Kedudukan Khulu

Kedudukan Khulu

 

Kedudukan Khulu
Kedudukan Khulu

Menurut mazhab Umar, Ustman dan Ali RA dan jumhur fuqaha

bahwa khulu termasuk talak, seperti halnya pendapat Abu Hanifah dan Al-Muzanniy mempersamakan khulu dengan talak. Sedang Imam Syafi’i berpendapat bahwa khulu termasuk fasakh di dalam qaul qadimnya.[50] Demikian juga pendapat Imam Ahmad dan Daud, serta Ibnu Abbas dari kalangan sahabat. Imam Syafi’i juga meriwayatkan bahwa khulu merupakan kata sindiran. Jadi jika dengan kata kinayah tersebut menghendaki talak, maka talak pun terjadi, dan jika tidak maka menjadi fasakh. Akan tetapi dalam qaul jadidnya dikatakan bahwa khulu itu adalah talak.

Jumhur fuqaha yang berpendapat bahwa khulu adalah terbagi dua lafazh yaitu Sharih dan kinayah. Lafaz sharih menjadikannya sebagai talak bain tanpa niat karena apabila suami dapat merujuk isterinya pada masa iddah maka penebusannya tidak berarti lagi, sedangkan kinayah jatuh talak bain dengan disertai niat.

Abu Tsaur berpendapat

apabila khulu tidak menggunakan kata-kata talak, maka suami tidak dapat merujuk isterinya. Sedang apabila khulu menggunakan kata talak, maka suami dapat merujuk isterinya. Fuqaha yang menganggap khulu sebagai talak mengemukakan alasan bahwa fasakh itu merupakan perkara yang menjadikan suami sebagai pihak yang kuat dalam pemutusan ikatan perkawinan dan yang bukan berasal dari kehendaknya. Sedang khulu ini berpangkal pada kehendak ikhtiyar. Oleh karena itu khulu bukan fasakh. Fuqaha yang tidak menganggap khulu sebagai talak mengemukakan alasan bahwa dalam Al-Qur’an mula-mula Allah SWT menyebutkan tentang talak, maka firmannya, “Talak yang dapat dirujuk dua kali”. Kemudian Allah menyebutkan tentang khulu dengan firmannya, “Jika si suami mentalaknya (sesudah taklak yang kedua, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia menikah lagi dengan suami yang lain.”(Al-Baqarah: 230). Jika tebusan tersebut adalah talak, berarti isteri tidak halal lagi bagi suami kecuali bila ia sudah menikah lagi dengan suami yang lain, menjadi talak yang keempat.

Adapun fuqaha yang menentang pendapat ini mengatakan bahwa ayat di atas memuat kedudukan tebusan sebagai sesuatu yang dipersamakan dengan talak, bukan hal yang berbeda dengan talak. Kesimpulannya Jadi perbedaan pendapat tersebut disebabkan, apakah berkaitannya harta pengganti pada pemutusan ikatan perkawinan karena talak kepada jenis pemutusan perkawinan karena fasakh, atau tidak dapat.

Dalam kompilasi Pasal 119 disebutkan

1. Talak bain sughraa adalah talak yang tidak boleh dirujuk tapi boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam masa iddah.
2. Talak bain sughraa sebagaimana tersebut pada ayat 1 adalah :
a. Talak yang terjadi qabla dukhul
b. Talak dengan tebusan atau khulu
c. Talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama

Sumber: www.dutadakwah.org