Kultur Rotifera

Kultur Rotifera

Rotifera merupakan primary consumer dalam rantai makanan udang dan ikan. Brachionus plicatilis adalah spesies dari golongan rotifera yang sekarang dikultur dan digunakan sebagai salah satu pakan pertama kali untuk larva udang dan ikan. Brachionus plicatilis merupakan salah satu rotifera yang diklasifikasikan kedalam filum Trochelminthes, kelas Rotatoria/Rotifera, ordo Notommatida/Monogonata, famili Brachioninae, genus Brachionus.
Kultur rotifera dilakukan di dalam bak beton berukuran 6-8 m3. Cara kultur rotifera tersebut sebagai berikut.
·         Bak diisi Chlorella sp.yang siap dipanen (usia minimum empat hari) sebanyak sepertiga dari ukuran volume bak.
·         Setelah itu, bak ditebari bibit rotifera dengan kepadatan awal sekitar30 individu/ml.
·         Setiap hari pada pagi dan sore hari diisi dengan Chlorella sp. sampai volumenya 6-8 m3.
·         Pemanenan rotifera menggunakan metode panen harian (setiap hari dipanen sebanyak 30%). Bisa juga dipanen total dengan plankton net ukuran 60 mikron setelah usia kultur minimum empat hari atau kepadatannya telah mencapai 100-150 individu/ml.
·         Yeast roti dapay diberikan setiap hari sebanyak 0,2 gram/ m3 sebagai sumber vitamin B sehingga dapt meningkatkan pertumbuhan rotifera. Bahan komersial lain yang dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan rotifera adalah protein selco.

Kultur Artemia

Artemia atau brine shrimp  adalah sejenis udang primitif yang termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Crustacea, ordo Anostraca, famili Artemidae, genus Artemia. Dari genus Artemia dikenal beberapa spesies, antara lain Artemia salina, A. franciscana, A.urmiana, A. parthenogenetika, A. tunisiana, A. persimilis, A. monica, dan A. dessensis.
teknik penetasan artemia terdapat 2 cara yakni:
a. Cara Pertama
·         Artemia direndam di dalam air laut selama 15-30 menit kemudian diberi aerasi selama 18-24 jam. Perendaman dilakukan di dalam ember yang bervolume 10 liter.
·         Aerasi diangkat dan dibiarkan selama 10 menit. Artemia yang telah menetas berada di bawah dan cangkangnya berada dipermukaan. Setelah menetas, artemia segera dipanen dengan cara disifon.
b. Cara Kedua
·         Mencampur klorin (NaHCO3) cair dengan artemia yang telah direndam kemudian diaduk selama 5-10 menit hingga kulit luar artemia menipis
·         Artemia dicuci dengan air laut hingga bersih dan tidak berbau klorin.
·         Setelah itu, artemia diberi aerasi selama 18-24 jam dan dipanen. Biasanya, artemia yang baru menetas akan berenang ke permukaan air, sementara kotoran (kulit cacing) berada di dasar perairan.