Penebaran Larva

Penebaran Larva

setelah tiba di hatchery, telur harus diaklimatisasi selama 10 – 20 menit dengan cara memasukkan kantong plastik ke dalam bak pemeliharaan larva. Selanjutnya telur direndam dengan larutan iodin dengan dosis 20 ppm selama 15 – 20 menit sebagai desinfektan. Setelah proses perendaman, telur dicuci dengan air laut selama lebih kurang 5 menit dan telur siap ditebar. Kepadatan telur sekitar 10 butir telur/liter, telur kerapu akan menetas antara 17 – 19 jam setelah pemijahan pada suhu 27 – 29°C dengan panjang badan total 1,69 – 1,79 mm.

Penebaran larva sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena pada sore hari ikan mulai makan dan juga mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi pada tempat yang baru sebelum malam. Padat penebaran telur antara 30 – 50 butir/lt dengan panjang larva berukuran 1,69 – 1,79, sedangkan padat tebar larva 40 ekor/liter yang memberikan tingkat kelulusan hidup lebih baik pada masa pemeliharaan umur 1 – 15 hari dan 10 ekor/lt untuk masa pemeliharaan larva umur 15 – 30 hari.

Perkembangan Larva

Telur kerapu akan menetas dan berubah menjadi larva setelah 17-25 jam dari pemijahan. Larva yang berumur 1 hari (D1) sampai D2 berwarna putih transparan bersifat planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatan belum berfungsi, serta masih mempunyai kuning telur (yolk egg) sebagai cadangan makanan sehingga larva belum membutuhkan pakan tambahan.

Pada saat larva berumur D3 cadangan makanan atau kuning telur sudah terserap habis, mulut dan sistem penglihatan sudah mulai berfungsi sehingga larva membutuhkan pakan dari luar tubuhnya. Karakteristik lainnya yaitu adanya bintik hitam (pigmen melanofor) pada bagian dorskal. Bintik hitam tersebut juga dapat dijadikan indikasi pertumbuhan, bila bintik semakin membesar berarti larva mau memangsa pakan yang tersedia secara optimal sehingga mampu melewati fase kritis awal dan sebaliknya bintik hitam semakin kecil berarti larva tidak mau makan, biasanya larva hanya mampu bertahan hidup sampai umur D6-D7. Pada larva umur D6, bakal sirip punggung (spina dorsalis)  dan sirip perut (spina ventralis) mulai tampak berupa tonjolan, umur D9 spina sudah terlihat jelas. Pertambahan panjang spina berlangsung sampai larva berumur D20, dan selanjutnya akan mereduksi menjadi duri keras pertama pada sirip dorsal dan sirip perut. Mereduksinya spin sampai umur D30 diikuti dengan bertambah panjangnya tubuh larva menjadi ikan muda yang berwarna putih transparan sampai umur D35, dan selanjutnya ikan muda mengalami perubahan warna (pigmentasi) yang sama seperti ikan dewasa.

2.3.7. Fase Kritis

ditemukan fase-fase kritis yang harus diperhatikan agar tingkat kematian larva bisa ditekan sekecil mungkin. Fase-fase kritis tersebut sebagai berikut.

  1. Fase Kritis I

Terjadi pada umur D3 – D7, persediaan kuning telur sebagai cadangan makananya telah terserap habis. Bukaan mulut larva juga masih terlalu kecil untuk memangsa pakan seperti rotifera. Sementara itu, organ pencernaannya belum berkembang sempurna sehingga belum dapat memanfaatkan pakan yang tersedia secara maksimal.

  1. Fase Kritis II

Kematian larva terjadi pada umur D10 sampai dengan D12. Pada saat itu, spina calon sirip punggung dan sirip dada mulai tumbuh semakin panjang. Pada fase ini kebutuhan nutrisinya lebih komplit. Pakan yang diberikan masih sama dengan fase sebelumnya.

  1. Fase Kritis III

Kematian larva terjadi pada berumur D21 sampai dengan D25 ketika terjadi metamorfosis, yakni pada saat spina tereduksi menjadi tulang sirip punggung dan sirip dada pada kerapu muda.

  1. Fase Kritis IV

Pada fase ini, benih berumur lebih dari 35 hari. Sifat kanibalnya sudah mulai tampak. Benih yang ukurannya lebih besar akan memangsa yang lebih kecil.

Baca juga: