Jenis-jenis Membaca

Jenis-jenis Membaca

Jenis-jenis Membaca
Jenis-jenis Membaca

1. Membaca Nyaring dan Membaca dalam Hati

Membaca nyaring merupakan suatu aktivitas atau kegiatan yang digunakan sebagai alat bagi guru, murid ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan seorang pengarang (Tarigan 2008:23).
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah :
a. menggunakan ucapan yang tepat,
b. menggunakan frase yang tepat,
c. menggunakan intonasi suara yang wajar,
d. dalam posisi sikap yang baik,
e. menguasai tanda-tanda baca,
f. membaca dengan terang dan jelas,
g. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif,
h. membaca dengan tidak terbata-bata,
i. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya,
j. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya,
k. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan,
l. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.
Membaca nyaring merupakan proses mengkomunikasikan isi bacaan (dengan nyaring) kepada orang lain. Karena tujuan utamanya mengkomunikasikan isi bacaan, maka si pembaca bukan hanya dituntut harus mampu melafalkan dengan suara nyaring lambing-lambang bunyi bahasa saja, melainkan juga dituntut harus mampu melakukan proses pengolahan agar pesan-pesan atau muatan makna yang terkandung dalam lambing-lambang bunyi bahasa tersebut dapat tersampaikan secara jelas dan tepat oleh orang-orang yang mendengarnya.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/mukadimah/

2. Membaca Ekstensif dan Membaca Intensif

Membaca ekstensif adalah membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Membaca ekstensif sering disinonimkan dengan membaca cepat. Tujuan membaca cepat adalah untuk memperoleh banyak pemahaman dari bacaan.
Membaca ekstensif ada 3 :

a. Membaca Survai

Membaca survai adalah kegiatan membaca untuk mengetahui secara sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih mendalam. Tujuan membaca survai adalah untuk mengetahui anatomi buku, gambaran umum isi buku, dan mutu buku. Anatomi buku adalah bagian-bagian buku yang meliputi pendahuluan, isi, dan penutup.

Yang dilakukan seseorang ketika membaca survai adalah sebagai berikut :
(a) memeriksa judul bacaan/buku, kata pengantar, daftar isi dan malihat abstrak(jika ada),
(b) memeriksa bagian terahkir dari isi (kesimpulan) jika ada,
(c) memeriksa indeks dan apendiks(jika ada).

b. Membaca Sekilas (Skimming)

Membaca sekilas adalah kegiatan membaca dengan mengandalkan kecepatan gerak mata dalam melihat dan memperhatikan bahan tertulis yang dibacanya dengan tujuan untuk mendapatkan informasi secara cepat.
Teknik membaca skimming digunakan dengan lima tujuan, yaitu mengenal topik bacaan, opini, bagian penting, organisasi bacaan, penyegaran, dan memperoleh kesan umum (Harjasujana dan Mulyati !((&:64-64, Soedarsono 2004:88-89, Widyamartaya 2004:44, dan Tarigan 1994:32)
Metode yang digunakan dalam melatihkan membaca cepat adalah :
(a) metode kosakata; metode yang berusaha untuk menambah kosakata.
(b) Metode motivasi; metode yang berusaha memotivasi pembaca(pemula) yang mengalami hambatan.
(c) Metode gerak mata; metode yang mengembangkan kecepatan membaca dengan menigkatkan kecepatan gerak mata.

Hambatan-hambatan yang dapat mengurangi kecepatan mambaca :
(a) vokalisai atau berguman ketika membaca,
(b) membaca dengan menggerakan bibir tetapi tidak bersuara,
(c) kepala bergerak searah tulisan yang dibaca,
(d) subvokalisasi; suara yang biasa ikut membaca di dalam pikiran kita,
(e) jari tangan selalu menunjuk tulisa yang sedang kit abaca,
(f) gerakan mata kembali pada kata-kata sebelumnya.

c. Membaca Dangkal (Superficial Reading)

Membaca dangkal pada dasarnya merupakan kegiatan membaca untuk memperoleh pemahaman yang dangkal atau tidak terlalu mendalam dari bahan bacaan yang dibaca. Membaca jenis ini biasanya dilakukan bila pembaca bermaksud untuk mencari kesenangan atau kebahagiaan. Oleh karena itu, jenis bacaannya pun betul-betul merupakan jenis bacaan ringan.. Misalnya, majalah, novel, cerpen dan sebagainya. Membaca dangkal ini dilakukan dengan santai.

Membaca Intensif adalah membaca dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya kita kuasai. Tujuan membaca intensif adalah untuk memperoleh sukses dalam memahami penuh terhadap argumen-argumen yang logis, urutan-urutan pola-pola teks, pola simbolisnya, nada-nada tambahan yang bersifat emosional dan sosial, pola sikap dan tujuan pengarang, dan sarana linguistik yang dipergunakan (Tarigan 2008:37)

Membaca intensif meliputi:

a. Membaca teliti

Membaca teliti merupakan membaca yang dilakukan secara seksama. Membaca ini bertujuan untuk memahami secara detail gagasan yang terdapat dalam terks bacaan tersebut untuk melihat organisasi penulisan atau pendekatan yang digunakan oleh si penulis.

b. Membaca pemahaman

Membaca pemahaman adalah membaca yang dilakukan secara cermat yang digunakan untuk memperoleh pemahaman (sepenuhnya) atas suatu bahan bacaan. Tujuan membaca pemahaman adalah mencari dan memperoleh informasi yang mencakup pemahaman terhadap isi dan makna bacaan.

c. Membaca kritis

Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijakasana, mendalam, evaluatif, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antar baris, maupun makna balik baris.

Enam ciri membaca kritis :

1. Melibatkan kemampuan berpikir kritis
2. Tidak begitu saja menerima apa yang dikatakan penulis
3. Berusaha mencari kebenaran yang hakiki
4. Selalu terlibat dengan masalah gagasan dalam bacaan
5. Mengolah bahan bacaan, bukan mengingat
6. Menggunakan hasil baca untuk diingat dan diterapkan, bukan dilupakan
d. Membaca ide atau kreatif

3. Membaca Bahasa dan Sastra

Membaca bahasa adalah membaca yang mengutamakan bahasa bacaan (Soedjono 1983:109). Tujuan membaca bahasa adalah memperbesar daya kata dan mengembangkan kosakata. Dalam memperbesar daya kata, pembaca perlu mempunyai pengetahuan tentang linguistik.
Membaca sastra adalah kegiatan membaca karya-karya sastra, baik kepentingan apresiasi, maupun kepentingan studi atau pengkajian. Apabila seseorang dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra.