Penguasa Daulah Fatimiyah

Penguasa Daulah Fatimiyah

 

Penguasa Daulah Fatimiyah
Penguasa Daulah Fatimiyah

Mu’iz Lidinillah (965-975 M)

Ketika al-Manshur meninggal, putranya yang bernama Abu Tamim Ma’ad menggantikan kedudukannya sebagai khalifah dengan bergelar Mu’iz Lidinillah. Penobatan Mu’iz sebagai khalifah keempat menandai era baru Daulah Fatimiyah, banyak keberhasilan yang dicapainya. Pertama kali ia menerapkan untuk mengadakan peninjauan ke seluruh penjuru wilayah kekuasaannya untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya Mu’iz menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh demi terciptanya keadilan dan kemakmuran. Ia menghadapi gerakan pemberontakan secara tuntas hingga mereka bersedia tunduk dalam kekuasaan Mu’iz. Mu’iz menempuh kebijakan damai terhadap para pimpinan dan gubernur dengan menjanjikan penghargaan kepada mereka yang menunjukkan loyalitasnya. Oleh karena itu, dalam tempo singkat masyarakat seluruh negeri mengenyam kehidupan yang damai dan makmur.

Penaklukan Mesir merupakan cita-cita terbesar gerakan ekspansi Mu’iz, ia telah lama menanti datangnya kesempatan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Maka ketika Mesir dilanda kerusuhan serius pada tahun 968 M, Mu’iz segera memerintahkan Jauhar untuk mengerahkan menaklukkan Mesir. Pada tahun 969 M, Jauhar berhasil menduduki Fustat tanpa suatu perlawanan. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasan Dinasti Ihsidiyah di Mesir, dan Mesir memasuki era baru di bawah kekuasaan Daulah Fatimiyah. Jauhar segera membangun kota Fustat menjadi kota baru dengan nama Qahirah (Kairo). Semenjak tahun 973 M kota in dijadikan sebagai ibu kota pemerintahan Daulah Fatimiyah. Selanjutnya Mu’iz mendirikan Masjid al-Azhar, masjid ini oleh Khalifah al-Aziz dijadikan sebagai pendidikan tinggi al-Azhar yang berkembang di masa sekarang ini bermula dari pendidikan tinggi ini.

Khalifah Mu’iz meninggal pada tahun 975 M, ia merupakan khalifah yang terbesar, ia adalah pendiri Daulah Fatimiyah di Mesir. Kecakapannya sebagai negarawan terbukti oleh perubahan Fatimiyah sebagai dinasti kecil menjadi imperium besar. Menurut Sayid Amir Ali, ketenaran Mu’iz dalam bidang pendidikan dan pengetahuan sebanding dengan Khalifah al-Makmun, yang berhasil membawa kemakmuran dan kemajuan peradaban Afrika Utara. Mu’iz bukan saja orang yang berpendidikan tinggi tetapi pandai di bidang syair dan kesusastraan Arab, ia juga menguasai beberapa bahasa dan fasih berpidato.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/doa-sebelum-belajar/

Al-Aziz (975-996 M)

Nama lengkapnya Abu Manshur Nizar al-Aziz. Ia berkuasa dari 975 hingga 996 M. Di bawah pemerintahannya, Daulah Fatimiyah mencapai kejayaannya. Al-Aziz tidak saja mampu menciptakan kemakmuran dan ketentraman namun menempatkan Daulah Fatimiyah sebagai kekhalifahan besar hingga mampu menenggelamkan nama besar Daulah Abbasiyah. Tak tanggung-tanggung, al-Aziz mengalokasikan dana dua juta Dinar guna membangun istananya untuk menyaingi istana Abbasiyah di Baghdad. Istana dibangun sangat megah dengan berbagai hiasan dan ornament yang sangat indah. Istana juga dilengkapi dengan air mancur yang dapat mendinginkan lingkungan istana. Karya terbesarnya adalah mengembangkan masjid al-Azhar menjadi universitas.

Usahanya yang tak kalah penting adalah membangun kerukunan antar umat beragama. Di samping memberikan kebebasan kepada warga Sunni menjalankan keyakinannya, al-Aziz juga memberikan kebebasan beragama kepada warga Nasrani. Al-Aziz juga membangun kanal-kanal guna mengairi tanah pertanian dan membangun jembatan guna memudahkan perpindahan barang dan orang. Usaha ini dimaksudkan untuk mengembangkan dan memajukan perekonomian Negara. Hubungan dagang dengan negeri-negeri lain juga dibangun. Masyarakat didorong menghasilkan produk industri dan seni yang kompetitif. Untuk menjadikan Mesir sebagai kota perdagangan dunia, dibangunlah pasar dengan 20.000 toko. Di hampir setiap sudut kota dibangun sejumlah pemandian umum guna menciptakan kebersihan dan keindahan kota.

Al-Aziz juga dikenang dengan jasanya mereformasi sistem pemerintahan. Para wazir dibagi menjadi dua kelompok, yakni militer dan sipil. Militer bertanggung jawab terhadap keamanan istana, urusan tentara, perang, dan pengawal. Sedangkan sipil memimpin urusan hakim, ekonomi, urusan rumah tangga istana, keuangan dan ketua dakwah.

Al-Hakim (996-1021 M)

Pada saat diangkat khalifah usianya baru menginjak 11 tahun sehingga kekuasaannya banyak dijalankan oleh para wazir. Al-Hakim memberikan kontribusi positif bagi kebesaran Daulah Fatimiyah. Dia membangun Dar al-Hikmah sebagai lembaga pengajaran dan pengembangan ilmu astronomi dan kedokteran. Al-Hakim juga membangun Dar al-Ilm, sebuah lembaga yang mengoleksi jutaan buku dalam berbagai disiplin ilmu. Tidak kurang dari 257 Dinar digelontorkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Pada masa ini, muncul Ibnu Yunus, seorang astronom besar uang menemukan pendulum dan alar ukur waktu.
Namun al-Hakim juga dinilai sebagai Khalifah Fatimiyah yang memulai menghancurkan Daulah Fatimiyah dengan beberapa kebijakannya yang kejam dan tidak toleran. Ia membunuh beberapa wazirnya dan menghancurkan beberapa gereja Kristen. Bahkan kuburan suci umat Kristen juga ikut dihancurkan. Tidak berhenti sampai disitu, toleransi beragama yang sudah mulai berkembang dipupuskan dengan aturan yang membatasi, non-muslim hanya boleh menunggang keledai, non-muslim juga harus menandai dirinya dengan memakai jubah hitam serta mengenakan salib yang dikalungkan di leher untuk orang Nasrani dan tenggala berlonceng untuk orang Yahudi.