Pakan Alami

Pakan Alami

Pakan alami digolongkan menjadi dua, yakni plankton hewani (zooplankton) dan plankton nabati (fitoplankton). Contoh zooplankton adalah rotifera dan artemia, dan contoh fitoplankton adalah chlorella. Untuk mendapatkan pakan alami secara berkesinambungan dan memenuhi syarat kualitas maupun kuantitas diperlukan perencanaan produksi sesuai dengan jenis pakan alami.

Kultur Chlorella sp.

Klorela (Chlorella) adalah jenis alga hijau renik bersel tunggal (unicelluler) yang dialam merupakan plankton tumbuhan (fitoplankton). Klorela diklasifikasikan ke dalam filum Chlorophyta, kelas Chlorococcales (Protococcales), famili Chlorellacea dan genus Chlorella.
di dalam pembenihan ikan skala rumah tangga, mengulturkan atau membudidayakan chlorella di laboratorium dan secara semimasal biasanya tidak dilakukan. Bibit chlorella dapat diperoleh dari pembenihan skala besar (lengkap). Namun, jika memungkinkan, disarankan membuat laboratorium pakan alami yang sederhana. Ruangan yang digunakan tidak perlu terlampau luas, cukup 3 x 3 m, tetapi hasilnya justru lebih baik karena kualitas dan kontinuitas chlorella yang diperlukan dapat terjaga.
a. Kebutuhan Pupuk Untuk Kultur Chlorella
Kebutuhan pupuk untuk kultur skala semimasal dan skala massal yakni :
Bahan-bahan :
·         Urea                            : 40 ppm
·         ZA                               : 30 ppm
·         SP-36                          : 30 ppm
·         EDTA                          : 5 ppm
·         FeCl                          : 2 ppm
·         Kaporit                         : 10 ppm
·         Na-Thiosulfat              : 5 ppm
Catatan :         – komposisi pupuk tersebut tergantung dari komposisi air laut di lokasi kultur.
                        – jumlah dan dosis pupuk yang diperlukan dapat dihitung berdasarkan ukuran bak kultur
b. Cara Kultur Skala Massal
Kultur skala masal merupakan kelanjutan dari kultur skala semimassal yang digunakan dalam wadah bak beton yang berukuran minimal 10 m3. Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk massal.
·         Bak dan aerasi yang digunakan untuk kultur dibersihkan dengan kaporit agar bebas dari kotoran dan organisme lain yang mengganggu selama proses kultur berlangsung.
·         Air laut dengan salinitas 30-35 ppt diberi kaporit sebanyak 10 ppm kemudian dibiarkan sekitar 12 jam dan diberi aerasi yang kuat. Setelah itu, air laut dinetralkan dengan natrium thiosulfat 5 ppm.
·         Bibit yang digunakan sebanyak 20 persen dari total volume air dengan kepadatan awal kultur 1-2 juta sel/ml.
·         Pemanenan dilakukan setelah kultur berumur 6-8 hari atau tingkat kepadatannya mencapai 10-16 juta sel/ ml. Panen Chlorella sp. dapat dilakukan dengan menggunakan pompa kemudian dialirkan ke dalam bak pemeliharaan larva atau diendapkan dengan larutan NaOH 300 ppm, dibiarkan 4-6 jam. Endapan Chlorella sp. itu di tampung d dalam ember, kemudian dapat dimasukkan ke dalam bak larva sebagai pakan rotifera atau sebagai bibit untuk kultur massal.