Pengertian Masādir Al-Ahkām

 Pengertian Masādir Al-Ahkām Pengertian Masādir Al-Ahkām

Istilah sumber hukum biasa dipakai dalam hukum umum dalam pengertian ‘segala yang menimbulkan aturan- aturan, yang apabila dilanggar mengkibatkan sanksi yang tegas. Sumber, dalam bahasa arab disebut Masdar kata jamaknya ialah Masādir. Kata masdar sendiri, menurut pengertian kebahasaan mengandung pengertian antara lain: Asal atau permulaan sesuatu, sumber, tempat munculnya sesuatu.[44] Al Raghib, pakar leksikografi Alqur`an mengatakan bahwa kata masdar dapat bermakna ‘tempat dimana air muncul, atau sumber air yang biasa disebut mata air. Mata air disebut sebagai masdar, karena sebagai sumber tempat munculnya air.[45] Wacana tersebut kemudian dipakai sebagai istilah ushul fiqih, sehingga menjadi Masdar Al-hukm (sumber hukum) atau dalam bentuk jamak masādir al-Ahkām (sumber- sumber hukum).

Jika kata masdar (sumber) ditempatkan dalam lapangan hukum, maka dalam pengertian ini, hanya Alqur`an dan Sunnah yang menjadi masādir al-Ahkām. Pengertian demikian didukung oleh adanya kesepakatan pendapat dikalangan para ulama bahwa Allah adalah sebagai Syari’ (pencipta atau penentu syariat) atau Hakim (pencipta atau penentu hukum) satu- satunya. Untuk itu, mereka membuat suatu rumusan (kaidah): إِنِ الْحُكْمُ اِلاَّ الله

“menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah (Al an`am :57)”[46]

Jadi, sebenarnya segenap hukum itu berasal dari Allah. Dengan demikian, yang menjadi rujukan segenap dalil hukum adalah Alqur`an. Sunnah Rasulullah hanya berfungsi sebagai penjelas dan pemberi keterangan atas Alqur`an. Dengan demikian, yang menjadi sumber hukum dalam Islam ialah :

  1. Alquran

Secara etimologis, Alquran adalah masdar dari kata (قرا). Ada dua pengertian Alquran dalam bahasa Arab yaitu Qur’an berarti “bacaan” dan “apa yang tertulis padanya”.[47] Dari segi terminologis, ulama ushul fiqh memberikan defenisi sebagai berikut:

كَلاَمُ اللهِ تَعَلى الْمُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَفْظِ الْعَرَبِيِّ الْمَنْقُوْلِ إِلَيْنَا بِالتَّوَاتُوْرِ, الْمَكْتُوْبُ بِالْمَصَاحِفِ الْمُتَعَبَّدُ بِتِلاَوَتِهِ , الْمَبْدُوْءِ بِالْفَاتِحَةِ وَالْمَخْتُوْمُ بِسُوْرَةِ النَّاسِ.

Kalam allah, mengandung mukjizat dan diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad SAW, dalam bahasa yang dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir, membacanya merupakan ibadah, terdapat dalam mushaf, dimulai dari surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Nas”.[48]

Kaum muslim telah sepakat menerima keautentikan Alquran, karena Alquran diriwayatkan secara mutawatir. Oleh sebab itu, Alquran dipandang sebagai qat’i al-Subūt (riwayatnya diterima secara pasti). Bertolak dari prinsip demikian, segenap kaum muslim sepakat menerima Alquran sebagai dalil atau sumber hukum yang paling asasi. Alquran sendiri memerintahkan agar menetapkan hukum atas dasar hukum Allah yang termaktub di dalamnya.

  1. Sunnah

Secara etimologis, (سنة) berarti “jalan yang biasa dilalui” atau “cara yang senantiasa dilakukan” apakah cara itu sesuatu yang baik atau yang buruk. Pengertian sunnah secara etimologis ditemukan dalam sabda Rasulullah yang berbunyi:

Sumber :

https://duniabudidaya.co.id/android-8-1-otomatis-perbarui-simpanan-data/