Pakan Buatan

Table of Contents

Pakan Buatan

Agar tidak terjadi malnutrisi pada larva, maka pemberian pakan buatan harus dilakukan sedini mungkin. Pakan buatan dapat juga berdampak negative terhadap kualitas air akibat dari pembusukan sisa pakan. Disarankan untuk memberikan pakan buatan dimulai pada saat larva berumur D12. Karena larva lebih suka memangsa pakan hidup (rotifer/artemia), maka sebaiknya pemberian pakan buatan dikombinasikan dengan pakan hidup.

selama masa pertumbuhan larva, pakan buatan diberikan berdasarkan ukuran partikelnya. Pakan buatan dapat dibeli di kios pakan dan peralatan pembenihan ikan. Jenis pakan buatan yang tersedia dipasaran antara lain NRD (Inve), Lanzy MB (Inve), ADP (White Crane), RDN (Radiance), Love larva, dan MB1/2 (Riken).

Pemberian Pakan

  1. Pemberian Chlorella

Bak penampungan chlorella diletakkan di atas bak pemeliharaan larva. Perlengkapan aerasi dimasukkan dalam bak penampungan disertai selang aerasi untuk mengalirkan chlorella ke bak pemeliharaan larva. Ujung pipa spiral tersebut dihisap sampai chlorella tersebut mengalir. Ujung pipa tersebut dimasukkan kedalam bak pemeliharaan larva dengan system gravitasi.

  1. Pemberian Rotifer

Rotifer disaring dan dimasukkan ke dalam ember. Rotifer ditebar merata ke dalam bak pemeliharaan dengan hati- hati.

  1. Pemberian Artemia

Artemia diambil dari ember pemeliharaan volume 50 liter dan di masukkan  ke dalam ember volume 12 liter. Artemia di bagikan merata ke dalam bak pemeliharaan dengan hati- hati.

  1. Pemberian Pakan Buatan

Pakan buatan dimasukkan ke dalam botol pakan. Pakan buatan disemprotkan ke permukaan air bak pemeliharaanSedangkan menurut Hamka (2009), Cara pemberian pakan buatan dilakukan dengan cara menabur pakan sedikit demi sedikit memakai tangan. Sesuai dengan perkembangan larva, ukuran pakan buatan disesuaikan dengan ukuran larva dan jumlah yang diberikan perhari disesuaikan dengan kemapuan larva memangsanya.

2.4.4. Frekuensi dan Waktu Pemberian Pakan

  1. Rotifera(Branchionus sp.)

Rotifera diberikan pada saat larva berumur 2 hari, yaitu pada saat kuning telur habis sebanyak 3 – 5 ind/ml dan diberikan pada sore hari. Pemberian  rotifera dengan  kepadatan 3 – 5 ind/ml ini terus dipertahankan  sampai  D-30 dan diberikan 3 kali sehari (pagi, siang, dan sore).

Rotifera tersebut di tambahkan chlorella hingga mencapai volume 200 liter dan bak tersebut diberi aerasi sedang. Sebelum rotifera diberikan, dilakukan pengkayaan (enrichment) dengan beberapa jenis bahan pengkaya misalnya scout emulsion atau selco 0,025 ppm, RDN HUFA 0,5 ppm, Vitamin C 1000 0,025 ppm dan permasol 0,025 ppm.

  1. Artemia

Naupli artemia mulai diberikan pada saat larva berumur 14 – 16 hari. Naupli artemia diberikan 2 kali sehari sampai larva berumur 20 hari dan 2 – 3 kali sehari mulai umur 21 – 30 hari sebanyak 1 – 3 ind/ml. Mulai umur 31 – 45 hari naupli artemia diberikan sebanyak 3 kali sehari sebanyak 3 – 10 ind/ml.

Pemberian pakan dengan artemia dilakukan setelah larva memakan pakan buatan, Yaitu 5 – 7 hari setelah larva makan pakan buatan atau setelah  larva berumur D15. Untuk memacu agar larva lebih banyak memakan pakan buatan, pakan artemia diberikan hanya sekali pada sore hari dan diberikan hingga larva berumur D30. Kepadatan artemia tidak dapat ditentukan dengan pasti, sebagai patokan adalah apabila larva diberi pakan artemia dalam waktu satu jam harus habis, tidak ada lagi yang tersisa dalam air pemeliharaan larva. Artemia yang tersisa akan dimakan larva pada keesokan harinya dan akan berakibat malnutrisi pada larva.

Baca juga: