi Interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).( Devito, 1997, p.259-264 ).

1. Keterbukaan (Openness)

Kualitas keterbukaan mengacu pada sedikitnya tiga aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya.memang ini mungkin menarik, tapi biasanya tidak membantu komunikasi. Sebaliknya, harus ada kesediaan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri ini patut.

Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Orang yang diam, tidak kritis, dan tidak tanggap pada umumnya merupakan peserta percakapan yang menjemukan. Kita ingin orang bereaksi secara terbuka terhadap apa yang kita ucapkan. Dan kita berhak mengharapkan hal ini. Tidak ada yang lebih buruk daripada ketidak acuhan, bahkan ketidaksependapatan jauh lebih menyenangkan.

Kita memperlihatkan keterbukaan dengan cara bereaksi secara spontan terhadap orang lain. Aspek ketiga menyangkut “kepemilikan” perasaan dan pikiran (Bochner dan Kelly, 1974). Terbuka dalam pengertian ini adalah mengakui bahwa perasaan dan pikiran yang anda lontarkan adalah memang milik anda dan anda bertanggungjawab atasnya. Cara terbaik untuk menyatakan tanggung jawab ini adalah dengan pesan yang menggunakan kata Saya (kata ganti orang pertama tunggal).

2. Empati (empathy)

Henry Backrack (1976) mendefinisikan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.” Bersimpati, di pihak lain adalah merasakan bagi orang lain atau merasa ikut bersedih. Sedangkan berempati adalah merasakan sesuatu seperti orang yang mengalaminya, berada di kapal yang sama dan merasakan perasaan yang sama dengan cara yang sama.
Orang yang empatik mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang. Kita dapat mengkomunikasikan empati baik secara verbal maupun non verbal. Secara nonverbal, kita dapat mengkomunikasikan empati dengan memperlihatkan (1) keterlibatan aktif dengan orang itu melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik yang sesuai; (2) konsentrasi terpusat meliputi komtak mata, postur tubuh yang penuh perhatian, dan kedekatan fisik; serta (3) sentuhan atau belaian yang sepantasnya.

3. Sikap mendukung (supportiveness)

Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Suatu konsep yang perumusannya dilakukan berdasarkan karya Jack Gibb. Komunikasi yang terbuka dan empatik tidak dapat berlangsung dalam suasana yang tidak mendukung. Kita memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategic, dan (3) provisional, bukan sangat yakin.

4. Sikap positif (positiveness)

Kita mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi interpersonal dengan sedikitnya dua cara: (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sikap positif mengacu pada sedikitnya dua aspek dari komunikasi interpersonal. Pertama, komunikasi interpersonal terbina jika seseorang memiliki sikap positif terhadap diri mereka sendiri.

Kedua, perasaan positif untuk situasi komunikasi pada umumnya sangat penting untuk interaksi yang efektif. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkomunikasi dengan orang yang tidak menikmati interaksi atau tidak bereaksi secara menyenangkan terhadap situasi atau suasana interaksi.

5. Kesetaraan (Equality)

Dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Salah seorang mungkin lebih pandai. Lebih kaya, lebih tampan atau cantik, atau lebih atletis daripada yang lain. Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar setara dalam segala hal. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya,, harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan bahwa masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.

Dalam suatu hubungan interpersonal yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak-sependapatan dan konflik lebih dillihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada daripada sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain.kesetaraan tidak mengharuskan kita menerima dan menyetujui begitu saja semua perilaku verbal dan nonverbal pihak lain. Kesetaraan berarti kita menerima pihak lain, atau menurut istilah Carl rogers, kesetaraan meminta kita untuk memberikan ”penghargaan positif tak bersyarat” kepada orang lain.

Sumber: https://www.pendidik.co.id/

Pengertian Pekarangan Dan Fungsi Pekarangan Desa

Pengertian Pekarangan Dan Fungsi Pekarangan Desa

Pengertian Pekarangan Dan Fungsi Pekarangan Desa

Pengertian Pekarangan Dan Fungsi Pekarangan Desa
Pengertian Pekarangan Dan Fungsi Pekarangan Desa

Pengertian Pekarangan

Pekarangan berasal dari arti kata ‘karang’ yang berarti halaman rumah (Poerwodarminto, 1976). Sedang secara luas, Terra (1948) memberikan batasan pengertian sebagai berikut: Pekarangan adalah tanah di sekitar perumahan, kebanyakan berpagar keliling, dan biasanya ditanami padat dengan beraneka macam tanaman semusim maupun tanaman tahunan untuk keperluan sendiri sehari-hari dan untuk diperdangkan. Pekarangan kebanyakan saling berdekaan, dan besama-sama membentuk kampung, dukuh, atau desa.

Pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang mudah di usahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga. Pekarangan sering juga disebut sebagai lumbung hidup, warung hidup atau apotik hidup. Dalam kondisi tertentu, pekarangan dapat memanfaatkan kebun/rawa di sekitar rumah (Wikipedia, 2012).

Menurut Elfis (2007), pekarangan berkembang dari respon masyarakat terhadap meningkatnya tekanan terhadap populasi dan jumlah penduduk di pedesaan, atau pedesaan yang berubah menuju kearah perkotaan. Evolusi pekarangan berkembang melukiskan sistem kebun-talun yang terdiri dari beberapa fase.

Fase-fase pekarangan

1. Terbentuk sesudah menebang hutan, disebut dengan fase kebun. Pada fase kebun ditanami tanaman-tanaman semusim. Hasil tanaman dari kebun dikonsumsi sendiri oleh keluarga petani dan sebagian lagi dijual.
2. Fase setelah dua tahun, di kebun mulai tumbuh anakan tanaman keras. Makin lama ruangan bagi tanaman semusim makin berkurang. Maka mulailah terbentuk kebun campuran. Kebun campuran berperan penting dalam konservasi tanah dan air.
3. Fase ini terjadi sesudah tanaman semusim dalam kebun campuran dipanen, lapangan biasanya ditinggalkan selama kurang lebih 2-3 tahun, sehingga didominasi oleh tanaman kera yang disebut kebun talun.

Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur pekarangan dapat diklasifikasikan dalam 2 golongan yaitu: (karyono, 1981)

1.Faktor fisik

• Ketinggian tempat dari permukaan laut
• Curah hujan
• Hari hujan
• Pergantian musim

2. Faktor sosial budaya dan ekonomi

• Luas pekarangan
• Luas pemilikan sawah
• Kombinasi bentuk pemilikan tanah
• Bentuk rumah
• Tingkat pendidikan kepala keluarga
• Jumlah anggota keluarga
• Jarak tempat dari kota

Karakteristik Pekarangan

Menurut Elfis (2010), lapisan yang lebih tinggi adalah pohon yang ketinggiannya berbeda-beda, dan terdiri dari beberapa lapisan tajuk seperti:
• Lapisan yang lebih rendah merupakan pohon kecil seperti jeruk, jambu biji, kopi, dan coklat
• Lapisan tengah di dominasi oleh berbagai jenis buah-buahan seperti nangka, jengkol, mangga, rambutan, dan manggis
• Lapisan tertinggi terdiri dari pohon, yaitu pohan durian,atau kelapa yang ketinggian nya biasa mencapai 30 m.

Apa Fungsi Pekarangan Desa?

Menurut penyelidikan Dinas Perkebunan Rakyat dahulu dalam Satiadireja (1984), fungsi pekarangan adalah:
• Penghasil makanan tambahan, yaitu tambahan pada makanan pokok (beras, jagung, ubi kayu).
• Pekarangan memberikan hasil setiap hari, hingga bagi petani menjadi sumber bahan makanan tetap atau menjadi sumber penghasil uang.
• Pekarangan menghasilkan rempah-rempah, obat-obatan, keperluan rumah tangga dan bunga-bungaan.
• Pekarangan menghasilkan bahan bangunan-bangunan, terutama bambu, yang banyak ditanam di pinggir pekarangan.
• Pekarangan menghasilkan kayu bakar, baik dari pohon buah- buahan maupun dari kayu-kayuan yang ditanam sebagai kayu bakar.
• Pekarangan menghasilkan bahan-bahan dasar untuk berbagai kerajinan tangan.
• Di beberapa daerah pekarangan menghasilkan pula berbagai hewan ternak.

Baca Juga:

Ekosistem Pekarangan Desa dan Talun

Ekosistem Pekarangan Desa dan Talun

Ekosistem Pekarangan Desa dan Talun

Ekosistem Pekarangan Desa dan Talun
Ekosistem Pekarangan Desa dan Talun

George H. Friend, dkk (2006)

Unit ekologis adalah ekosistem, yang merupakan sebuah kelompok yang terdiri dari beragam populasi yang berintraksi dalam suatu deerah tertentu. Daerah tersebut( habitat ) bias jadi hanya sekecil kolam, berbagai populasi yang berintraksi dalam ekosistem disebut sebagai komunitas, yakni komponen-komponen hidup dari suatu ekosistem. Ekosistem memiliki ciri-ciri di antaranya adalah: aliran energi, penduaran nutrien, pengatur ukuran populasi.

Komponen pembentuk ekosistem

Yaitu komponen abiotik, komponen abiotik, komponen heterotrof, dan komponen pengurai atau dekomposer (Infoini.com, 2012)

Pengertian Komponen Abiotik dan contohnya

Komponen Abiotik (Komponen tak hidup) adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.

1. Suhu

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba.

2. Air

Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik tersedia di Bumi.

3. Garam

Dalam ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif dan ion negatif, sehingga membentuk senyawa netral. Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa.

4. Cahaya matahari

Sinar matahari atau radiasi matahari adalah sinar yang berasal dari Matahari. Tanaman menggunakan cahaya matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, takkan ada kehidupan di bumi

5. Tanah dan batu

Tanah adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas mineral dan bahan organik. Tanah merupakan salah satu penunjang yang membantu kehidupan semua mahluk hidup yang ada di bumi. Sedangkan Dalam geologi, batu (tunggal) dan batuan (jamak) adalah benda padat yang tebuat secara alami dari mineral dan atau mineraloid. Lapisan luar padat Bumi, litosfer, terbuat dari batuan. Dalam batuan umumnya adalah tiga jenis, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf.

6. Iklim

Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi di bumi atau planet lain. Studi tentang iklim dipelajari dalam klimatologi.

Sumber: https://www.studinews.co.id/

Ciri-ciri Guru Profesional

Ciri-ciri Guru Profesional

Ciri-ciri Guru Profesional

Ciri-ciri Guru Profesional
Ciri-ciri Guru Profesional

Setelah beberapa hari gak bisa ngenet karena gak da sinyal ahirnya malam ini bisa kembali kehabitat dan bisa ngenet lagi. senang sekali bisa kembali ngenet dan posting-posting lagi. Oya sahabat, malam ini aku akan posting sebuah hasil diskusi dengan teman beberapa minggu yang lalu judulnyya ciri-ciri guru profesional. Sebenarnya ini bukan murni hasil diskusi kami sih, tapi juga dirujuk dari berbagai sumber salah satunya di link yang dicantukan dibawah.

1. Selalu punya energi untuk siswanya

Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik

Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya

Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan

Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran

Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

Baca juga:

Disiplinkan Siswa Tanpa Hukuman

Disiplinkan Siswa Tanpa Hukuman

Disiplinkan Siswa Tanpa Hukuman

Disiplinkan Siswa Tanpa Hukuman
Disiplinkan Siswa Tanpa Hukuman

Sahabat Diamond, kita tahu lembaga sekolah erat kaitannya dengan disiplin. Bahkan dulu sekolah-sekolah yang dianggap baik terkenal karena peraturan yang ketat dan disiplin yang tinggi. Peraturan dan disiplin yang tinggi ini biasanya diwujukan dalam bentuk hukuman dan sangsi sangsi yang berat. “Sekolah itu bagus, selalu memberikan hukuman berat buat muridnya yang melanggar tata tertib.” Ya.. itu lah salah satu komentar orang tua kala itu.

Sahabat

Banyak pihak yang masih menghubungkan penegakan disiplin di sekolah dengan menghukum siswa. Padahal kedua-dua nya tidak saling berhubungan. Karena terbukti penegakan disiplin dengan hukuman hanya akan membuahkan sikap disiplin yang semu yang lahir karena ketakutan bukan karena lahirnya kesadaran akan perbaikan perilaku.

Sebenarnya ada jalan tengah diantara disiplin dan menghukum . Jalan tengah itu disebut konsekuensi. Sebuah konsekuensi berarti menempatkan siswa sebagai subyek. Seorang siswa yang dijadikan subyek berarti diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan.

Siswa terlambat masuk sekolah ? solusinya dia terkena konsekensi pulang lebih telat dari yang lainnya, atau waktu istirahat dan bermain dipotong . Jangan sampai disitu saja, bicarakan hal ini dengan orang tua siswa, karena mungkin masalah timbul bukan karena si anak tapi karena masalah orang tua.

Penanganan

Dalam mengatasi masalah terlambat masuk sekolah ini saya punya contoh menarik. Tidak jauh dari tempat tinggal saya ada sebuah sekolah menengah atas yang memilih mengunci pintu gerbangnya setiap jam 7 pagi tepat. Anda bisa bayangkan mereka yang terlambat akan kesulitan untuk masuk karena pintu gerbang sudah terkunci. Setiap hari akan ada sekitar 10 orang siswa yang tertahan diluar menjadi tontonan warga sekitar yang lewat di depan sekolah tersebut. Padahal mereka yang terlambat belum tentu malas, bisa saja karena alasan cuaca atau hal-hal lain yang tidk bisa dihindari.

Alasan pihak sekolah mungkin bisa diterima, tindakan mengunci gerbang diambil atas nama penegakkan disiplin dan membuat siswa menjadi sadar akan pentingnya datang tepat waktu ke sekolah. Tapi sadarkah pihak sekolah bahwa mengunci siswa di luar bisa mempermalukan harga diri siswa? Bagaimana bila tetangga atau orang-orang yang mengenali mereka lewat saat mereka terkunci di luar.

Padahal saat sekolah mau menerapkan konsekuensi atas siswa yang terlambat, banyak tindakan yang bisa dilakukan, dari memotong jam istirahat sampai meminta mereka masuk sekolah di hari Sabtu atau Minggu saat teman -temannya libur. Dengan demikian harga diri siswa terjaga dan siswa menjadi makin bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Siswa juga menjadi sadar bahwa konsekuensi bertujuan untuk penyadaran dengan mengambil atau mengurangi hak istimewa mereka .

Mari kita simak penjelasan tentang apa itu hukuman dan konsekuensi?

Hukuman

Menjadikan siswa sebagai pihak yang tidak punya hak tawar menawar dan tidak berdaya. Guru menjadi pihak yang sangat berkuasa. Ingat “Power tends to corrupt”
Jenisnya tergantung guru, apabila hati guru sedang senang maka siswa terlambat pun tidak akan dikunci diluar.
Bisa dijatuhkan berlipat-lipat derajatnya terutama bagi siswa yang sering melanggar peraturan.
Guru cenderung memberi cap buruk bagi anak yang sering melanggar.
Sifatnya selalu berupa ancaman
Tidak boleh ada pihak yang tidak setuju, semua pihak harus setuju. Jadi sifatnya memaksa.

Konsekuensi

Dijatuhkan saat ada perbuatan yang terjadi dan berdasarkan pada aturan yang telah disepakati.
Sesuai dengan perilaku pelanggaran yang siswa lakukan.
Menghindari memberi cap pada anak, dengan memberi cap jelek akan melahirkan stigma pada diri anak bahwa ia adalah pribadi yang berperilaku buruk untuk selama-lamanya.
Membuat siswa bertanggung jawab pada pilihannya. Anda bisa mengatakan “Kevin kamu memilih untuk ribut pada saat buk guru sedang menerangkan maka silahkan duduk di luar selama 5 menit”. Dengan demikian anda menempatkan harga diri anak pada peringkat pertama. Bandingkan dengan perkataan ini “Kevin, dasar kamu anak tidak tahu peraturan,…. tukang ribut! Sana keluar….!

Sumber: https://www.seputarpengetahuan.co.id/